Gempa M7,7 Guncang Flores, 33 Orang Meninggal dan Empat Masih Terjebak Reruntuhan

 

Foto | Tim SAR gabungan melakukan pencarian dan evakuasi korban gempa di wilayah Flores, NTT.(dok.kreasi AI AGN)

Maumere.AGN – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena turun langsung ke Kabupaten Sikka, Sabtu (15/8/2026), untuk memantau penanganan dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores.

Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Melki menyampaikan perkembangan sementara data korban gempa yang tersebar di sejumlah kabupaten. Hingga Sabtu, tercatat 33 orang meninggal dunia dan 23 lainnya mengalami luka-luka.

Korban meninggal dunia tercatat di lima kabupaten. Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur masing-masing mencatat 14 korban jiwa. Selanjutnya Sikka tiga orang, Ende satu orang, dan Manggarai Barat satu orang.

Sementara itu, korban luka tercatat di tiga kabupaten, yakni Sikka sebanyak enam orang, Ende 13 orang, dan Manggarai Barat empat orang.

Gubernur Melki menegaskan data tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring proses pendataan yang dilakukan petugas di lapangan.

“Itu hanya data sementara. Saat ini masih terus dilakukan pendataan,” tegas Melki.

Guncangan gempa dirasakan hampir di seluruh wilayah Pulau Flores dengan tingkat kerusakan yang berbeda-beda. Kondisi geografis serta sejumlah akses yang terganggu membuat proses pendataan dan penanganan korban belum sepenuhnya dapat dilakukan secara menyeluruh.

Selain pendataan, proses pencarian dan evakuasi korban masih terus berlangsung. Pemerintah daerah melaporkan terdapat empat warga yang masih terjebak di dalam reruntuhan bangunan di Kabupaten Manggarai.

Tim SAR gabungan dikerahkan untuk menjangkau lokasi dan mengevakuasi warga yang masih tertahan di bawah reruntuhan. Menurut Melki, prioritas saat ini adalah menyelamatkan korban yang masih memiliki peluang untuk dievakuasi.

“Saya pikir sekarang ini adalah bagaimana tim SAR itu bisa membantu penanganan korban yang masih terjebak di bangunan,” ujar Melki.

Gempa tersebut dilaporkan berpusat di laut, sekitar 30–38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. Guncangan terjadi sekitar pukul 04.58 WIB dan dirasakan di sejumlah wilayah Flores hingga Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Selatan.

Peringatan dini tsunami sempat diberlakukan setelah gempa terjadi. Namun, peringatan tersebut kemudian dicabut pada pukul 07.31 WIB setelah tidak ditemukan kenaikan muka air laut yang membahayakan.

Di tengah kepanikan warga, sekitar 2.000 orang dilaporkan mengungsi secara mandiri ke wilayah yang lebih tinggi sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan tsunami.

Pemerintah pusat turut merespons kejadian tersebut. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan duka cita atas jatuhnya korban jiwa serta memastikan pemerintah bergerak cepat dalam proses penyelamatan, penanganan darurat, dan mitigasi bencana.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto bersama Menko PMK Pratikno dijadwalkan menuju wilayah terdampak untuk memimpin penanganan darurat secara langsung. BNPB juga telah mengerahkan tim darurat, helikopter, bantuan logistik, serta berbagai peralatan pendukung ke sejumlah lokasi terdampak.

Pemerintah Provinsi NTT mengingatkan masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Warga diminta mengikuti perkembangan penanganan dan informasi kebencanaan melalui sumber resmi pemerintah.

Pemutakhiran data korban dan kerusakan masih terus dilakukan, terutama di wilayah terpencil yang aksesnya terganggu akibat longsor maupun kerusakan infrastruktur. Pemerintah memastikan proses pencarian, evakuasi, pendataan, dan penyaluran bantuan terus dilanjutkan sesuai kondisi di lapangan.[REDAKSI]

0 Komentar