
Foto | Pelestarian terumbu karang menjadi bagian penting dalam menjaga ekosistem laut dan keberlanjutan wisata bahari Pulau Weh.(dok.AGN)
Sabang.AGN – Keindahan bawah laut Sabang tidak hanya bergantung pada jernihnya air dan beragam biota laut. Terumbu karang yang tumbuh di perairan Pulau Weh juga menjadi bagian penting dari ekosistem yang menopang kehidupan laut sekaligus daya tarik wisata bahari.
Bagi wisatawan yang menikmati snorkeling maupun diving, hamparan karang berwarna-warni menjadi pemandangan yang memikat. Namun, di balik keindahan tersebut, terumbu karang memiliki fungsi penting sebagai tempat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak bagi berbagai jenis ikan serta organisme laut lainnya.
Ketika karang mengalami kerusakan hingga mati, dampaknya tidak sebatas berkurangnya keindahan bawah laut. Kerusakan itu juga dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan memengaruhi kehidupan masyarakat pesisir yang menggantungkan mata pencaharian pada sumber daya laut.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susetya, menygatakan, pentingnya memahami berbagai faktor yang dapat mengancam kelangsungan hidup terumbu karang, Minggu (11/10/2026).
Salah satu ancaman tersebut berasal dari perubahan kondisi lingkungan laut, termasuk kenaikan suhu air.
Suhu laut yang terlalu tinggi dapat memicu pemutihan karang atau coral bleaching. Kondisi ini terjadi ketika karang kehilangan alga mikroskopis yang hidup bersimbiosis dengannya dan membantu menyediakan energi. Jika tekanan lingkungan berlangsung terlalu lama, karang dapat melemah hingga mati.
Selain faktor lingkungan, aktivitas manusia juga berpotensi mempercepat kerusakan. Sampah yang mencemari perairan, penggunaan alat tangkap yang merusak, serta kegiatan wisata tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan dapat mengancam keberadaan terumbu karang.
Di kawasan wisata bahari Sabang, aktivitas snorkeling dan diving perlu dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Sentuhan tangan, pijakan kaki, maupun jangkar kapal yang mengenai karang bisa menyebabkan kerusakan fisik. Meski terlihat sepele, dampaknya dapat berlangsung lama karena pertumbuhan terumbu karang relatif lambat.
Karang yang rusak membutuhkan waktu panjang untuk pulih, bergantung pada tingkat kerusakan dan kondisi lingkungan. Karena itu, menjaga terumbu karang yang masih sehat menjadi langkah penting untuk mencegah kerusakan yang lebih luas.
Pemandu wisata, penyelam, dan pelaku usaha bahari turut berperan dalam menjaga kelestarian ekosistem tersebut. Pengarahan kepada pengunjung sebelum beraktivitas di laut, termasuk mengingatkan agar tidak menyentuh atau menginjak karang, dapat membantu mengurangi risiko kerusakan.
Edukasi kepada wisatawan juga perlu menjadi bagian dari pengelolaan destinasi. Menikmati keindahan bawah laut harus diiringi pemahaman bahwa terumbu karang merupakan makhluk hidup yang rentan terhadap gangguan. Tidak membuang sampah ke laut dan memilih layanan wisata yang menerapkan prinsip ramah lingkungan menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan.
Masyarakat pesisir pun memiliki kepentingan besar dalam upaya pelestarian ini. Keberadaan terumbu karang berkaitan dengan habitat berbagai jenis ikan dan keberlanjutan sumber daya laut yang mendukung kehidupan masyarakat.
Tantangan lainnya datang dari perubahan iklim. Peningkatan suhu laut dan perubahan kondisi perairan dapat menambah tekanan terhadap ekosistem karang, termasuk di wilayah tropis seperti Sabang. Kondisi tersebut membuat upaya perlindungan perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika kerusakan sudah terlihat.
Keindahan bawah laut Pulau Weh merupakan aset alam yang perlu dijaga bersama. Pemerintah, pelaku wisata, masyarakat, dan pengunjung memiliki peran dalam memastikan aktivitas pariwisata berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan.
Sebab, ketika terumbu karang mati, yang hilang bukan hanya pemandangan bawah laut, melainkan juga habitat bagi berbagai biota dan salah satu penopang keseimbangan ekosistem. Menjaga karang berarti ikut mempertahankan masa depan wisata bahari Sabang serta warisan alam bagi generasi mendatang.[DIKK]
0 Komentar