
Foto | Perairan Pulau Weh dikenal memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi karena berada di pertemuan Samudra Hindia, Laut Andaman, dan Selat Malaka.(dok.AGN)
Sabang.AGN – Perairan Pulau Weh di Kota Sabang telah lama dikenal sebagai salah
satu destinasi favorit bagi penyelam, peneliti, hingga fotografer bawah laut.
Bukan tanpa alasan. Di balik kejernihan airnya, tersimpan kekayaan hayati yang
menjadikan kawasan ini berbeda dari banyak wilayah pesisir lainnya di
Indonesia.
Lalu, apa yang membuat Pulau Weh memiliki keanekaragaman hayati laut yang
begitu tinggi?
Jawabannya bukan hanya karena terumbu karang yang masih relatif terjaga,
tetapi juga karena posisi geografis Pulau Weh yang sangat unik. Berada di ujung
utara Pulau Sumatra, Pulau Weh menjadi titik pertemuan Samudra Hindia, Laut
Andaman, dan Selat Malaka. Pertemuan tiga massa air ini menciptakan kondisi
lingkungan laut yang kaya nutrisi dan mendukung kehidupan berbagai jenis biota
laut.
Keunikan tersebut membuat Pulau Weh menjadi rumah bagi berbagai spesies
karang keras (scleractinian corals), ikan karang, moluska, hingga biota laut
lainnya. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Oryx bahkan
mencatat sedikitnya 133 spesies karang keras di perairan Pulau Weh.
Beberapa di antaranya merupakan catatan penting karena menjadi batas persebaran
spesies dari Samudra Hindia maupun Samudra Pasifik, sementara beberapa lainnya
diduga merupakan spesies yang belum pernah dideskripsikan sebelumnya.
Bagi para ilmuwan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Pulau Weh bukan
sekadar kawasan wisata bahari. Perairan ini memiliki nilai ilmiah yang tinggi
karena menjadi wilayah transisi antara dua kawasan biogeografi laut besar.
Kombinasi spesies dari dua samudra inilah yang membuat komposisi biota laut di
Pulau Weh berbeda dibanding banyak daerah lain di Indonesia.
Selain faktor geografis, bentuk dasar laut Pulau Weh juga berperan besar.
Sebagian besar pesisirnya dikelilingi terumbu karang tepi (fringing reef)
yang menjadi habitat alami bagi berbagai jenis ikan, krustasea, moluska, dan
biota laut lainnya. Terumbu karang bukan hanya menjadi tempat berlindung,
tetapi juga lokasi berkembang biak dan mencari makan bagi banyak spesies.
Karena itu, kawasan dengan kondisi karang yang sehat umumnya memiliki jumlah
ikan yang lebih beragam.
Arus laut di sekitar Pulau Weh juga menjadi faktor pendukung. Sirkulasi
air yang cukup baik membantu membawa nutrisi sekaligus menjaga kualitas
perairan. Di beberapa titik penyelaman, arus yang relatif kuat bahkan menjadi
alasan mengapa ikan-ikan pelagis sesekali melintas, meski karakter arusnya
berbeda-beda tergantung musim dan lokasi.
Meski demikian, kekayaan hayati tersebut bukan berarti terbebas dari
ancaman. Perubahan suhu laut akibat perubahan iklim dapat memicu pemutihan
karang (coral bleaching), sementara aktivitas manusia seperti pembuangan
sampah, jangkar kapal yang mengenai karang, hingga praktik wisata yang tidak
ramah lingkungan dapat mengurangi kualitas ekosistem bawah laut. Para peneliti
menilai kawasan ini memiliki nilai konservasi yang tinggi sehingga membutuhkan
pengelolaan yang berkelanjutan.
Bagi wisatawan, keanekaragaman hayati laut Pulau Weh memang menjadi daya
tarik utama. Namun, menikmati keindahan bawah laut juga harus disertai tanggung
jawab. Tidak menyentuh terumbu karang, tidak memberi makan ikan sembarangan,
serta memilih operator wisata yang menerapkan praktik ramah lingkungan
merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menjaga ekosistem tetap
lestari.
Pulau Weh membuktikan bahwa keindahan laut bukan hanya soal air yang
jernih atau panorama yang memukau. Di balik permukaannya tersimpan ekosistem
yang terbentuk selama ribuan tahun dan menjadi rumah bagi ratusan spesies yang
memiliki peran penting bagi keseimbangan alam.
Menjaga kekayaan hayati laut Pulau Weh berarti menjaga salah satu aset paling berharga yang dimiliki Sabang. Sebab, jika ekosistem bawah laut tetap sehat, bukan hanya wisata bahari yang akan terus berkembang, tetapi juga warisan alam yang dapat dinikmati oleh generasi mendatang.[DIKK]
0 Komentar