Mawardi Nur Resmi Pimpin BPMA, Pengalaman Benahi PEMA Jadi Modal Perkuat Industri Migas Aceh

 

Foto | Mawardi Nur resmi memimpin BPMA dengan membawa pengalaman transformasi tata kelola dan bisnis selama menjabat sebagai Direktur Utama PT PEMA. Foto: Dok. BPMA.

Jakarta.AGN – Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) memasuki babak baru setelah Mawardi Nur resmi dilantik sebagai Kepala BPMA untuk masa jabatan 2026–2029. 

Pengangkatan tersebut diharapkan menjadi momentum memperkuat pengelolaan sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) di Aceh melalui tata kelola yang lebih profesional, transparan, dan berorientasi pada peningkatan investasi.

Pelantikan Mawardi Nur dilakukan langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, di Jakarta, Rabu (5/8/2026). Dalam jabatan barunya, Mawardi menggantikan Nasri Djalal yang sebelumnya memimpin lembaga tersebut.

Optimisme terhadap kepemimpinan Mawardi tidak lepas dari rekam jejaknya selama menjabat sebagai Direktur Utama PT Pembangunan Aceh (Perseroda) atau PT PEMA. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan daerah itu menjalani transformasi menyeluruh yang mencakup pembenahan tata kelola, peningkatan efisiensi, hingga penguatan sistem pengawasan internal.

Selama memimpin PEMA, Mawardi mendorong penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) secara lebih konsisten. Transparansi, akuntabilitas, penguatan pengendalian internal, serta efisiensi pengelolaan keuangan menjadi fokus utama yang berhasil meningkatkan kepercayaan terhadap perusahaan sebagai badan usaha strategis milik Pemerintah Aceh.

Transformasi tersebut turut berdampak pada peningkatan performa bisnis perusahaan. PEMA berhasil mengoptimalkan nilai ekonomi penjualan gas melalui strategi komersial yang lebih efektif dan negosiasi kontrak yang mampu memberikan nilai tambah. Di sektor nonmigas, perusahaan juga meningkatkan nilai jual komoditas sulfur dengan memperluas jaringan pemasaran hingga ke pasar internasional.

Tidak hanya berfokus pada bisnis energi, Mawardi juga mengarahkan PEMA melakukan diversifikasi usaha sebagai langkah memperkuat sumber pendapatan perusahaan. Sejumlah program strategis dijalankan, mulai dari pengembangan wilayah kerja migas, pembukaan kembali ekspor kopi Arabika Gayo ke pasar luar negeri, optimalisasi Integrated Cold Storage (ICS) Lampulo untuk mendukung hilirisasi sektor perikanan, hingga penjajakan peluang usaha di bidang telekomunikasi dan infrastruktur digital.

Kinerja positif tersebut berkontribusi terhadap peningkatan dividen yang disetorkan PEMA kepada Pemerintah Aceh. Nilai dividen tercatat terus mengalami kenaikan, yakni sebesar Rp26,69 miliar pada 2024, meningkat menjadi Rp26,71 miliar pada 2025, dan kembali bertambah menjadi Rp28,76 miliar pada 2026.

Peningkatan kontribusi terhadap pendapatan daerah menjadi indikator bahwa transformasi yang dilakukan tidak hanya memperbaiki tata kelola perusahaan, tetapi juga menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata bagi Aceh. Capaian tersebut dinilai menjadi modal penting bagi Mawardi dalam menjalankan tugas barunya di BPMA.

Dengan pengalaman memimpin perusahaan energi daerah, Mawardi Nur diharapkan mampu memperkuat peran BPMA sebagai lembaga yang bertanggung jawab mengelola sekaligus mengawasi kegiatan usaha hulu migas di Aceh. 

Keberadaan BPMA yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Pemerintahan Aceh memiliki posisi strategis dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif, meningkatkan pengelolaan sumber daya energi secara berkelanjutan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor minyak dan gas bumi.[]

0 Komentar