Jakarta.AGN - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menargetkan
penyaluran bantuan pangan beras tahap II mulai secara one shoot atau sekaligus
pada Agustus 2026. Total 997,2 ribu ton beras akan digelontorkan kepada 33,24
juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) masing-masing 10 kilogram (kg) dengan
alokasi 3 bulan.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa mengatakan bantuan pangan tahap pertama telah selesai dan berjalan optimal. Oleh karena itu, pelaksanaan bantuan pangan tahap kedua dengan fokus komoditas beras diharapkan semakin baik.
"Bantuan pangan tahap pertama kan sudah 99,7%, selisih
0,3% yang belum itu di wilayah Papua, lalu beberapa wilayah Sumatera dan
Sulawesi. Secara prinsip untuk tahap pertama sudah bagus," kata Ketut
dalam keterangan tertulis, Rabu (15/7/2026).
Adapun realisasi penyaluran bantuan pangan tahap I yang merupakan alokasi Februari dan Maret 2026 telah menyasar 33,14 juta KPM atau 99,7%. Secara kuantitas, total beras yang tersalurkan sebanyak 664,88 ribu ton dan minyak goreng sebanyak 132,97 ribu kiloliter.
Dengan realisasi bantuan pangan tahap I berupa beras 664,88
ribu ton ditambah target salur bantuan pangan tahap II yang 997,2 ribu ton,
menjadikan bantuan pangan 2026 dapat mencapai hingga 1,66 juta ton. Jumlah itu
meningkat hingga 133,83% dibandingkan realisasi bantuan pangan sepanjang 2025
yang totalnya 710,78 ribu ton dengan 4 bulan alokasi.
Ketut menjelaskan penyaluran bantuan pangan tahap II di 2026 berupa beras dengan alokasi 3 bulan telah diputuskan akan disalurkan secara sekaligus atau one shoot. Pemerintah akan mengupayakannya dimulai pada Agustus 2026 setelah ada transfer Anggaran Belanja Tambahan (ABT).
"Tahap kedua diputuskan akan disekaliguskan di Agustus, mungkin bisa sampai lewat September karena kondisi geografis. Jadi telah diputuskan one shoot di Agustus. Nanti kalau sudah masuk ke DIPA Bapanas, tentu nanti Bapak Kepala Bapanas akan menugaskan Bulog," tutur Ketut.
Proses yang sedang ditempuh saat ini adalah menunggu hasil reviu oleh Kementerian Keuangan terhadap pengajuan ABT. Bapanas baru dapat menerbitkan penugasan kepada Perum Bulog setelah ABT tersedia sesuai rekomendasi perbaikan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
"Kami juga prosesnya sudah mengajukan anggaran ke Kementerian Keuangan, sedang direviu oleh Kementerian Keuangan. Kami tentu menunggu adanya anggaran di DIPA Bapanas. Setelah ada, baru akan kita tugaskan untuk bantuan pangan tahap kedua," ucap Ketut.
Bapanas optimis dengan bantuan pangan yang dimasifkan hampir 1 juta ton banyaknya, akan menekan harga beras di pasaran. Ketika harga beras di tingkat konsumen mulai stabil, maka tingkat inflasi akan lebih terkendali.
"Bayangkan 33 juta KPM kali 3 bulan, berarti hampir 1
juta ton beras. Ini langsung diterima di konsumen. Tentu kebutuhan orang
membeli beras di pasar-pasar akan berkurang, nah pasti akan sedikit mengerem
inflasi," papar Ketut.
Dilansir dari laman : detik.com

0 Komentar