![]() |
| Foto | Kepala Posko Wilayah Aceh Satgas PRR Pascabencana, Safrizal ZA, saat memberikan keterangan terkait kondisi pasokan semen di Aceh.(ist) |
Banda Aceh.AGN – Kebutuhan semen di Aceh mengalami peningkatan tajam seiring bergeraknya pembangunan kembali berbagai fasilitas yang terdampak bencana. Kondisi tersebut ikut memberikan tekanan terhadap ketersediaan material bangunan di sejumlah daerah.
Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Aceh menyatakan lonjakan permintaan menjadi salah satu faktor yang mendorong perubahan harga semen di tingkat pasar. Pemerintah pun mengambil langkah pengawasan agar kondisi keterbatasan pasokan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.
Kepala Posko Wilayah Aceh Satgas PRR, Safrizal ZA, mengatakan kebutuhan semen saat ini tidak hanya berasal dari kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabanjir. Sejumlah program pembangunan lainnya juga berjalan secara bersamaan sehingga turut meningkatkan tekanan terhadap pasokan.
“Akibatnya, kebutuhan semen meningkat lebih dari 100 persen,” ujar Safrizal kepada wartawan setelah mengikuti Focus Group Discussion (FGD) Penanganan Sektor Pertanian, Sistem Pengairan, dan Daerah Aliran Sungai (DAS) di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, Jumat (7/8/2026).
Menurut dia, tingginya permintaan tersebut juga berkaitan dengan pelaksanaan sejumlah program nasional, termasuk pembangunan Koperasi Merah Putih. Di sisi lain, proyek pemerintah Aceh serta pembangunan yang dilaksanakan pemerintah kabupaten dan kota juga membutuhkan semen dalam jumlah besar.
Safrizal mengungkapkan pemerintah telah melakukan komunikasi dengan PT Solusi Bangun Andalas (SBA) untuk mengetahui kondisi produksi. Dari pertemuan tersebut, diketahui kapasitas produksi perusahaan saat ini telah berada pada level maksimal sehingga peningkatan produksi secara cepat belum dapat dilakukan.
“Tadi pagi saya sudah bertemu dengan pihak PT Solusi Bangun Andalas (SBA). Mereka menyampaikan bahwa kapasitas produksi saat ini sudah berada pada tingkat maksimal, sehingga tidak memungkinkan untuk serta-merta meningkatkan produksi semen,” katanya.
Sebagai langkah alternatif, pemerintah kemudian berkoordinasi dengan Semen Indonesia selaku holding PT SBA. Upaya tersebut dilakukan untuk mendatangkan tambahan pasokan semen dari sejumlah pabrik yang berada di Pulau Jawa maupun Sumatera Barat.
Persoalan distribusi pasokan dari luar Aceh juga akan dibawa ke tingkat pemerintah pusat. Safrizal menyebut laporan tersebut akan disampaikan kepada Kepala Satgas PRR untuk selanjutnya dibahas bersama Danantara dan Kementerian BUMN.
Di tengah keterbatasan pasokan tersebut, pemerintah memastikan kenaikan harga bukan disebabkan oleh perubahan harga dari produsen. Berdasarkan pengecekan yang dilakukan, harga semen di tingkat pabrik masih berada pada posisi yang sama.
“Yang terjadi adalah mekanisme pasar karena kelangkaan pasokan,” ujarnya.
Satgas PRR juga telah meminta dukungan Polda Aceh untuk mengawasi peredaran semen di lapangan. Pengawasan diperlukan untuk mencegah adanya pihak yang sengaja menimbun material atau mengambil keuntungan dengan menaikkan harga secara tidak wajar.
“Kami meminta distribusi semen diawasi agar tidak ada pihak yang mencari keuntungan sendiri dengan mengabaikan kebutuhan rehabilitasi, rekonstruksi, dan masyarakat,” tegas Safrizal.
Selain memastikan kelancaran pasokan, pemerintah juga akan menelusuri faktor lain yang kemungkinan ikut memengaruhi harga semen di pasaran. Salah satunya berkaitan dengan ongkos transportasi dalam proses mendatangkan material dari luar Aceh.
Safrizal mengatakan investigasi tersebut penting dilakukan agar pemerintah memperoleh gambaran menyeluruh mengenai penyebab kenaikan harga. Apabila ditemukan adanya kenaikan yang tidak memiliki dasar kewajaran, pemerintah akan mengambil langkah pengendalian untuk menjaga harga semen tetap terjangkau dan kebutuhan pembangunan pascabencana tidak terganggu.[]

0 Komentar