Aceh Siapkan Sistem Resi Gudang untuk Nilam

 

Foto | Jajaran Pemerintah Aceh mengikuti rapat koordinasi membahas strategi hilirisasi dan penguatan tata kelola komoditas nilam di Banda Aceh.

Banda Aceh – Pemerintah Aceh mulai menyiapkan penerapan Sistem Resi Gudang (SRG) untuk komoditas nilam sebagai langkah strategis mengatasi fluktuasi harga yang selama ini dikeluhkan petani. 

Kebijakan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat hilirisasi industri minyak nilam agar komoditas unggulan Aceh memiliki nilai tambah yang lebih tinggi di pasar internasional.

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, menilai keberadaan SRG menjadi salah satu solusi yang dapat melindungi petani dari gejolak harga yang dipicu permainan spekulan. Selain itu, pemerintah juga akan mendorong pengembangan industri pengolahan minyak nilam agar rantai nilai komoditas tersebut semakin kuat.

"Langkah yang disiapkan saat ini adalah penerapan Sistem Resi Gudang bagi petani nilam, disertai pengembangan hilirisasi industri minyak nilam," ujar Mualem dalam keterangan yang disampaikan Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, di Banda Aceh, Kamis (23/7/2026).

Nurlis menjelaskan, kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Gubernur Aceh yang meminta jajaran pemerintah mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi petani maupun pelaku usaha minyak nilam. Pembahasan itu kemudian dirumuskan dalam Rapat Koordinasi Hilirisasi Nilam yang digelar di Sekretariat Daerah Aceh sehari sebelumnya.

Rapat yang dipimpin Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Aceh, Teuku Robby Irza, melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah, Bank Aceh, serta pelaku usaha. Forum tersebut membahas strategi penguatan tata kelola komoditas nilam mulai dari sektor budidaya hingga pengembangan industri pengolahan.

Dalam pembahasan itu terungkap bahwa peluang pasar minyak nilam dunia masih sangat besar. Kebutuhan global diperkirakan mencapai sekitar 2.500 ton per tahun, sementara produksi dunia baru berkisar 1.600 ton. Indonesia sendiri memasok sekitar 90 persen kebutuhan minyak nilam dunia, dengan hampir 30 persen berasal dari Aceh.

Nilam Aceh selama ini dikenal memiliki kualitas unggul karena kandungan Patchouli Alcohol (PA) yang tinggi. Karakteristik tersebut menjadikan minyak nilam asal Aceh sebagai bahan pencampur utama (blending agent) dalam industri parfum, kosmetik, farmasi hingga aromaterapi di berbagai negara.

Meski memiliki posisi penting di pasar internasional, pengembangan nilam di Aceh masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya ketidakstabilan harga, keterbatasan akses pembiayaan bagi petani, belum seragamnya standar budidaya, serta kualitas bahan baku yang masih beragam akibat pencampuran hasil panen dari berbagai daerah.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Aceh, Teuku Robby Irza, mengatakan penerapan Sistem Resi Gudang menjadi salah satu rekomendasi utama untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani. Melalui skema tersebut, petani memiliki alternatif menyimpan hasil produksinya ketika harga turun sehingga tidak harus menjual dengan harga rendah.

"Peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk merealisasikan Sistem Resi Gudang sehingga gejolak harga akibat spekulan dapat diminimalkan," ujar Robby.

Selain menyiapkan SRG, Pemerintah Aceh juga akan mempercepat pembangunan industri refinery sebagai bagian dari hilirisasi minyak nilam. Di sisi lain, pemerintah akan mengusulkan penerapan SRG kepada Kementerian Perdagangan, memperkuat pembinaan petani secara terpadu, membentuk asosiasi Nilam Aceh, serta membangun kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, perguruan tinggi, lembaga keuangan, dan masyarakat.

Melalui langkah tersebut, Pemerintah Aceh optimistis tata kelola industri nilam akan semakin kuat, nilai tambah produk meningkat, daya saing ekspor semakin tinggi, serta kesejahteraan petani dapat terdongkrak. Upaya itu sekaligus diharapkan memperkokoh posisi Aceh sebagai salah satu sentra produksi minyak nilam berkualitas terbaik di dunia.[]

0 Komentar