
Foto | Proses transplantasi ginjal di RSUDZA menjadi tonggak penting peningkatan layanan kesehatan subspesialistik di Aceh dengan dukungan tenaga medis dan fasilitas yang memadai.(ist)
Banda Aceh.AGN – Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh mencatat sejarah baru dalam pelayanan kesehatan di Aceh.
Setelah berhasil melaksanakan transplantasi ginjal ketujuh, rumah sakit milik Pemerintah Aceh itu kini dinyatakan siap menjalankan operasi transplantasi ginjal secara mandiri tanpa pendampingan langsung dari tim Rumah Sakit Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Keberhasilan tindakan medis yang dilaksanakan pada Senin (3/8/2026) tersebut menjadi penanda bahwa kemampuan tenaga medis RSUDZA telah memenuhi standar untuk menangani transplantasi ginjal secara mandiri. Dengan demikian, masyarakat Aceh yang membutuhkan layanan tersebut tidak lagi harus dirujuk ke rumah sakit di luar provinsi.
Ketua Tim Transplantasi Ginjal RSCM, Prof. Dr. dr. Nur Rasyid, Sp.U(K), mengatakan proses pendampingan yang selama ini dilakukan terhadap tim transplantasi RSUDZA resmi berakhir setelah transplantasi ketujuh berlangsung sukses.
"Alhamdulillah hari ini telah terlaksana transplantasi ginjal ke-7 di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin. Kami dari RSCM menyatakan bahwa tim transplantasi rumah sakit ini sudah bisa mandiri. Jadi sudah sepenuhnya bisa dilakukan di sini. Kalaupun ada konsultasi bisa dilakukan secara online, tetapi pelaksanaan operasinya sudah bisa dilakukan secara mandiri di rumah sakit ini," ujar Prof. Nur Rasyid.
Ia menjelaskan, selain kesiapan sumber daya manusia, seluruh peralatan yang dibutuhkan dalam tindakan transplantasi ginjal juga telah tersedia di RSUDZA dan telah dikuasai penggunaannya oleh tim medis setempat.
"Untuk alat semuanya sudah mandiri digunakan di sini semua," katanya.
Meski demikian, Prof. Nur Rasyid mengingatkan pentingnya menjaga kesinambungan layanan transplantasi ginjal agar kemampuan tim medis tetap terpelihara dan terus berkembang. Menurutnya, tindakan transplantasi idealnya dilakukan secara rutin sehingga pengalaman dan keterampilan tim semakin meningkat.
Selain itu, ia menilai keberadaan layanan transplantasi ginjal di RSUDZA menjadi solusi besar bagi masyarakat Aceh. Rumah sakit tersebut kini telah memiliki layanan penanganan gagal ginjal yang lengkap, mulai dari hemodialisis, peritoneal dialisis, hingga transplantasi ginjal. Ia juga mengajak masyarakat menjaga kesehatan ginjal sejak dini dengan mengendalikan penyakit seperti hipertensi dan diabetes yang menjadi faktor utama penyebab gagal ginjal stadium akhir.
Direktur RSUDZA, Dr. Muhazar H, SKM, M.Kes., menyebut keberhasilan transplantasi ginjal ketujuh merupakan wujud komitmen rumah sakit dalam menghadirkan pelayanan kesehatan subspesialistik yang berkualitas bagi masyarakat Aceh. Menurutnya, pencapaian tersebut didukung oleh komitmen Pemerintah Aceh dalam memperkuat infrastruktur kesehatan, meningkatkan kompetensi tenaga medis, serta menghadirkan teknologi pelayanan kesehatan yang semakin modern.
Hingga Agustus 2026, RSUDZA telah berhasil melaksanakan tujuh operasi transplantasi ginjal dengan donor yang seluruhnya berasal dari anggota keluarga pasien. Pada transplantasi terbaru, pasien bernama Muhammad Ikhlas menerima donor ginjal dari istrinya, Intan Zahara, dan tindakan tersebut berlangsung dengan baik.
Muhazar menambahkan, keberhasilan layanan transplantasi ginjal tidak hanya ditentukan oleh kesiapan fasilitas, tetapi juga hasil kerja sama tim dokter spesialis dan subspesialis di bidang nefrologi, urologi, anestesi, serta tenaga kesehatan profesional lainnya yang terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Ke depan, RSUDZA berkomitmen terus memperkuat layanan transplantasi ginjal sebagai salah satu layanan unggulan rumah sakit. Pengembangan kapasitas, perluasan akses bagi masyarakat, serta penerapan standar keselamatan pasien akan terus menjadi prioritas guna menghadirkan pelayanan kesehatan yang paripurna, humanis, dan berstandar nasional di Aceh.[]
0 Komentar