![]() |
| Foto | Letak Sabang di mulut Selat Malaka menjadikan kota ini berada di salah satu jalur pelayaran internasional tersibuk di dunia.(dok.AGN) |
Sabang.AGN – Banyak orang mengenal Sabang sebagai kota wisata bahari di ujung barat Indonesia. Namun jauh sebelum terkenal karena keindahan bawah lautnya, Sabang telah lebih dulu dikenal sebagai salah satu pelabuhan strategis di jalur pelayaran dunia.
Bahkan, pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20,
kapal-kapal dari berbagai negara rutin singgah di Pulau Weh untuk mengisi bahan
bakar, mengambil air bersih, hingga melakukan berbagai keperluan logistik.
Lalu, mengapa Sabang menjadi pintu masuk kapal internasional?
Jawabannya terletak pada letak geografisnya yang sangat strategis. Sabang berada di mulut Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Cina Selatan dan Samudra Pasifik.
Setiap tahun, puluhan ribu kapal niaga melintasi jalur ini untuk
mengangkut berbagai komoditas dari Timur Tengah, Eropa, Asia Selatan, hingga
Asia Timur.
Keunggulan lain yang dimiliki Sabang adalah pelabuhan alamnya. Teluk Sabang memiliki perairan yang cukup dalam serta terlindung dari gelombang besar, sehingga kapal berukuran besar dapat berlabuh dengan aman.
Kondisi
inilah yang menarik perhatian pemerintah kolonial Belanda pada akhir abad ke-19
untuk mengembangkan Sabang sebagai pelabuhan pengisian batu bara bagi
kapal-kapal uap yang melintasi Selat Malaka.
Sejarah mencatat, pada 1881 Belanda mulai membangun Kolen Station, atau stasiun pengisian batu bara, di Teluk Sabang. Saat itu kapal-kapal masih menggunakan tenaga uap sehingga membutuhkan pasokan batu bara secara berkala.
Sabang kemudian berkembang menjadi tempat persinggahan penting
sebelum kapal melanjutkan pelayaran menuju Asia Timur atau kembali ke Eropa
melalui Terusan Suez yang dibuka pada tahun 1869.
Perkembangan pelabuhan terus berlanjut. Pada 1896, Sabang resmi
dibuka sebagai pelabuhan bebas (vrij haven) untuk perdagangan
internasional. Status tersebut menjadikan Sabang sebagai pusat transit berbagai
komoditas ekspor dari Sumatra bagian utara, seperti tembakau Deli, lada,
pinang, hingga kopra. Aktivitas perdagangan yang ramai membuat nama Sabang
semakin dikenal dalam jaringan pelayaran dunia.
Memasuki Perang Dunia II, peran Sabang berubah. Jepang menjadikan kawasan
ini sebagai basis pertahanan karena letaknya yang menguasai pintu masuk Selat
Malaka. Hingga kini, sejumlah bunker dan benteng peninggalan masa perang masih
dapat ditemukan di beberapa lokasi di Pulau Weh sebagai pengingat pentingnya
posisi strategis Sabang dalam sejarah militer kawasan.
Setelah Indonesia merdeka, pemerintah beberapa kali berupaya menghidupkan
kembali fungsi Sabang sebagai pelabuhan bebas. Momentum penting terjadi pada
tahun 2000 ketika pemerintah menetapkan Sabang sebagai Kawasan Perdagangan
Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) melalui Undang-Undang Nomor 37 Tahun
2000. Kebijakan ini bertujuan mendorong investasi, perdagangan, dan
pengembangan jasa kepelabuhanan di wilayah paling barat Indonesia.
Kini, meski wajah Sabang lebih dikenal sebagai kota wisata, fungsi
kepelabuhanan tetap menjadi bagian penting dari identitasnya. Pelabuhan Balohan
melayani ribuan penumpang yang datang dari Banda Aceh setiap tahun, sementara
kawasan pelabuhan yang dikelola Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan
Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS) terus dikembangkan untuk mendukung kegiatan
logistik dan perdagangan.
Bagi wisatawan, mungkin kapal yang bersandar di Sabang hanyalah bagian
dari perjalanan menuju Pulau Weh. Namun di balik aktivitas itu tersimpan
sejarah panjang yang menjadikan Sabang sebagai salah satu gerbang maritim
Indonesia. Letaknya yang berada di persimpangan jalur perdagangan internasional
telah membentuk identitas kota ini selama lebih dari satu abad.
Sabang bukan sekadar kota di titik nol kilometer Indonesia. Kota ini
adalah saksi perjalanan ribuan kapal yang pernah menghubungkan berbagai bangsa
melalui Selat Malaka. Dari pelabuhan pengisian batu bara pada masa kolonial
hingga kawasan perdagangan bebas saat ini, Sabang terus membuktikan bahwa
posisi geografis dapat menjadi kekuatan yang menentukan perjalanan sebuah
daerah.[DIKK]

0 Komentar