PEMERINTAH Kota Sabang kembali menegaskan komitmennya membangun fondasi ketahanan pangan yang kuat dan berkelanjutan.
Di bawah kepemimpinan Wali Kota Sabang, Zulkifli H. Adam, arah pembangunan daerah kini semakin terfokus pada penguatan produksi pangan lokal sebagai strategi menghadapi tantangan geografis wilayah kepulauan.
Langkah konkret itu dimulai melalui penanaman perdana program ketahanan pangan di lahan BUMDes Mandiri Gampong Paya Seunara. Momentum tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan simbol dimulainya gerakan kolektif membangun kemandirian pangan dari tingkat gampong.
Kemandirian pangan bukan pilihan, tetapi keharusan. Oleh karenanya Sabang tidak boleh terus bergantung sepenuhnya pada pasokan dari luar.
Sebagai kota kepulauan di ujung barat Indonesia, Sabang memiliki karakteristik geografis yang unik. Ketergantungan terhadap pasokan bahan pokok dari daratan membuat stabilitas pangan sangat dipengaruhi faktor eksternal mulai dari cuaca ekstrem, gelombang tinggi, hingga kendala transportasi laut.
Situasi tersebut menjadi alarm bagi pemerintah daerah. Gangguan distribusi bukan sekadar persoalan logistik, tetapi berpotensi memicu lonjakan harga dan tekanan inflasi. Karena itu, penguatan produksi pangan lokal menjadi strategi utama untuk membangun daya tahan ekonomi masyarakat.
Pemko Sabang pun merancang program ketahanan pangan yang terintegrasi, melibatkan seluruh elemen, mulai dari pemerintah daerah, aparatur gampong, kelompok tani, hingga dukungan unsur TNI dan Polri.
Untuk mencapai tujuan percepatan program tersebut Pemerintah Kota Sabang telah menyiapkan lahan bekerjasama dengan Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) sekitar 200 hektar lahan yang akan dimanfaatkan oleh petani dari 18 gampong.
Langkah ini menjadi tonggak penting karena membuka ruang perluasan areal tanam secara signifikan. Dengan optimalisasi lahan tersebut, Sabang diharapkan mampu secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar daerah.
"Pastinya Pemerintah Kota Sabang pastikan dukungan anggaran, sarana produksi, serta infrastruktur pendukung agar program ini terus berjalan optimal dan berkelanjutan.
Karena kita ingin kesiapan pangan harus dibangun sejak sekarang. Ketahanan pangan berkaitan langsung dengan stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat," kata Wali Kota Sabang Zulkifli H Adam.
Disebutkan, pada tahap awal sebelumnya komoditas yang dikembangkan adalah jagung dan padi gogo. Kedua komoditas ini dinilai adaptif terhadap kondisi lahan Sabang yang sebagian berbatu dan memiliki karakter tanah kering.
Targetnya cukup ambisius, minimal separuh kebutuhan pangan Sabang dapat dipenuhi dari produksi lokal dalam beberapa tahun ke depan.
Pendampingan intensif dilakukan melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Pemerintah juga menyediakan bibit unggul, pupuk, serta dukungan teknis budidaya untuk memastikan produktivitas terus meningkat.
Selain memperkuat ketersediaan pangan, program ini juga diarahkan menjaga stabilitas harga dan menekan laju inflasi daerah.
![]() |
| Foto | Sekretaris Daerah Kota Sabang Andri Nourman bersama Forkopimcam Kecamatan Sukamakmue Sabang panen perdana Padi Gogo |
Meski menghadapi kendala teknis seperti kondisi lahan berbatu, semangat masyarakat tetap tinggi. Pendekatan bertahap dilakukan, mulai dari pembersihan lahan hingga peningkatan kualitas tanah.
Optimisme ini menjadi fondasi penting bahwa gerakan ketahanan pangan bukan sekadar program pemerintah, tetapi telah menjadi kesadaran kolektif masyarakat.
Kegiatan serupa juga dilakukan
di Gampong Bateeshok panen padi beberapa waktu lalu yang turut dihadiri Wakil Wali Kota Sabang, Suradji Junus, bersama Muspida.
Di lahan seluas sekitar satu hektare yang ditanami varietas Infago 13 berhasil menghasilkan estimasi 2 hingga 2,5 ton gabah.
Capaian ini dinilai sebagai indikator produktivitas yang menjanjikan, sekaligus motivasi bagi petani untuk terus meningkatkan teknik budidaya.
Panen tersebut bukan sekadar hasil produksi, melainkan simbol sinergi antara pemerintah, TNI, dan petani dalam membangun ketahanan pangan daerah.
Data menunjukkan bahwa luas areal tanam padi di Sabang meningkat signifikan. Jika sebelumnya hanya sekitar 20 hektare, kini telah mencapai kurang lebih 40 hektare yang tersebar di tiga kecamatan.
Pemerintah menilai angka ini masih berpotensi dikembangkan hingga dua kali lipat dalam beberapa tahun mendatang, terutama dengan dukungan lahan yang disiapkan bersama BPKS.
Menurut Zulkifli H Adam, peningkatan luas tanam dan produksi lokal merupakan strategi konkret menghadapi dinamika pasca bencana di sejumlah wilayah Sumatera, termasuk Aceh.
![]() |
| Foto | Penanaman Perdana dalam rangka ketahanan pangan dilakukan oleh Wali Kota Sabang zulkifli H Adam bersama Forkopimda di Gampong (Desa) Paya Seunara |
Kecuali itu juga pemerintah daerah juga telah menyiapkan mekanisme penyerapan gabah melalui Bulog, sehingga petani memiliki kepastian pasar atas hasil panen mereka. Langkah ini penting untuk menjaga semangat produksi dan menjamin keberlanjutan usaha tani.
Sebagai percontohan di Gampong Bateeshoek, hasil panen dikelola melalui BUMDes Mandiri yang telah memiliki mesin penggilingan padi. Sistem ini memungkinkan proses pengolahan dilakukan langsung di tingkat gampong, meningkatkan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Dengan manajemen yang semakin baik, rantai produksi hingga distribusi menjadi lebih efisien dan memberikan manfaat langsung kepada warga.
Program ketahanan pangan Sabang dirancang sebagai agenda strategis jangka panjang, bukan sekadar respons situasional. Pemerintah daerah menargetkan terbentuknya sistem pangan lokal yang tangguh, adaptif, dan mampu menopang kebutuhan masyarakat secara bertahap.
Pengembangan tidak berhenti pada padi dan jagung. Komoditas hortikultura juga mulai dirancang untuk memperluas sumber pangan lokal sekaligus meningkatkan diversifikasi konsumsi.
Dengan pendekatan kolaboratif dan dukungan lintas sektor, Sabang optimistis dapat membangun sistem pangan yang lebih mandiri.
Panen demi panen yang terlaksana menjadi bukti bahwa komitmen tersebut bukan sekadar wacana. Dari Gampong Bateeshoek hingga Gampong Paya Seunara, gerakan kemandirian pangan telah tumbuh menjadi gerakan bersama.
"Saya ingin Sabang nanti tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata bahari, tetapi juga mulai meneguhkan diri sebagai daerah yang berdaulat atas pangannya sendiri.
Langkah ini menjadi fondasi penting menuju stabilitas ekonomi, pengendalian inflasi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang," tutupnya.[ADV]

.jpeg)


0 Komentar