![]() |
| Foto | Wakil Ketua DPRK Sabang, Albina Arrahman.(dok.AGN) |
Sabang.AGN — Dua puluh satu tahun perdamaian Aceh membawa tantangan baru yang berbeda dari masa ketika konflik masih berlangsung.
Bagi generasi muda yang lahir setelah konflik, makna damai tidak lagi sebatas terbebas dari pertikaian, tetapi bagaimana mereka mampu menjalani kehidupan tanpa terjebak berbagai persoalan sosial yang dapat merusak masa depan.
Pandangan tersebut disampaikan Wakil Ketua DPRK Sabang, Albina Arrahman. Ia menilai cara menyampaikan pesan perdamaian kepada generasi muda perlu diperbarui agar tidak berhenti pada cerita sejarah, tetapi mampu menyentuh persoalan yang benar-benar mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Albina, pemerintah bersama seluruh pihak yang memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan perdamaian Aceh harus menemukan pendekatan yang lebih dekat dengan karakter generasi saat ini. Bahasa yang digunakan, ruang penyampaian hingga bentuk kegiatan perlu menyesuaikan perkembangan zaman.
“Konsep-konsep perdamaian Aceh harus mampu dikemas dalam konteks kekinian yang bisa dimaknai oleh generasi hari ini. Dengan begitu, nilai perdamaian dapat membentuk generasi yang positif, berkarakter keacehan dan memiliki karakter kebangsaan,” ujar Albina.
Ia mengatakan generasi yang tumbuh setelah konflik memiliki pengalaman yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tidak merasakan langsung ketegangan dan ketidakamanan pada masa konflik sehingga pemahaman tentang perdamaian tidak cukup dibangun hanya melalui kisah mengenai pertempuran atau pertikaian.
Justru, kata Albina, tantangan yang dihadapi anak muda sekarang muncul dalam bentuk yang berbeda. Perubahan teknologi, lingkungan pergaulan, pengaruh media sosial hingga berbagai persoalan sosial dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku generasi muda.
Karena itu, menjaga perdamaian pada masa sekarang menurutnya harus dimulai dari pembentukan karakter. Generasi muda perlu dibekali kemampuan untuk memilih lingkungan, menghadapi tekanan sosial serta menjauhkan diri dari berbagai perilaku yang berpotensi mengganggu masa depan mereka.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah penyalahgunaan narkoba. Menurut Albina, persoalan tersebut merupakan bentuk tantangan baru yang harus dihadapi bersama karena dapat merusak individu sekaligus memberikan dampak terhadap lingkungan sosial.
“Damai mereka hari ini bukan lagi bicara konflik. Damai mereka hari ini adalah bagaimana mereka mampu melahirkan karakter yang tidak berkonflik, tidak negatif dan tidak membawa masalah bagi dirinya maupun lingkungan,” katanya.
Albina menilai perubahan tantangan tersebut harus diikuti dengan perubahan cara dalam mengisi dan menjaga perdamaian. Jika generasi sebelumnya berhadapan dengan konflik bersenjata serta persoalan politik dan ketidakadilan, generasi sekarang menghadapi tantangan yang lebih dekat dengan perilaku, pergaulan dan lingkungan sosial.
Perselisihan antarkelompok, pengaruh lingkungan pertemanan hingga berbagai persoalan yang muncul di ruang digital, menurutnya, perlu menjadi perhatian. Upaya pencegahan tidak cukup dilakukan melalui larangan, tetapi juga harus dibarengi pendidikan karakter, pembinaan dan penyediaan kegiatan positif bagi anak muda.
Di sisi lain, Albina melihat ruang digital sebagai salah satu jalur strategis untuk memperkenalkan nilai-nilai perdamaian. Anak muda yang sehari-hari bersentuhan dengan media sosial perlu disuguhi konten yang mampu menghubungkan sejarah perdamaian Aceh dengan kehidupan mereka saat ini.
“Bagaimana memahamkan damai kepada generasi hari ini dalam pemahaman mereka. Kita berharap siapa pun yang punya perhatian terhadap perdamaian Aceh mampu masuk ke lini itu,” ujarnya.
Menurutnya, pesan perdamaian akan lebih mudah diterima jika disampaikan melalui kreativitas yang dekat dengan keseharian anak muda. Konten digital, kegiatan komunitas, pendidikan, olahraga maupun berbagai aktivitas kepemudaan dapat menjadi ruang untuk menanamkan nilai kebersamaan dan kemampuan mengelola perbedaan.
Albina berharap peringatan 21 tahun perdamaian Aceh tidak berhenti sebagai agenda seremonial setiap tahun. Momentum tersebut harus menjadi kesempatan untuk mengevaluasi sekaligus memperluas pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan damai bagi generasi masa kini.
Ia menegaskan, generasi muda tidak boleh hanya ditempatkan sebagai penerima warisan perdamaian. Mereka harus diberi ruang untuk menjadi bagian utama dalam menjaga keberlanjutan kondisi tersebut melalui perilaku, pilihan hidup dan kontribusi positif di lingkungan masing-masing.
Dengan cara pandang tersebut, perdamaian Aceh tidak hanya dimaknai sebagai tidak adanya konflik bersenjata. Lebih jauh, perdamaian harus tercermin dalam kemampuan generasi muda menghargai perbedaan, menjaga diri dari pengaruh negatif, membangun hubungan sosial yang sehat serta tumbuh dengan karakter keacehan dan kebangsaan yang kuat.[IZA]
%20-%20Copy.jpeg)
0 Komentar