Hardikda Jadi Momentum SLB Negeri 2 Sabang Dorong Kemandirian dan Potensi Anak

Foto | SLB Negeri 2 Sabang terus membuka ruang bagi siswa berkebutuhan khusus untuk mengembangkan bakat seni dan keterampilan sebagai bekal menuju kemandirian.(dok.kreasi AI AGN)

Sabang.AGN — Setiap anak memiliki kemampuan yang tidak selalu terlihat melalui ukuran akademik. Prinsip itulah yang terus didorong Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 2 Sabang dalam mendampingi siswa berkebutuhan khusus, termasuk membuka ruang bagi mereka untuk mengembangkan bakat seni, keterampilan dan kemandirian.

Kepala SLB Negeri 2 Sabang, Satriah, S.Pd., mengatakan pihak sekolah berupaya mengenali potensi yang dimiliki setiap siswa agar proses pembelajaran dapat disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik masing-masing anak.

Salah satu siswa yang mendapat perhatian sekolah adalah Lutfi. Satriah melihat adanya kemampuan khusus pada siswa tersebut, terutama dalam hal hafalan. Potensi itu kemudian dinilai dapat dikembangkan lebih jauh melalui kegiatan seni dan musik.

“Target ke depan ada satu anak yang namanya Lutfi, karena dia punya potensi yang saya lihat, saya punya program ke arah seni. Nanti supaya ke depannya potensi anak ini bisa kita kembangkan,” ujar Satriah, Rabu (2/9/2026).

Menurutnya, kemampuan hafalan Lutfi yang cukup kuat menjadi salah satu modal untuk mengikuti kegiatan musik. Karena itu, sekolah berencana mengembangkan program angklung sebagai salah satu wadah agar Lutfi dan siswa lainnya dapat belajar sekaligus mengekspresikan kemampuan melalui seni.

“Karena hafalannya kuat, kita akan buat satu program angklung. Sehingga dia bisa paling tidak tampil pada event-event tertentu, mungkin di Sabang,” jelasnya.

Program tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan kemampuan baru, tetapi juga memberikan pengalaman kepada siswa berkebutuhan khusus untuk tampil di ruang publik. Kesempatan menunjukkan karya dinilai dapat membantu membangun rasa percaya diri dan memberikan penghargaan terhadap kemampuan yang mereka miliki.

Pengembangan seni menjadi bagian dari pendekatan sekolah dalam melihat siswa secara lebih utuh. Menurut Satriah, setiap anak memiliki kelebihan masing-masing sehingga pendidikan tidak seharusnya hanya berfokus pada kemampuan membaca, menulis atau aspek akademik lainnya.

Di SLB Negeri 2 Sabang, pembelajaran juga diarahkan pada penguasaan berbagai keterampilan praktis. Siswa diberikan kegiatan seperti merajut, bercocok tanam serta keterampilan lainnya sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri.

“Kegiatan yang kita terapkan seperti merajut, bercocok tanam dan keterampilan lainnya, supaya anak-anak ini ke depan bisa lebih mandiri. Kita juga terus mengembangkan kemampuan mereka sesuai dengan potensi yang dimiliki masing-masing siswa,” ujarnya.

Dari 25 siswa jenjang SMP dan SMA yang saat ini mengikuti pendidikan di SLB Negeri 2 Sabang, terdapat beragam kemampuan yang berhasil diidentifikasi para guru. Ada siswa yang memiliki kemampuan hafalan kuat, minat pada seni dan suara, hingga kemampuan menggambar dan membuat kerajinan dengan tingkat ketelitian yang baik.

Satriah mencontohkan, terdapat siswa yang belum mampu membaca dan menulis, tetapi memiliki hafalan Al-Qur’an yang kuat serta suara yang bagus. Ada pula siswa yang menunjukkan kemampuan menonjol ketika diminta menggambar atau membuat benda-benda kecil.

“Ada anak yang walaupun tidak bisa baca tulis, tapi hafalannya bagus, hafal Al-Qur’an, punya suara bagus dan hobi dengan seni. Ada juga anak yang kalau kita suruh menggambar atau membuat mainan kecil, hasilnya sangat rapi,” jelasnya.

Di tengah upaya mengembangkan potensi siswa, SLB Negeri 2 Sabang juga menghadapi tantangan dalam ketersediaan tenaga pendidik khusus. Saat ini, sekolah tersebut hanya memiliki dua guru Pendidikan Luar Biasa (PLB) untuk mendampingi 25 siswa tingkat SMP dan SMA.

Keterbatasan tersebut membuat sebagian tenaga pendidik reguler turut mengambil peran dalam proses pembelajaran dan pendampingan siswa berkebutuhan khusus. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri karena karakter dan tingkat kebutuhan setiap siswa berbeda.

“PLB cuma dua orang, selebihnya itu guru reguler. Karena keterbatasan guru, kami belum mampu sepenuhnya bagaimana mengatasi dan menghadapi anak-anak yang seperti itu,” ungkap Satriah.

Ia menjelaskan, sebagian besar siswa di sekolah tersebut merupakan penyandang tunagrahita dengan tingkat kebutuhan yang beragam. Beberapa di antaranya membutuhkan pendampingan lebih intensif karena mengalami kesulitan dalam mempertahankan fokus ketika mengikuti pembelajaran maupun kegiatan keterampilan.

Karena itu, guru dituntut mampu memberikan pendekatan yang berbeda kepada setiap siswa. Pendampingan tidak dapat dilakukan dengan satu metode yang sama, sebab kemampuan, minat dan kebutuhan masing-masing anak memiliki karakteristik tersendiri.

Momentum Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh menjadi kesempatan bagi SLB Negeri 2 Sabang untuk kembali melihat tantangan sekaligus peluang dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Selain peningkatan sarana dan kegiatan pembelajaran, kebutuhan terhadap tenaga pendidik yang memiliki kompetensi khusus juga menjadi perhatian.

Satriah berharap ke depan semakin banyak lulusan Pendidikan Luar Biasa yang dapat mengisi kebutuhan tenaga pendidik di sekolah-sekolah luar biasa. Menurutnya, kebutuhan tersebut akan selalu ada karena setiap daerah memiliki anak-anak yang memerlukan layanan pendidikan khusus.

“Bukan tidak mungkin di setiap daerah ada anak yang berkebutuhan khusus, yang sangat dibutuhkan oleh sekolah-sekolah luar biasa. Mudah-mudahan sarjana-sarjana PLB itu lebih banyak lagi nanti,” katanya.

Bagi SLB Negeri 2 Sabang, pendidikan anak berkebutuhan khusus pada akhirnya bukan sekadar mengejar capaian akademik. Kemampuan menemukan potensi, membangun kepercayaan diri, mengasah keterampilan dan mempersiapkan anak agar mampu menjalani kehidupan secara mandiri menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan.

Melalui pengembangan seni, keterampilan dan pendampingan yang disesuaikan dengan karakter setiap siswa, sekolah berupaya memastikan tidak ada potensi anak yang terabaikan. Semangat Hardikda pun menjadi pengingat bahwa setiap anak, dengan segala keterbatasan dan kelebihannya, tetap memiliki ruang untuk tumbuh, berkarya dan memberi makna di tengah masyarakat.[DIKK]

0 Komentar