| Foto | Wakil Ketua DPRK Sabang Albina Arrahman menjelaskan sejarah Benteng Batere A saat menghadiri Festival Budaya Lokal Gampong Cot Ba’u 2026.(dok.AGN) |
Sabang.AGN – Wakil Ketua DPRK Sabang, Albina Arrahman, mengungkap sejarah panjang situs Benteng Batere A di Gampong Cot Ba’u yang selama ini lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Benteng Meteo. Ia menilai kawasan tersebut memiliki nilai sejarah sekaligus potensi wisata yang sangat besar apabila ditata dan dikembangkan secara berkelanjutan.
Hal itu disampaikan Albina saat menghadiri Festival Budaya Lokal Gampong Cot Ba’u 2026 yang dipusatkan di kawasan Benteng Batere A. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak masyarakat mengenal kembali asal-usul situs yang menjadi bagian dari jejak sejarah Kota Sabang.
Albina menjelaskan, sebutan Benteng Batere A berkaitan dengan keberadaan sejumlah bangunan pertahanan yang dibangun pada masa kolonial Belanda. Selain Bentere A di Cot Ba’u, terdapat pula Benteng Batere B di kawasan Krueng Raya serta Benteng Batere C yang dahulu difungsikan sebagai gudang peluru.
Menurutnya, nama Benteng Meteo yang lebih populer di kalangan masyarakat muncul setelah pada sekitar dekade 1960-an kawasan tersebut pernah digunakan untuk bangunan kantor meteorologi yang berkaitan dengan lembaga cuaca. Seiring berjalannya waktu, masyarakat kemudian lebih terbiasa menyebutnya sebagai Benteng Meteo, meskipun nama historisnya adalah Benteng Batere A.
Ia mengatakan, kompleks pertahanan tersebut memiliki kawasan yang cukup luas dan sejumlah bangunannya saling berkaitan. Beberapa bagian kompleks bahkan berada di sekitar kawasan Gampong Cot Ba’u dan dahulu berfungsi sebagai fasilitas pendukung, seperti tempat penyimpanan amunisi, pos penjagaan maupun fasilitas komunikasi.
Albina juga mengungkapkan bahwa kawasan benteng memiliki cerita menarik yang berkaitan dengan masa pendudukan Jepang di Sabang. Ketika Jepang mengambil alih Sabang pada 1942, kawasan benteng kemudian mengalami penambahan serta perubahan fungsi untuk mendukung sistem pertahanan dan pengawasan militer.
Salah satu bagian yang dinilai memiliki nilai sejarah tinggi adalah ruang tahanan yang masih menyimpan gambar peninggalan seorang tentara Jepang. Albina menyebut lukisan tersebut dibuat oleh seorang tentara Jepang yang pernah ditahan di kawasan itu karena mengalami persoalan kedisiplinan dan tekanan psikologis.
Menurut cerita yang ia sampaikan, gambar tersebut menggambarkan dirinya bersama sang istri yang berada di Tokyo. Albina meminta masyarakat untuk ikut menjaga keberadaan lukisan tersebut karena diyakini masih asli dan menjadi salah satu peninggalan penting dari masa pendudukan Jepang.
“Gambarnya jangan dihapus karena itu original. Lukisan tersebut diperkirakan sudah berusia lebih dari delapan dekade dan menjadi salah satu bagian penting dari cerita sejarah benteng ini,” ujarnya.
Albina menyebut Benteng Batere A saat ini berada dalam pengelolaan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Aceh. Ia mengapresiasi dukungan berbagai pihak terhadap pelestarian kawasan tersebut dan berharap kolaborasi dapat terus diperkuat untuk menjaga bangunan bersejarah sekaligus membuka peluang pemanfaatan kawasan untuk kepentingan masyarakat.
Ia juga mendukung rencana Pemerintah Kota Sabang memperbaiki akses jalan menuju lokasi. Menurutnya, kondisi jalan yang lebih baik akan menjadi salah satu faktor penting untuk menjadikan Benteng Batere A sebagai destinasi wisata yang mudah dijangkau.
“Kalau jalannya sudah bagus, insya Allah ini bisa menjadi objek wisata unggulan karena pemandangannya sangat indah. Dari pemerintah juga akan ikut membenahi sesuai kebutuhan, termasuk penataan taman dan fasilitas lainnya,” katanya.
Selain mempertahankan bangunan bersejarah, Albina berharap pengembangan kawasan tidak menghilangkan fungsi sosialnya bagi masyarakat Cot Ba’u. Ia mengenang kawasan tersebut sebagai tempat warga setempat menghabiskan waktu sejak masa kanak-kanak.
Dahulu, kata dia, area sekitar benteng masih terbuka dan dimanfaatkan warga untuk berbagai aktivitas, mulai dari bermain sepak bola, permainan tradisional hingga berkumpul pada sore hari. Kondisi tersebut menjadi bagian dari kenangan masyarakat setempat sebelum kawasan itu lama-kelamaan dipenuhi semak dan kurang dimanfaatkan.
Karena itu, ia mengapresiasi upaya aparatur Gampong Cot Ba’u yang mulai menghidupkan kembali kawasan tersebut. Menurutnya, Benteng Batere A idealnya tidak hanya menjadi lokasi kunjungan wisatawan, tetapi juga ruang terbuka bagi masyarakat untuk berinteraksi, berolahraga dan menjadi tempat bermain anak-anak.
Albina berharap pemanfaatan kawasan dapat dilakukan melalui koordinasi dengan Lanal Sabang sebagai pihak yang berkaitan dengan pengelolaan lahan, sehingga keberadaan situs tetap terlindungi namun dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia menilai pengembangan Benteng Batere A memiliki peluang untuk mendorong perekonomian warga, terutama melalui kegiatan pariwisata, kuliner, usaha kecil serta berbagai aktivitas budaya yang dapat dikembangkan di sekitar kawasan.
“Harapannya kawasan ini bisa kembali menjadi tempat masyarakat bersosialisasi, bergembira dan bermain seperti dahulu. Pada saat yang sama, kita ingin Benteng Batere A berkembang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Kota Sabang,” tutur Albina.
Menurutnya, kekayaan sejarah yang dimiliki Benteng Batere A merupakan aset penting bagi generasi mendatang. Dengan pengelolaan yang tepat, situs tersebut tidak hanya menjadi tempat untuk mengenang masa lalu, tetapi juga dapat menjadi ruang edukasi, pusat kegiatan budaya dan sumber ekonomi baru bagi masyarakat Gampong Cot Ba’u.[ZAK]
0 Komentar