
Foto | Pesan tentang kejujuran dan antikorupsi disampaikan pelajar melalui kostum serta properti kreatif dalam pawai HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kota Sabang, Kamis (20/8/2026).(dok.AGN)
Sabang.AGN — Ada pesan sederhana yang ikut berjalan di tengah semarak pawai karnaval HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Sabang, Kamis (20/8) kemarin. Bukan melalui orasi maupun spanduk panjang, melainkan lewat kostum dan properti kreatif yang dibawa para pelajar.
Salah satu penampilan yang mencuri perhatian menampilkan simbol tikus, jas hitam serta sebuah koper yang berisi uang mainan. Di bagian depan koper tersebut tertulis pesan “UANG HASIL KORUPSI”, menjadi bentuk kreativitas siswa dalam menyampaikan pesan sosial kepada masyarakat.
Penampilan itu sekilas terlihat sebagai bagian dari kemeriahan karnaval. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, simbol yang dibawa para siswa menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga kejujuran dan tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya.
Cara tersebut terbilang sederhana, tetapi justru membuat pesan mudah dipahami. Para pelajar tidak perlu menunjuk siapa pun atau menyebut pihak tertentu. Mereka cukup menghadirkan simbol sebagai pengingat bahwa nilai kejujuran merupakan bagian penting dalam membangun karakter generasi muda.
Pawai karnaval HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kota Sabang sendiri melibatkan 49 sekolah dari berbagai jenjang pendidikan. Peserta terdiri atas 32 sekolah dasar, 12 sekolah menengah pertama dan lima sekolah menengah atas, dengan jumlah pelajar yang ikut diperkirakan mencapai sekitar 3.000 orang.
Setiap sekolah diberikan ruang untuk mengembangkan konsep masing-masing. Ada yang menonjolkan kostum, kreativitas barisan, budaya, hingga membawa pesan-pesan sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Di antara beragam penampilan tersebut, pesan antikorupsi yang dibawa para siswa menjadi salah satu bentuk edukasi publik yang dikemas secara ringan. Simbol tikus dan uang mainan bukan sekadar aksesori karnaval, tetapi menjadi cara anak-anak menyampaikan pentingnya membangun kebiasaan jujur sejak bangku sekolah.
Pesan seperti itu menjadi semakin menarik karena disampaikan dalam suasana yang penuh kegembiraan. Kritik sosial tidak harus selalu disampaikan dengan bahasa keras. Kadang, sebuah simbol sederhana sudah cukup untuk mengajak masyarakat berhenti sejenak dan memahami pesan yang ingin disampaikan.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Sabang, Mulkan, sebelumnya menyampaikan bahwa pawai karnaval merupakan agenda rutin dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI. Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan orang tua dan wali peserta didik karena memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kreativitas.
Menurut Mulkan, Dinas Pendidikan Kota Sabang tidak memberikan satu tema khusus kepada seluruh peserta. Masing-masing sekolah diberikan keleluasaan menentukan konsep penampilan dan melakukan inovasi sesuai kreativitas mereka.
Kebebasan tersebut akhirnya melahirkan beragam pesan dalam barisan karnaval. Ada yang menampilkan semangat kemerdekaan melalui kostum, ada pula yang memilih menyampaikan pesan sosial seperti pentingnya kejujuran dan integritas.
Apa yang ditampilkan para pelajar itu pada akhirnya menjadi pengingat bahwa kemerdekaan dapat dimaknai dengan banyak cara. Selain merayakan perjuangan bangsa, momentum tersebut juga dapat menjadi kesempatan untuk menanamkan karakter positif kepada generasi penerus.
Pesan dari koper berisi uang mainan itu pun tidak harus dimaknai sebagai tudingan kepada siapa pun. Ia lebih tepat dilihat sebagai cermin kecil tentang pentingnya menjaga amanah, sekaligus ajakan agar nilai kejujuran terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah ribuan pelajar yang memenuhi rute pawai, pesan tersebut hadir dengan cara yang ringan: boleh meriah, boleh kreatif, tetapi jangan lupa untuk tetap jujur. Sebuah sindiran kecil yang tidak perlu menyakiti, namun cukup untuk mengingatkan.[DIKK]
0 Komentar