Singgah di Lapak Takjil, Ketua DPRK Soroti Nilai Budaya Leumang

Foto | Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Sabang, Magdalaina, terlihat singgah di salah satu penjual leumang, kuliner tradisional khas Aceh yang identik dengan suasana bulan suci (24/02)

Sabang.AGN — Menjelang waktu berbuka puasa, kawasan SP Garuda di Kota Sabang dipadati warga yang berburu takjil. 

Di antara deretan lapak sederhana yang menjajakan aneka kudapan Ramadan, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Sabang, Magdalaina, terlihat singgah di salah satu penjual leumang, kuliner tradisional khas Aceh yang identik dengan suasana bulan suci, Selasa (24/02/2026).

Magdalaina menyempatkan diri berbincang dengan Suryati, pedagang leumang yang rutin berjualan setiap Ramadan. Di atas meja kayu, potongan leumang yang masih hangat tersusun rapi, sementara pembeli datang silih berganti. Kehadiran Ketua DPRK di tengah aktivitas warga itu menjadi gambaran kedekatan wakil rakyat dengan denyut kehidupan masyarakat.

Menurut Magdalaina, leumang bukan sekadar hidangan pembuka puasa, melainkan bagian dari identitas budaya Aceh yang perlu terus dijaga. Tradisi kuliner, kata dia, merupakan warisan sosial yang merekatkan hubungan antargenerasi sekaligus memperkuat kebersamaan warga.

Ia pun mengenang pengalamannya saat pernah bermukim di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat. Di daerah itu, membakar leumang di depan rumah menjelang berbuka sudah menjadi pemandangan lazim. Asap tipis dari bambu yang dibakar dan aroma santan yang menguar menghadirkan suasana hangat yang sulit dilupakan.

Pengalaman tersebut, menurutnya, memperlihatkan bahwa tradisi kuliner lokal bukan hanya soal rasa, tetapi juga ruang interaksi sosial. Kebiasaan berkumpul dan membakar leumang bersama keluarga maupun tetangga menciptakan momen kebersamaan yang memperkuat ikatan sosial masyarakat.

Sebagai pimpinan lembaga legislatif daerah, Magdalaina menilai pelestarian tradisi juga menjadi bagian dari tanggung jawab moral bersama. DPRK, kata dia, mendukung berbagai upaya yang menjaga nilai budaya lokal agar tetap hidup di tengah arus modernisasi dan menjamurnya kuliner kekinian.

Sementara itu, Suryati mengaku bersyukur lapaknya ramai pembeli setiap sore Ramadan. Permintaan leumang, menurut dia, selalu meningkat karena banyak warga yang tetap mempertahankan menu khas tersebut sebagai sajian berbuka. Bahkan, sebagian pelanggan telah memesan sejak pagi hari.

Leumang sendiri dibuat dari beras ketan yang dicampur santan, dimasukkan ke dalam bambu berlapis daun pisang, lalu dibakar perlahan hingga matang. Proses tradisional yang memerlukan ketelatenan itu menghasilkan tekstur pulen dengan aroma khas yang sulit tergantikan.

Di tengah geliat pasar takjil SP Garuda sore itu, sepotong leumang menjadi lebih dari sekadar makanan. Ia hadir sebagai simbol warisan budaya, kebersamaan, dan identitas Aceh yang terus dijaga sebuah nilai yang, menurut Ketua DPRK Sabang, patut dirawat bersama oleh seluruh elemen masyarakat.[IR]

0 Komentar