Ketua Panitia: Festival Budaya Cot Ba’u Jadi Ruang Pelestarian Tradisi Lokal

Foto | Ketua Panitia Festival Budaya Lokal Gampong Cot Ba’u 2026, Irwan Mahdi mengikuti rangkaian Festival Budaya Lokal Gampong Cot Ba’u 2026 yang turut menampilkan tradisi kenduri apam dan berbagai permainan rakyat.(dok.AGN)

Sabang.AGN – Festival Budaya Lokal Gampong Cot Ba’u 2026 menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali menghidupkan beragam tradisi dan permainan rakyat yang mulai jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. 

Salah satu tradisi yang menjadi bagian utama kegiatan tersebut adalah kenduri apam yang dikenal sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Aceh.

Ketua Panitia Festival Budaya Lokal Gampong Cot Ba’u 2026, Irwan Mahdi, mengatakan kegiatan tersebut sebenarnya telah dirancang sejak 2025. Namun, pelaksanaannya baru dapat direalisasikan tahun ini karena sebelumnya terkendala ketersediaan anggaran, Sabtu (22/8/2026).

Menurut Irwan, pelaksanaan festival kali ini mendapat dukungan pendanaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh. Bantuan tersebut memungkinkan panitia menjalankan agenda yang sejak awal dirancang dengan konsep utama mengangkat serta memperkenalkan kembali budaya lokal masyarakat Gampong Cot Ba’u.

“Rencana kegiatan ini sebenarnya sudah kami susun sejak tahun 2025, tetapi baru bisa terlaksana tahun ini karena persoalan anggaran. Kali ini kami mendapat dukungan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh sehingga kegiatan dapat dilaksanakan,” ujar Irwan.

Ia menjelaskan, konsep festival tetap mempertahankan gagasan awal, yakni menghadirkan berbagai tradisi masyarakat yang memiliki nilai budaya. Salah satu yang mendapat perhatian utama adalah kenduri apam yang secara tradisional berkaitan dengan bulan Muharam atau yang dalam budaya masyarakat Aceh dikenal pula sebagai bulan Apam.

Meskipun pelaksanaan festival tahun ini sudah mendekati bulan Maulid, panitia tetap mempertahankan tema kenduri apam sebagai bagian dari tradisi yang ingin diperkenalkan kepada generasi muda maupun masyarakat luas.

Selain kenduri apam, panitia juga menyiapkan sejumlah kegiatan lain untuk membuat festival semakin semarak. Berbagai aktivitas tersebut melibatkan masyarakat secara langsung, termasuk perlombaan yang mengangkat permainan dan keterampilan tradisional.

Beberapa perlombaan yang disiapkan antara lain congklak, egrang menggunakan batok kelapa, bakiak, serta perlombaan memarut dan memeras kelapa. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menghadirkan suasana kebersamaan sekaligus memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak.

Tidak hanya permainan rakyat, festival juga diisi dengan kegiatan kenduri bubur, penyajian kolak, aktivitas pelaku UMKM serta kegiatan merangkai sirih. Beragam agenda tersebut dirancang agar pengunjung dapat melihat langsung berbagai bentuk tradisi yang hidup di tengah masyarakat.

Irwan mengatakan, keterlibatan warga menjadi salah satu tujuan penting dalam pelaksanaan festival. Panitia ingin menjadikan kegiatan tersebut sebagai ruang berkumpul sekaligus sarana untuk memperkenalkan budaya lokal melalui kegiatan yang bersifat edukatif dan menghibur.

“Intinya kami ingin mengangkat budaya lokal. Karena itu kegiatannya dibuat beragam agar masyarakat bisa ikut meramaikan, sekaligus mengenal kembali tradisi dan permainan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kita,” katanya.

Ia berharap Festival Budaya Lokal Gampong Cot Ba’u dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang. Dukungan berbagai pihak, terutama pemerintah dan lembaga kebudayaan, dinilai penting agar agenda pelestarian tradisi tersebut dapat berkelanjutan.

Menurutnya, keberadaan festival bukan hanya untuk memeriahkan sebuah kegiatan, tetapi juga menjadi upaya menjaga warisan budaya agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Tradisi seperti kenduri apam, permainan rakyat dan berbagai kuliner lokal diharapkan tetap dikenal oleh generasi berikutnya.[PIM]

0 Komentar