Lapak Daging Dipadati Warga, Meugang Sabang Tetap Ramai di Tengah Hujan

Foto | Salah satu pedagang daging Meugang di Sabang, Samsuar, saat menjajakan dagangannya kepada konsumen

Sabang.AGN – Tradisi meugang menyambut Ramadhan 1447 Hijriah di Kota Sabang tetap berlangsung meriah meski sempat diguyur hujan deras, Rabu (18/2/2026). Antusiasme masyarakat tak surut untuk membeli daging sebagai bagian dari tradisi turun-temurun masyarakat Aceh dalam menyambut bulan suci.

Tahun ini, sebanyak 60 ekor ternak dipotong untuk memenuhi kebutuhan warga. Jumlah tersebut terdiri dari 59 ekor sapi dan 1 ekor kerbau yang tersebar dalam dua kali pelaksanaan meugang.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang, Hariadi, merinci pada meugang pertama tercatat 33 ekor sapi dan 1 ekor kerbau disembelih. Sementara pada meugang kedua, sebanyak 26 ekor sapi dipotong.

“Total ada 60 ekor ternak yang disembelih untuk meugang Ramadhan tahun ini,” ujar Hariadi di Sabang.

Menurutnya, meskipun terjadi peningkatan permintaan, ketersediaan daging di pasaran masih mencukupi kebutuhan masyarakat. Harga daging pada meugang pertama dan kedua mengalami sedikit kenaikan dibanding hari biasa. Jika pada hari normal harga daging berada di kisaran Rp160 ribu per kilogram, saat meugang naik menjadi Rp170 ribu hingga Rp190 ribu per kilogram.

Kenaikan harga tersebut dinilai masih dalam batas wajar, mengingat tingginya permintaan masyarakat menjelang Ramadhan. Tradisi meugang memang identik dengan konsumsi daging sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur menyambut bulan puasa.

Hariadi memastikan seluruh daging yang beredar dalam kondisi aman dan layak konsumsi. Pihaknya melakukan pemeriksaan ketat terhadap ternak sebelum dan sesudah penyembelihan.

“Alhamdulillah ternak dalam kondisi sehat. Tidak ditemukan kasus fasciola hepatica atau cacing hati. Pemeriksaan kami lakukan mulai dari pengecekan surat kesehatan ternak hingga pemeriksaan organ dalam setelah disembelih,” jelasnya.

Selain memastikan kesehatan ternak, Dinas Pertanian dan Pangan juga memantau stabilitas harga bahan pokok (bapok) di pasaran. Secara umum, harga komoditas relatif stabil meski terdapat beberapa bahan yang mengalami kenaikan. Namun kondisi tersebut masih dianggap wajar karena meningkatnya permintaan menjelang hari besar keagamaan.

Tradisi meugang juga membuka peluang bagi pedagang musiman untuk berjualan daging di berbagai titik strategis. Pada meugang pertama tercatat 23 pedagang yang membuka lapak, sementara pada meugang kedua jumlahnya meningkat menjadi 26 pedagang.

Para pedagang tersebar di sejumlah lokasi, di antaranya Jalan Malahayati Gampong Kuta Barat, Gampong Cot Ba’U, Gampong Paya Seunara, serta Gampong Ie Meulee. Sejak pagi hari, aktivitas jual beli berlangsung ramai, dengan warga memadati lapak-lapak untuk mendapatkan daging terbaik.

Meski hujan deras sempat mengguyur wilayah Sabang, kondisi tersebut tidak mengurangi semangat masyarakat untuk menjalankan tradisi. Warga tetap datang bersama keluarga untuk berbelanja, mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan dalam budaya meugang.

Pelaksanaan meugang Ramadhan 1447 Hijriah di Kota Sabang pun berjalan tertib, aman, dan lancar. Tradisi ini kembali menjadi momentum mempererat silaturahmi dan memperkuat nilai kebersamaan masyarakat dalam menyambut bulan suci Ramadhan.[PIM]

0 Komentar