El Nino Sangat Kuat Picu Kondisi Kering, 518 Hotspot Karhutla Terdeteksi di Kalimantan

Foto | Ilustrasi Kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Kalimantan memicu kemunculan kabut asap di tengah kondisi kemarau dan pengaruh El Nino yang sangat kuat.(dok.Ilustrasi AI AGN)

Jakarta.AGN – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan kembali meningkat seiring kondisi cuaca yang semakin kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat menjadi salah satu faktor yang memperbesar potensi terjadinya karhutla.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan kondisi iklim yang kering membuat lahan lebih mudah terbakar. Ketika kebakaran terjadi, kondisi tersebut juga berpotensi mempercepat penyebaran asap hingga menimbulkan kabut yang mengganggu kualitas udara.

“Kondisi iklim kering menjadi kondisi, membuat lahan dibakar dan banyak asap,” kata Ardhasena kepada detikcom, Jumat (21/8/2026).

Berdasarkan hasil pemantauan BMKG pada Dasarian I Agustus 2026, indikator iklim menunjukkan El Nino berada pada kategori sangat kuat. Indeks IOD dasarian tercatat sebesar +0,457, meningkat dibandingkan posisi Juli yang berada di angka +0,242.

Sementara itu, nilai anomali suhu muka laut atau SSTA di wilayah Nino3.4 tercatat +2,77, naik dari +2,20 pada Juli. Kondisi tersebut menjadi indikator yang menunjukkan penguatan fenomena El Nino.

Dampak kondisi kering juga terlihat dari luas wilayah Indonesia yang telah memasuki musim kemarau. BMKG mencatat sekitar 76,5 persen wilayah Indonesia atau sebanyak 535 Zona Musim (ZOM) berada dalam periode tersebut.

Kalimantan menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian dalam menghadapi risiko karhutla. Sejumlah wilayah di pulau tersebut berada pada kategori waspada hingga siaga, sehingga upaya pencegahan dan penanganan titik api perlu terus diperkuat.

Ardhasena mengingatkan agar langkah mitigasi tidak dihentikan karena masih terdapat titik panas yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran lebih luas. “Masih banyak titik api yang perlu dimitigasi,” ujarnya.

Kekhawatiran tersebut sejalan dengan data Kementerian Kehutanan (Kemenhut) yang menunjukkan adanya peningkatan signifikan jumlah titik panas di sejumlah provinsi Kalimantan dalam beberapa hari terakhir.

Mengacu pada Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kemenhut dan pemantauan satelit NASA-MODIS/Terra-Aqua, terdapat 123 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi pada 17 Agustus 2026. Sebarannya meliputi 93 titik di Kalimantan Barat, 28 titik di Kalimantan Tengah, dan dua titik di Kalimantan Selatan.

Sehari kemudian, jumlah tersebut sedikit menurun menjadi 109 titik. Kalimantan Barat mencatat 15 hotspot, sedangkan Kalimantan Tengah mengalami kenaikan menjadi 73 titik dan Kalimantan Selatan mencapai 21 titik.

Namun, kondisi berubah drastis pada 19 Agustus 2026. Dalam pemantauan pukul 07.00 WIB, Kemenhut menemukan 259 hotspot di Kalimantan Barat, 242 titik di Kalimantan Tengah, dan 17 titik di Kalimantan Selatan.

Dengan demikian, jumlah titik panas berkepercayaan tinggi pada hari tersebut mencapai 518 titik. Angka itu meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan jumlah hotspot yang tercatat sehari sebelumnya.

Jika dihitung secara kumulatif selama periode 17 hingga 19 Agustus 2026, terdapat 750 hotspot berkepercayaan tinggi di tiga provinsi tersebut. Kalimantan Barat menyumbang 367 titik, Kalimantan Tengah 343 titik, sedangkan Kalimantan Selatan tercatat 40 titik.

Lonjakan tersebut menjadi perhatian serius di tengah kondisi kemarau dan pengaruh El Nino yang masih kuat. Pemerintah dan seluruh pihak terkait didorong untuk memperketat pemantauan serta segera menangani titik panas sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar dan memperparah kabut asap.[RED]


Dilansir dari laman : detik.com

0 Komentar