BPMA dan Medco E&P Malaka Optimalkan Dua Sumur Migas Aceh, Produksi Gas Diproyeksikan Bertambah 7 MMSCFD

Foto | Tim teknis melakukan pekerjaan workover untuk meningkatkan potensi produksi gas dari Sumur JR-74 dan JR-38A.

Banda Aceh.AGN – Upaya meningkatkan produksi migas di Aceh terus dilakukan. Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Medco E&P Malaka berhasil melakukan optimalisasi terhadap dua sumur di Wilayah Kerja (WK) A yang diperkirakan mampu memberikan tambahan produksi gas sekitar 7 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD).

Dua sumur yang menjadi fokus pengembangan tersebut yakni Sumur JR-74 dan JR-38A. Optimalisasi dilakukan melalui pekerjaan workover sebagai bagian dari strategi meningkatkan pemanfaatan sumur eksisting sekaligus mendukung pencapaian target produksi gas nasional.

Kepala Divisi Operasi Produksi BPMA, Ibnu Hafizh, mengatakan pekerjaan pada Sumur JR-74 telah selesai dilaksanakan sesuai dengan rencana teknis yang telah ditetapkan. Serangkaian kegiatan dilakukan mulai dari perbaikan semen (cement remediation), squeeze cementing, perforasi, pemasangan single selective completion, hingga proses swab well kick pada Formasi Upper Keutapang (UK-4) dan Upper Keutapang (UK-5).

Menurut Ibnu, hasil evaluasi menunjukkan kedua zona produksi tersebut mampu mengalirkan gas ke permukaan dengan kinerja yang baik. Dari hasil kajian teknis, pekerjaan tersebut berhasil mengembalikan potensi produksi gas dari kedua formasi dengan perkiraan tambahan produksi mencapai sekitar 5 MMSCFD.

“Keberhasilan ini diharapkan dapat memperkuat pasokan gas dan mendukung kebutuhan energi nasional. Sebelum sumur berproduksi penuh, BPMA bersama Medco akan melakukan well test untuk memastikan laju produksi dari masing-masing zona,” ujar Ibnu Hafizh.

Selain JR-74, perkembangan positif juga terlihat pada pekerjaan workover Sumur JR-38A. Kegiatan yang dimulai sejak 18 Juli 2026 tersebut diawali dengan proses pencabutan injection string lama, pembersihan bagian dalam casing, serta pemasangan lower packer untuk melakukan isolasi pada zona injeksi.

Tahapan berikutnya dilanjutkan dengan perforasi pada interval produksi Formasi BB Sand di kedalaman 2.122 hingga 2.133 kaki measured depth (MD). Setelah itu, tim memasang sistem dual completion yang memungkinkan zona produksi dan zona injeksi dapat berjalan secara bersamaan melalui dua jalur tubing terpisah.

Pada 30 Juli 2026, pengujian kemampuan injeksi (injectivity test) dilakukan pada zona injeksi. Hasil pengujian mencatat laju injeksi sebesar 3,2 barel per menit dengan tekanan pompa 1.000 psi atau setara sekitar 4.600 barel air per hari (BWIPD).

Sehari setelah pengujian tersebut, tim kembali melakukan proses swab well kick pada Formasi BB Sand. Hasilnya menunjukkan gas berhasil mengalir ke permukaan dengan estimasi tambahan potensi produksi sekitar 2 MMSCFD.

Pekerjaan menggunakan rig pada Sumur JR-38A kemudian diselesaikan pada 1 Agustus 2026. Tahapan selanjutnya akan dilakukan melalui kegiatan well test campaign menggunakan metode rigless dengan bantuan well test unit guna memastikan kemampuan produksi gas dari formasi tersebut.

BPMA menilai capaian pada Sumur JR-74 dan perkembangan Sumur JR-38A menjadi bukti keberhasilan kolaborasi bersama Medco E&P Malaka dalam mengoptimalkan aset migas yang telah tersedia di WK A.

Melalui penerapan teknologi, standar keselamatan operasi, serta kerja sama yang berkelanjutan, kedua pihak optimistis tambahan produksi gas sekitar 7 MMSCFD dari dua sumur tersebut dapat segera terealisasi. Peningkatan produksi ini diharapkan mampu mendukung ketahanan energi Aceh maupun Indonesia secara lebih luas.[]

0 Komentar