![]() |
| Foto | Pesantren Terpadu Al-Mujaddid Sabang |
Sabang.AGN – Ratusan wali santri Pesantren Terpadu Al-Mujaddid Sabang menyatakan siap turun ke jalan dan menggelar aksi di Kantor Wali Kota Sabang apabila pemerintah daerah tidak segera memberikan kepastian terkait kelanjutan operasional pesantren tersebut.
Ancaman aksi massa mencuat setelah pihak yayasan menyampaikan bahwa mereka tidak lagi mampu menutupi kebutuhan operasional, hingga menyebabkan pesantren ditutup sementara.
Pengawas pendidikan Pesantren Al-Mujaddid, Ade Suryadi, yang menghadiri pertemuan wali santri, menegaskan bahwa pesantren tersebut tidak boleh berhenti beroperasi. Menurutnya, Al-Mujaddid telah memberikan kontribusi besar bagi dunia pendidikan di Sabang dan menghasilkan banyak lulusan berprestasi.
“Pesantren Al-Mujaddid harus eksis sampai kapan pun. Kalau dilihat dari hasil yang sudah dicapai, kualitasnya luar biasa. Termasuk anak saya sendiri alumninya. Pesantren ini tidak bisa dipandang sebelah mata,” kata Ade Suryadi, Senin (8/12/2025), didampingi sejumlah wali santri.
Ia menambahkan bahwa pemerintah seharusnya memiliki langkah antisipasi berdasarkan nota kesepahaman yang pernah ditandatangani antara yayasan dan Pemerintah Kota Sabang. Dalam MoU tersebut, Pemko menyatakan kesediaan menyediakan biaya operasional secukupnya.
“Seharusnya ada solusi dari Pemko Sabang. Masalah anggaran sudah tertuang dalam MoU, jadi mestinya dipenuhi. Jangan sampai anak-anak kehilangan hak belajar,” ujarnya.
Menurutnya, hampir seluruh wali santri menyatakan kesediaan menyampaikan aspirasi secara terbuka apabila tidak ada kejelasan dari pemerintah. “Kalau melihat pertemuan tadi, sekitar 100 persen wali santri siap berorasi menuntut hak kelanjutan pendidikan anak-anak mereka di Al-Mujaddid,” tegasnya.
Sejumlah wali santri, di antaranya Fakri Kamal, Nadia, dan Harianto, menyampaikan bahwa mereka sangat cemas karena penutupan pesantren terjadi di tengah semester tahun pelajaran berjalan. Banyak santri kelas akhir kini berada dalam situasi genting menjelang ujian kelulusan semester genap.
“Orang tua bertanya-tanya terus. Kalau pesantren berhenti, anak-anak tidak tahu harus pindah ke mana. Ini sudah pertengahan tahun ajaran dan kita tidak punya banyak waktu,” ujar mereka.
Para orang tua menegaskan bahwa pemindahan siswa ke sekolah umum bukan solusi ideal karena dapat menimbulkan masalah administrasi. Sistem data pendidikan seperti Dapodik untuk sekolah umum dan EMIS untuk pesantren telah terkunci pada semester berjalan, sehingga proses mutasi siswa akan semakin rumit.
“Dapodik sudah terkunci, nilai semester sudah masuk. Pesantren memakai EMIS. Jika dipindahkan sekarang, administrasinya tidak sinkron. Ini yang membuat orang tua kebingungan,” tambah mereka.
Kekhawatiran terbesar datang dari santri kelas 3 SMP dan kelas 3 SMA yang sebentar lagi menghadapi ujian kelulusan. Ketidakpastian operasional pesantren dinilai berpotensi menghambat proses kelulusan dan memutus kelanjutan studi mereka.
“Mereka hanya menghitung bulan menuju ujian. Kalau pesantren tidak berjalan, dimana mereka ujian? Bagaimana nasib nilai mereka? Bagaimana mereka bisa lanjut ke jenjang berikutnya?” ucap salah satu wali santri.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Pesantren Terpadu Al-Mujaddid Kota Sabang resmi menghentikan sementara seluruh kegiatan pendidikan melalui maklumat bernomor 112/YPTMKS/XI/2025 tertanggal 5 Desember 2025. Penutupan diputuskan setelah rapat internal pengurus pesantren dan Majelis Guru Al-Mujaddid menyusul ketiadaan dana operasional.[]

0 Komentar