Karhutla Hanguskan 6,5 Hektare Lahan di Tiga Kecamatan Aceh Barat

Foto | Karhutla melanda tiga kecamatan di Aceh Barat dengan total luas lahan terbakar diperkirakan mencapai 6,5 hektare.(dok.BPBA Aceh untuk AGN)
Aceh Barat.AGN — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda tiga wilayah di Kabupaten Aceh Barat dalam waktu hampir b
ersamaan. Sedikitnya 6,5 hektare lahan dilaporkan terbakar pada Selasa, 1 September 2026, dan hingga Rabu pagi masih dalam penanganan petugas gabungan.

Kebakaran tersebut terjadi di Gampong Blang Beurandang, Kecamatan Johan Pahlawan; Gampong Mesjid Baro, Kecamatan Samatiga; serta Gampong Aron Tunong, Kecamatan Woyla. Laporan mengenai kejadian tersebut mulai diterima sekitar pukul 17.30 WIB.

Data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat, titik kebakaran di Gampong Blang Beurandang menghanguskan lahan yang diperkirakan mencapai sekitar 2 hektare, Rabu (2/9/2026).

Di Kecamatan Samatiga, api membakar lahan di kawasan Gampong Mesjid Baro dengan luas terdampak diperkirakan sekitar 3 hektare. Sementara di Gampong Aron Tunong, Kecamatan Woyla, luasan lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 1,5 hektare.

Jika seluruh lokasi digabungkan, luas lahan yang terbakar dalam kejadian karhutla tersebut diperkirakan mencapai 6,5 hektare. Sejauh laporan diterima, kebakaran belum menimbulkan korban jiwa, warga terdampak maupun kebutuhan evakuasi.

Penyebab munculnya api di ketiga lokasi tersebut juga belum diketahui secara pasti. Pihak terkait masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui kronologi serta faktor yang memicu terjadinya kebakaran.

Penanganan dilakukan dengan mengerahkan personel dan sarana pemadam dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat. Petugas tidak bekerja sendiri, tetapi mendapat dukungan dari unsur TNI, Polri, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) IV Aceh dan masyarakat di sekitar lokasi.

Sejumlah peralatan dikerahkan untuk mempercepat proses pemadaman sekaligus memantau perkembangan titik api. Sarana tersebut meliputi satu unit kendaraan D-Max, satu unit Panther, satu unit drone serta tiga unit mesin air lengkap dengan selang.

Drone digunakan untuk membantu pemantauan kondisi dari udara, sedangkan kendaraan dan mesin air dimanfaatkan dalam mobilisasi personel serta proses pemadaman di area yang terbakar. Langkah tersebut dilakukan untuk mengendalikan api agar tidak menjalar ke kawasan lain.

Petugas juga terus mengawasi area di sekitar lokasi kebakaran. Pemantauan diperlukan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api, terutama pada bagian lahan yang masih memiliki potensi terbakar setelah proses pemadaman dilakukan.

Hingga Rabu pagi, kondisi karhutla di tiga kecamatan tersebut masih dalam penanganan. Tim gabungan tetap berada di lapangan untuk melakukan pemadaman, pengendalian api dan pemantauan terhadap perkembangan situasi.

Kepala Pelaksana BPBA mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, termasuk pembakaran lahan secara sembarangan. Warga juga diminta segera menyampaikan laporan apabila menemukan titik api sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kebakaran meluas.

BPBA bersama BPBD di seluruh Aceh dan unsur terkait akan terus memperkuat pemantauan serta koordinasi menghadapi potensi karhutla. Upaya tersebut menjadi bagian dari mitigasi bencana untuk menekan risiko meluasnya kebakaran sekaligus menjaga keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.[CSA]

0 Komentar