
Pemain
Argentina mengangkat Lionel Messi saat mereka merayakan kemenangan atas Inggris
pada pertandingan semifinal Piala Dunia 2026.(AFP/ODD ANDERSEN)
AGN - Warga Amerika Latin biasanya mendukung tim sepak bola dari wilayah tersebut yang melaju jauh di Piala Dunia.
Namun, edisi Piala Dunia kali ini berbeda. Gelombang kritik, lelucon, hingga banjir meme di media sosial memperjelas penolakan atas timnas Argentina.
Salah satu gambar hasil editan yang viral memperlihatkan bintang muda Spanyol, Lamine Yamal, tengah mengenakan jersey timnas Brasil dan bertuliskan "Harapan rakyat Brasil".
Antusiasme
untuk menjegal Tim Tango ini bahkan telah melampaui rivalitas klasik antara
Brasil dan Argentina. Warga dari
negara-negara seperti Meksiko, Kolombia, hingga Chile dilaporkan kompak
berharap skuad Albiceleste kalah dari Spanyol pada laga final, Minggu (19/7/2026).
Tudingan tim kesayangan FIFA
Dikutip dari Al Jazeera, seorang sosiolog asal Kolombia, German Gomez menilai, dinamika solidaritas antar-negara Amerika Latin kini telah terputus bagi Argentina. Menurutnya, era digital dan jejaring sosial telah melahirkan narasi kuat bahwa Argentina merupakan tim kesayangan FIFA.
Ia menjelaskan, jika dulu
mendiang Diego Maradona dipuja sebagai sosok revolusioner yang berani menentang
kesewenang-wenangan otoritas kekuasaan FIFA, narasi publik saat ini justru
menempatkan Lionel Messi sebagai "anak emas" badan sepak bola dunia
tersebut.
"Argentina kerap mendapatkan keuntungan dari wasit," ketus Francisco Santos (42), seorang suporter Brasil di Sao Paulo yang mengenang riuh sorak penonton saat Inggris mencetak gol ke gawang Argentina di semifinal.
"Jika Brasil gagal juara, saya lebih rela melihat Spanyol juara untuk kedua kalinya daripada melihat Argentina juara empat kali," sambungnya. Para pengkritik menuding Argentina lebih sering menerima keputusan menguntungkan di lapangan.
Misalnya, hadiah penalti yang mudah atau denda kartu bagi lawan, meskipun FIFA
dan barisan tim analis menegaskan seluruh keputusan tersebut telah sesuai
regulasi hukum pertandingan.
Fraksi politik nasional hingga isu rasisme
Sentimen negatif ini tidak hanya bergulir di dalam garis lapangan, melainkan telah merembet ke ranah politik internasional dan isu sosial.
Di Meksiko, Presiden Claudia Sheinbaum sempat melempar candaan dalam konferensi pers mengenai tim mana yang didukung para jurnalis di final, yang serentak dijawab, "Spanyol!" Bagi Profesor Antropologi Meksiko, Jorge Negroe, turnamen edisi kali ini terbukti berjalan sangat politis.
Di
Chile, seorang pekerja laboratorium bernama Rachid Sjoberg mengakui
ketidaksukaannya pada Presiden Argentina, Javier Milei, menjadi alasannya emoh
mendukung Tim Tango.
Ia tidak sudi jika kemenangan Argentina kelak dijadikan draf komoditas politik oleh sang presiden. Selain itu, reputasi suporter Argentina juga tercoreng oleh serangkaian tuduhan rasisme.
Rekam jejak nyanyian ofensif yang mengejek asal-usul rasial skuad Perancis, hingga kebiasaan oknum suporter melemparkan pisang dan meniru gerakan monyet kepada fans Brasil menjadi pemicu utama.
Pada
Piala Dunia 2026, FIFA merilis draf pernyataan resmi yang mengecam keras
tindakan rasisme, setelah seorang pendukung Argentina kedapatan menghina
influencer kulit hitam asal AS, IShowSpeed, dengan kalimat makian saat siaran
langsung.
Respons dingin Messi
Menanggapi tingginya kebencian yang diarahkan kepada timnya, Lionel Messi memilih bersikap dingin dan tidak ambil pusing dengan opini publik di luar negaranya. “Empat tahun lalu di Qatar, kami berhasil membuktikan diri menjadi yang terbaik.
Kini, kami kembali menunjukkan bahwa tidak ada seorang
pun yang memberikan kami kemudahan secara cuma-cuma," ujarnya.
"Kami sukses menempatkan diri lagi di antara dua tim terbaik dunia. Biarlah hal itu terasa menyakitkan bagi siapa pun yang merasa sakit hati,” tegas Messi.
Meskipun banyak orang di Amerika Latin berharap
Argentina kalah, mereka mendapat sambutan meriah di kamp pelatihan di AS,
dengan para penggemar meneriakkan "Messi! Messi!"
Dilansir dari laman : KOMPAS.com
0 Komentar