![]() |
| Foto | Teluk Sabang saat Sabang Marine Festival |
PARIWISATA bukan sekadar sektor unggulan bagi Kota Sabang. Lebih dari itu, pariwisata adalah urat nadi pembangunan yang menentukan bergerak atau tidaknya denyut ekonomi daerah.
Dari sektor inilah harapan tumbuh, lapangan kerja tercipta, dan wajah kota diperkenalkan ke dunia luar. Itulah pandangan mendasar yang terus digaungkan oleh Sofyan H Adam, tokoh masyarakat Kota Sabang yang juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kota Sabang, sosok birokrat berpengalaman yang hingga kini tetap konsisten memberikan gagasan strategis demi kemajuan daerah.
Menurut Sofyan, pembangunan pariwisata Sabang harus dimulai dari satu prinsip utama: memperbanyak orang datang ke Sabang. Bukan sekadar menata destinasi, bukan hanya memperindah kawasan wisata, tetapi memastikan bahwa arus kunjungan terus meningkat dari waktu ke waktu. Karena baginya, ukuran keberhasilan pariwisata bukan hanya pada fasilitas yang tersedia, melainkan pada ramainya manusia yang hadir, berinteraksi, dan berbelanja di Sabang.
“Pertanyaannya sederhana,” ujar Sofyan dalam sebuah diskusi. “Bagaimana caranya supaya orang mau datang ke Sabang? Dan bagaimana caranya supaya mereka ingin kembali lagi?”
Pariwisata Bukan Urusan Satu Dinas
Salah satu gagasan utama yang selalu ia tekankan adalah bahwa pariwisata tidak boleh dibebankan hanya kepada Dinas Pariwisata. Menurutnya, seluruh Satuan Kerja Perangkat Kota (SKPK) harus ikut ambil bagian dalam misi besar ini. Setiap instansi, apa pun bidangnya, harus mampu melahirkan kegiatan yang berdampak pada meningkatnya kunjungan ke Sabang.
![]() |
| Foto | Sofyan H Adam, tokoh masyarakat Kota Sabang |
“Tidak harus semua kegiatan itu berlabel pariwisata,” tegasnya. “Tetapi kegiatan itu harus punya daya tarik. Misalnya di bidang olahraga, jangan hanya buat event yang konsumsi orang Sabang saja. Buatlah event tingkat kabupaten, provinsi, bahkan nasional. Dengan begitu, orang datang, kota jadi ramai.”
Baginya, konsep ini sederhana namun strategis: event adalah magnet. Setiap kegiatan yang mampu menarik massa dari luar daerah akan secara otomatis menggerakkan roda ekonomi hotel terisi, rumah makan ramai, transportasi hidup, dan pelaku UMKM mendapat berkah.
Sabang Fair: Lebih dari Sekadar Festival
Sofyan menyambut baik rencana digelarnya kembali Festival Sabang Fair pada tahun 2026 yang akan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kota Sabang. Ia melihat festival ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan instrumen promosi paling efektif bagi daerah.
Ia mengingatkan bahwa pada masa lalu, Sabang Fair mampu mendatangkan hingga 20 ribu pengunjung, sebuah angka yang sangat signifikan bagi kota kecil seperti Sabang. Dampaknya bukan hanya pada sektor hiburan, tetapi juga pada promosi jangka panjang.
“Festival itu bukan hanya untuk mendatangkan orang saat acara berlangsung,” katanya. “Tetapi lebih dari itu, festival adalah etalase. Orang datang, melihat Sabang, lalu mereka bercerita di luar sana. Itulah promosi terbaik.”
Menurutnya, besarnya dampak festival memang sangat bergantung pada ketersediaan anggaran. Semakin besar dukungan dana, semakin besar pula skala dan durasi kegiatan. Namun, apa pun skalanya, Sabang Fair tetap harus dimaknai sebagai investasi promosi, bukan sekadar pengeluaran seremonial.
Menghijaukan Kota, Menghidupkan Daya Tarik
Tak hanya bicara soal event, Sofyan juga dikenal dengan gagasan-gagasan kreatif yang menyentuh aspek lingkungan. Salah satunya adalah ide menghijaukan Sabang dengan pohon buah. Menurutnya, kota yang hijau akan lebih menarik, apalagi jika penghijauan itu memberikan pengalaman unik bagi wisatawan.
![]() |
| Foto | Sofyan H Adam saat berada di area pegunungan |
Ia membayangkan jalur-jalur utama kota, termasuk kawasan sekitar Sabang Fair, ditanami pohon buah oleh setiap instansi. Tidak perlu anggaran besar, cukup memanfaatkan momentum gotong royong seperti Jumat Bersih.
“Bayangkan kalau satu dinas menanam tujuh pohon buah. Kita punya lebih dari 30 dinas. Berapa banyak pohon buah yang akan tumbuh? Kota jadi cantik, wisatawan datang bisa melihat, bahkan memetik,” ujarnya.
Konsep sederhana ini, menurut Sofyan, dapat menjadi ciri khas Sabang sebuah kota wisata yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga memberi pengalaman berbeda bagi pengunjung.
Promosi Digital: Tanggung Jawab Bersama
Di era digital, Sofyan menilai promosi pariwisata tidak lagi hanya mengandalkan baliho atau brosur. Kini, setiap warga Sabang sesungguhnya adalah duta wisata.
“Semua orang sekarang punya Facebook, Instagram, WhatsApp,” katanya. “Gunakan itu untuk mempromosikan Sabang.”
Ia mencontohkan fenomena lumba-lumba (dolphin) yang kerap muncul di perairan sekitar Sabang. Menurutnya, ini adalah potensi luar biasa yang jarang dimiliki daerah lain. 
