Bos FIFA Gianni Infantino Dilaporkan ke IOC soal Intervensi Kasus Balogun

 

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden FIFA, Gianni Infantino, di acara drawing Piala Dunia 2026 di Gedung John F Kennedy Center for the Performing Arts, Washington DC, Amerika Serikat, Sabtu (6/12/2025) dini hari WIB.(TANGKAPAN LAYAR)

Jakarta.AGN - Presiden FIFA Gianni Infantino dilaporkan kepada Komite Olimpiade Internasional (IOC) atas dugaan melanggar aturan netralitas politik, termasuk terkait kontroversi pencabutan sanksi penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, pada Piala Dunia 2026. 

Laporan tersebut diajukan oleh organisasi nirlaba FairSquare yang meminta IOC menyelidiki dugaan keterlibatan Infantino dalam sejumlah tindakan yang dinilai bertentangan dengan Piagam Olimpiade dan Kode Etik IOC. 

Sebagaimana dilansir The Athletic, Rabu (15/7/2026), salah satu poin utama dalam laporan itu adalah keputusan FIFA menangguhkan hukuman larangan satu pertandingan yang dijatuhkan kepada Balogun.

Atas keputusan itu, sang penyerang dapat tampil saat Amerika Serikat menghadapi Belgia pada babak 16 besar pada 6 Juli lalu.

Sebelumnya, Balogun menerima kartu merah langsung pada laga melawan Bosnia-Herzegovina, setelah melakukan pelanggaran terhadap Tarik Muharemovic.

Timnas Amerika Serikat tetap menang 2-0 dalam laga tersebut meski bermain dengan 10 orang. Sesuai regulasi, Balogun seharusnya menjalani skorsing satu pertandingan pada babak berikutnya.

Tetapi, sehari sebelum laga melawan Belgia, FIFA mengumumkan penerapan hukuman otomatis terhadap Balogun ditangguhkan selama masa percobaan satu tahun berdasarkan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA. FIFA tidak memberikan penjelasan rinci mengenai alasan perubahan keputusan tersebut. Keputusan itu langsung memicu sorotan karena sebelumnya Presiden AS Donald Trump secara terbuka meminta agar kartu merah Balogun ditinjau ulang.

Trump mengaku kontak Infantino

Trump bahkan mengaku telah meminta agar insiden tersebut dikaji kembali. "Saya hanya meminta dilakukan peninjauan ulang karena saya tidak menganggap itu sebuah pelanggaran," ujar Trump.

"Saya pikir itu hanya dua atlet hebat yang bertabrakan dan saling terkait. Saya rasa keputusan akhirnya sangat tepat. Keputusan wasit saat memberikan kartu merah justru sangat buruk," tambahnya, dikutip dari The Guardian. 

Infantino sendiri mengakui menerima panggilan telepon dari Trump, tetapi membantah melakukan intervensi terhadap proses pengambilan keputusan. Dalam pernyataan yang dimuat FIFA, Infantino menegaskan bahwa seluruh komite yudisial FIFA bekerja secara independen.

"Independensi mereka sangat penting bagi kredibilitas dan integritas sepak bola, dan hal itu harus selalu dihormati," demikian isi pernyataan tersebut.

FairSquare pertanyakan netralitas politik

FairSquare menilai penjelasan tersebut belum cukup menjawab berbagai dugaan yang muncul. Dalam laporannya kepada IOC, organisasi tersebut menyebut Infantino diduga melakukan sedikitnya lima pelanggaran terhadap aturan netralitas politik. 

Selain kasus Balogun, FairSquare juga menyoroti dukungan terbuka Infantino terhadap Trump dalam berbagai kesempatan. 

Di antaranya adalah unggahan media sosial setelah menghadiri acara yang berkaitan dengan pelantikan Presiden Trump pada Januari 2025, dukungannya terhadap pencalonan Trump untuk Nobel Perdamaian pada Oktober 2025, hingga pemberian FIFA Peace Prize kepada Trump saat undian Piala Dunia 2026 pada Desember tahun lalu.

FairSquare juga mempertanyakan promosi situs penggemar resmi Piala Dunia 2026 oleh FIFA yang disebut memiliki keterkaitan dengan entitas yang berafiliasi dengan Trump. 

Organisasi itu menilai seluruh rangkaian tindakan tersebut berpotensi melanggar kewajiban Infantino sebagai anggota IOC sejak 2020. Menurut FairSquare, anggota IOC wajib menjaga netralitas politik sebagaimana diatur dalam Piagam Olimpiade dan Kode Etik organisasi tersebut.

Sebelumnya, FairSquare juga telah melaporkan kasus yang sama kepada Komite Etik FIFA pada Desember lalu.

Laporan tersebut didukung Federasi Sepak Bola Norwegia serta sekitar 50 anggota Parlemen Eropa melalui surat terpisah yang dikirim pada akhir Juni. Hingga laporan ini ditulis, baik IOC maupun FIFA belum memberikan tanggapan resmi terkait permintaan investigasi tersebut.

 

Dilansir dari laman : KOMPAS.com

0 Komentar