Serangan Drone Ukraina ke Moskow Meluas, Rusia Soroti Dugaan Keterlibatan Inggris

Foto | Ilustrasi Wilayah Moskow kembali menjadi sasaran serangan drone dalam eskalasi terbaru perang Rusia-Ukraina.(dok.Ilusrasi AI AGN)

Jakarta.AGN – Gelombang serangan drone kembali menghantam wilayah Moskow, Rusia, dalam eskalasi terbaru perang antara Rusia dan Ukraina. Pemerintah Rusia menyebut serangan tersebut sebagai salah satu aksi serangan jarak jauh terbesar yang pernah terjadi di wilayah ibu kota sejak konflik kedua negara pecah.

Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin melaporkan serangan berlangsung sejak Selasa malam hingga Rabu pagi. Menurut klaim pejabat Rusia, sebanyak 637 drone Ukraina diluncurkan dalam serangan tersebut.

Dari jumlah itu, sekitar 180 unit disebut berhasil dihancurkan atau ditembak jatuh di wilayah Moskow. Sementara lebih dari 150 drone lainnya diklaim berhasil dicegat di sejumlah lokasi berbeda di Rusia.

Serangan tersebut juga berdampak pada sejumlah fasilitas di ibu kota Rusia. Salah satunya gedung bertingkat dan gudang milik Wildberries, perusahaan ritel daring terbesar di Rusia, yang dilaporkan mengalami kebakaran.

Pihak Ukraina sebelumnya menyatakan telah meningkatkan serangan terhadap fasilitas industri dan gudang milik perusahaan tersebut selama sebulan terakhir. Kementerian Pertahanan Ukraina bahkan mengklaim tujuh dari 10 fasilitas logistik terbesar Wildberries telah dilumpuhkan.

Meski serangan berlangsung dalam skala besar, belum terdapat laporan mengenai korban jiwa. Otoritas Rusia menyebut sejumlah warga mengalami luka akibat rangkaian serangan udara tersebut.

Di tengah serangan tersebut, muncul pula laporan mengenai dugaan penggunaan drone produksi Inggris oleh Ukraina. Pejabat Rusia menyatakan temuan puing-puing di lokasi serangan menjadi dasar klaim bahwa sebagian perangkat yang digunakan memiliki kaitan dengan Inggris.

Kedutaan Besar Rusia di London menuding pemerintah Inggris turut memperbesar eskalasi konflik dengan memberikan dukungan terhadap Ukraina. Moskow menilai keterlibatan Inggris dalam konflik tersebut semakin memperburuk situasi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Namun, Ukraina diketahui telah mengembangkan kemampuan produksi drone secara mandiri dalam jumlah besar. Salah satu perusahaan yang disebut menjadi pemasok utama adalah Fire Point, perusahaan dalam negeri yang dipimpin Iryna Terekh.

Fire Point disebut memproduksi sebagian besar drone tempur Ukraina, dengan proses perakitan yang melibatkan ratusan pekerja. Pengembangan industri drone domestik menjadi bagian penting dari strategi Ukraina untuk memperluas kemampuan serangan jarak jauh tanpa sepenuhnya bergantung pada pasokan dari negara lain.

Sementara itu, media Inggris Sunday Times melaporkan dugaan penggunaan drone Nyan dalam sejumlah serangan terhadap sasaran di wilayah Rusia. Drone tersebut disebut dikembangkan oleh Callen-Lenz, anak perusahaan BAE Systems, bersama perusahaan lain yang identitasnya belum dipublikasikan.

Laporan tersebut menyebut perangkat Nyan didesain sebagai drone sekali pakai yang membawa muatan menuju sasaran. Penggunaannya dikaitkan dengan sejumlah serangan terhadap fasilitas industri, termasuk kawasan kilang minyak di Volgograd dan Yaroslavl.

Sistem tersebut dilaporkan memiliki kemampuan terbang jarak jauh serta dapat diluncurkan tanpa membutuhkan landasan konvensional. Karakteristik itu membuatnya dinilai sesuai untuk misi yang membutuhkan fleksibilitas dalam peluncuran dan pengoperasian.

Nyan juga diklaim memiliki kemampuan untuk beroperasi dalam kondisi ketika sistem navigasi satelit mengalami gangguan. Perangkat tersebut sebelumnya disebut telah diuji oleh Angkatan Darat Inggris dalam latihan militer di Estonia sebagai bagian dari pengembangan kemampuan serangan jarak jauh.

Chief Executive Callen-Lenz, Matt Foster, mengatakan perusahaan tersebut telah memproduksi lebih dari 1.000 unit Nyan. Ia menyebut sistem itu telah mendapatkan pengalaman penggunaan secara operasional.

Serangkaian serangan drone terbaru menunjukkan bahwa perang Rusia-Ukraina tidak lagi hanya berpusat di garis depan. Infrastruktur dan fasilitas strategis yang berada jauh dari wilayah pertempuran juga semakin menjadi sasaran, sementara kedua pihak terus mengembangkan kemampuan serangan dan pertahanan udara masing-masing.[RED]


dilansir dari laman : detik.com

0 Komentar