
Foto | Pemulangan
jenazah ibu dan anak asal Aceh yang meninggal di Malaysia (Foto: Dok.
Istimewa/Haji Uma)
Aceh Tamiang.AGN - Seorang perempuan Aceh Tamiang, Aceh Putri Hensy Aprilda (22) diduga dibunuh di Malaysia bersama bayinya. Jenazah korban telah dimakamkan di kampung halamannya.
Pemulangan jenazah korban dilakukan melalui koordinasi
antara KBRI Kuala Lumpur, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, pihak keluarga
korban, serta tim pendamping Haji Uma di Malaysia.
Jenazah tiba di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara pada Rabu (24/6) sekitar pukul 09.00 WIB dan langsung dibawa ke rumah duka di Kampung Alur Manis, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang.
Warga menyambut kedatangan jenazah dan membantu proses
pemakaman. Pemulangan jenazah korban dari Malaysia dilakukan dengan biaya
patungan berbagai pihak.
"Total biaya pengurusan dan pemulangan jenazah sekitar Rp 28 juta. Bantuan berasal dari Pemkab Aceh Tamiang sebesar Rp10 juta, bantuan pribadi saya Rp5,4 juta termasuk biaya cargo, dari keluarga dan tokoh serta masyarakat sekitar Rp 5 juta, dan selebihnya dari masyarakat Aceh di Malaysia 7.480.000 yang ikut bergotong royong membantu," kata Anggota DPD RI Asal Aceh Sudirman Haji Uma kepada wartawan, Kamis (25/6/2026).
Menurut Haji Uma, semangat kebersamaan masyarakat Aceh di perantauan menjadi salah satu faktor yang membantu proses pemulangan jenazah berjalan lancar hingga tiba di rumah duka. Haji Uma mengaku pihaknya telah mengawal proses pemulangan sejak awal setelah menerima informasi dari KBRI Kuala Lumpur.
"Sejak awal kami berkoordinasi dengan KBRI Kuala Lumpur dan berbagai pihak termasuk tim di Malaysia serta masyarakat Aceh di sana untuk memastikan proses pemulangan berjalan dengan baik. Alhamdulillah jenazah sudah tiba dan diserahkan kepada pihak keluarga," jelas Haji Uma.
Haji Uma mengingatkan masyarakat agar menggunakan jalur resmi apabila ingin bekerja ke luar negeri. Menurutnya, pekerja migran yang berangkat secara non-prosedural lebih rentan menghadapi berbagai persoalan karena tidak memiliki perlindungan hukum yang memadai.
"Harus melalui prosedur resmi, ada kontrak kerja dan legalitas yang jelas. Banyak persoalan yang dialami pekerja migran non-prosedural karena mereka tidak memiliki perlindungan yang kuat ketika menghadapi masalah di negara penempatan," ujarnya.
Sebelumnya, Putri diduga dibunuh di Malaysia bersama bayinya. Korban disiksa dengan kejam bahkan perutnya diinjak berkali-kali hingga akhirnya lahiran.
"Korban disiksa dengan sangat kejam. Perutnya dipijak
dan dipukul berulang kali hingga akhirnya melahirkan sendiri sebelum waktunya.
Dalam kondisi tersebut, bayi lahir berlumuran darah," kata Haji Uma,
Selasa (23/6).
Haji Uma mendapatkan informasinya itu setelah timnya dan Gabungan Aceh Bersatu (GAB) Malaysia melakukan penelusuran serta pengurusan jenazah korban dan bayi di Negeri Jiran. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari tim di lapangan, insiden tragis terjadi mulai 25 Maret di kawasan Klang, Selangor.
Menurutnya, penganiayaan itu berujung korban melahirkan prematur. Bayi yang lahir diduga disiksa hingga meninggal dunia.
"Bayi itu tidak hanya sekali disakiti, tetapi diduga berulang kali diperlakukan secara kejam hingga akhirnya meninggal dunia," jelasnya.
Setelah kejadian itu, kata Haji Uma, bayi sempat ditinggalkan di lokasi kejadian. Sementara Putri dibawa pelaku ke kawasan Sepang, Selangor.
Warga yang menemukan bayi tersebut kemudian membawanya ke Hospital Tengku Ampuan Rahimah (HTAR) Klang. Haji Uma menjelaskan, Putri sempat dibawa pelaku ke sebuah apartemen di kawasan Sepang dan diduga kembali mengalami penyiksaan hingga akhirnya meninggal dunia.
"Jenazah korban kemudian dibawa ke Hospital Sultan Idris Shah Serdang untuk proses penanganan lebih lanjut oleh pihak berwenang Malaysia," ujarnya.
Berdasarkan informasi diperolehnya, kata Haji Uma, terduga pelaku CSL (44) telah ditangkap polisi setempat.
"Ini tindakan yang sangat kejam dan biadab. Kami
berharap pelaku dihukum seberat-beratnya dan kasus ini diusut tuntas sampai ke
akar-akarnya," ujar Haji Uma.
Dilansir dari laman : detik.com
0 Komentar