Leumang Jadi Primadona Ramadan di Sabang

Foto | ist

Sabang.AGN — Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di kawasan Simpang Garuda, Kota Sabang, tampak lebih ramai dari biasanya, Senin (23/2/2026). Sejumlah warga terlihat memadati lapak pedagang leumang, kuliner tradisional berbahan dasar beras ketan yang dimasak dalam bambu.

Aroma santan bercampur asap bambu terbakar tercium kuat di sepanjang jalan. Batang-batang bambu disusun miring di atas bara api, diputar secara berkala agar ketan di dalamnya matang merata. Asap tipis mengepul, menjadi pemandangan khas yang hampir selalu hadir setiap Ramadan di kota paling barat Indonesia itu.

Salah seorang pedagang, Nurhayati (42), mengatakan penjualan leumang meningkat signifikan sejak awal Ramadan. Dalam sehari, ia mampu menjual 60 hingga 80 batang, tergantung jumlah pengunjung yang datang menjelang berbuka.

“Biasanya mulai ramai setelah pukul 16.30 WIB. Banyak yang beli untuk dimakan bersama keluarga di rumah,” katanya.

Menurut Nurhayati, proses pembuatan leumang membutuhkan waktu sekitar tiga jam. Beras ketan yang telah direndam dicampur santan dan sedikit garam, lalu dimasukkan ke dalam bambu yang sudah dialasi daun pisang. Setelah itu, bambu dibakar dengan kayu hingga ketan matang dan mengembang.

Leumang dijual dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 20.000 hingga Rp 35.000 per batang, tergantung ukuran. Pembeli biasanya menyantapnya bersama tapai ketan hitam atau hanya dengan taburan gula sebagai pelengkap berbuka puasa.

Kepala Disperindagkop dan UKM Kota Sabang, melalui Kabid Perdagangan, Muhammad Nasir mengatakan, banyaknya pilihan takjil modern seperti minuman segar kekinian dan aneka kue instan, leumang tetap bertahan sebagai kuliner tradisional yang dicari warga. Bagi sebagian masyarakat Sabang, kehadiran leumang bukan sekadar makanan berbuka, melainkan bagian dari tradisi Ramadan yang terus dijaga dari tahun ke tahun.

" Ini sydah menjadi tradisi turun-temurun, malah beda rasanya kalau tidak ada leumang pada saat puasa dan hari raya, ini sudah menjadi khasnya di Aceh," tutupnya.

0 Komentar