Foto | Sofyan H Adam didampingi istri saat berada disalah satu moment di Kota Sabang
Jika dipromosikan secara konsisten melalui media sosial, Sabang bisa dikenal sebagai salah satu destinasi terbaik untuk wisata bahari.
“Jarang-jarang orang bisa lihat lumba-lumba langsung. Itu nilai jual besar,” tegasnya.
Mendatangkan Wisatawan, Bukan Mengejar Investor
Salah satu analogi paling menarik yang sering disampaikan Sofyan adalah petuah lama Presiden Soeharto tentang kapal dan air. Baginya, filosofi ini sangat relevan untuk Sabang hari ini.
“Kita jangan sibuk memperbesar kapal, kalau airnya sedikit,” ujarnya. “Yang harus kita lakukan adalah memperbanyak air. Kalau air banyak, kapal sebesar apa pun bisa masuk.”
Dalam konteks pariwisata, “air” adalah jumlah kunjungan wisatawan. Jika Sabang mampu mendatangkan hingga satu juta wisatawan per tahun, maka investor tidak perlu dikejar mereka akan datang dengan sendirinya. Sebaliknya, jika kunjungan masih rendah, sebesar apa pun upaya promosi investasi, hasilnya akan minim.
Ia mengingatkan bahwa banyak rencana investasi besar di Sabang pada masa lalu akhirnya tidak terwujud karena anjloknya angka kunjungan wisata. Hotel berbintang, maskapai penerbangan, hingga investor properti selalu melihat satu indikator utama: berapa banyak orang datang ke kota ini setiap tahun.
Efek Berganda Pariwisata
Sofyan menekankan bahwa pariwisata memiliki multiplier effect yang sangat luas. Ketika wisatawan datang, tidak hanya hotel dan restoran yang diuntungkan, tetapi juga petani, nelayan, pedagang kecil, hingga pelaku industri rumah tangga.
“Kalau orang ramai datang ke Sabang, rumah makan butuh ikan, butuh cabai, butuh sayur. Itu semua dibeli dari masyarakat kita,” katanya.
![]() |
| Foto | Sofyan H Adam bersama keluarga |
Ia mengingat masa awal berkembangnya homestay di Sabang sekitar tahun 2014. Saat itu, ketika jumlah wisatawan mulai meningkat, masyarakat dengan sendirinya tergerak membangun usaha penginapan. Ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi rakyat selalu mengikuti pertumbuhan pariwisata.
Hal yang sama berlaku untuk UKM dan industri kreatif. Produk boleh sebagus apa pun, tetapi jika tidak ada pasar, semuanya akan sia-sia. Pasar itu bernama wisatawan.
Dalam perannya sebagai tokoh yang pernah terlibat langsung dalam perumusan kebijakan, Sofyan mengungkapkan bahwa arah pembangunan Sabang sebenarnya sudah sangat jelas dalam dokumen RPJM. Salah satu strategi besarnya adalah Gerakan Pembangunan dan Pengembangan Nol Kilometer Indonesia sebuah konsep yang secara filosofis dan praktis mengarah pada penguatan pariwisata.
Artinya, setiap sektor olahraga, seni budaya, perdagangan, hingga pameran Pembangunan harus diintegrasikan dengan tujuan besar: mendatangkan orang ke Sabang.
“Apapun kegiatannya, ujungnya harus pariwisata,” katanya lugas.
Selain pariwisata, Sofyan juga menyoroti tiga potensi besar Sabang lainnya: perikanan, perdagangan, dan pelayanan pelayaran. Namun, ia menekankan bahwa keempat potensi ini sesungguhnya saling terhubung.
Pengembangan perikanan, misalnya, tidak hanya berdampak pada sektor pangan, tetapi juga pada wisata kuliner. Revitalisasi kawasan SKPT Sabang dinilainya penting untuk membuka lapangan kerja sekaligus memperkuat posisi Sabang sebagai kota maritim..jpeg)
Foto | Sabang Fair disaat senja
Begitu pula perdagangan dalam kerangka Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang. Jika potensi ini dihidupkan kembali secara serius, maka Sabang tidak hanya dikenal sebagai kota wisata, tetapi juga sebagai pusat aktivitas ekonomi regional.
Membangun Sabang adalah Tanggung Jawab Bersama
Di akhir setiap gagasannya, Sofyan selalu kembali pada satu harapan sederhana: melihat Sabang maju, nyaman, dan aman bagi siapa pun yang datang. Ia bahkan bermimpi suatu hari Sabang bisa menjadi lokasi pengembangan layanan kesehatan spesialis sebagai bagian dari strategi mendatangkan orang ke kota ini.
Semua itu, menurutnya, tetap bermuara pada satu kata kunci: pariwisata.
“Kalau kita bicara Sabang, ujung-ujungnya tetap pariwisata. Dari sanalah semuanya bergerak,” katanya.
Sebagai tokoh masyarakat yang telah lama mengabdi di birokrasi, Sofyan H Adam menegaskan bahwa membangun Sabang bukan hanya tugas wali kota, bukan hanya tugas pemerintah, dan bukan hanya tugas dinas pariwisata. Ini adalah tanggung jawab kolektif seluruh masyarakat.
Setiap unggahan di media sosial, setiap senyum kepada tamu, setiap pelayanan kecil di warung atau homestay semuanya adalah bagian dari wajah Sabang di mata dunia.
Jika seluruh elemen bergerak bersama, maka mimpi menghadirkan satu juta wisatawan bukanlah angan-angan. Ia adalah target yang realistis, asalkan dikerjakan dengan konsisten, kolaboratif, dan penuh keyakinan.
Karena sesungguhnya, seperti yang selalu diyakini Sofyan H Adam, Sabang tidak kekurangan potensi yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk menggerakkannya.[ADV]




0 Komentar