![]() |
| Foto | Irwan Mahdi FB - Ilham Nabila |
Oleh : Bang Iwan Bule
“Jika racikan bumbu ayam kala dan kari kambing Wak Ali telah memikat lidah ribuan warga Sabang, maka kisah perjalanan hidup dan perjuangannya mendapatkan bumbu rahasia itu tak kalah fantastis.”
Wak Ali lahir di Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh tepat di depan Warkop Solong yang historis. Masa kecil hingga remajanya dihabiskan di kawasan itu. Suatu hari, ketika masih memakai “siluweu puntong”, sekitar tahun 70-an, seorang teman mengajaknya naik kereta api ke Ulee Lheu untuk melihat kapal-kapal di pelabuhan. Setelah berjalan-jalan, temannya kembali menggoda: “Naik kapal yuk, jalan-jalan sedikit!”
Tanpa ia sadari, ajakan itu adalah “jebakan manis”. Temannya berniat merantau bekerja ke Sabang, tetapi tidak ingin pergi sendirian. Jadilah petualangan kecil itu membawa Wak Ali ke pulau yang kelak menjadi ladang rezekinya.
Setibanya di Sabang yang kala itu begitu tersohor sebagai kawasan pelabuhan bebas Wak Ali bekerja sebagai buruh bongkar muat di kapal-kapal Freeport yang datang silih berganti. Dua tahun bekerja sebagai buruh, ia kemudian banting setir menjadi pedagang bawang, cabai, dan aneka rempah di Jalan Perdagangan, jantung ekonomi Sabang pada masa itu.
Di sinilah takdir mengantarnya pada keahlian yang membuat namanya melegenda. Di antara pembeli rempah Wak Ali terdapat awak kapal dari India yang rutin berlabuh membawa kain cap gajah sangat terkenal pada zamannya. Para pelaut India ini sering membeli rempah dan kerap meminta Wak Ali mencarikan bumbu-bumbu tertentu untuk memasak gulai ayam dan kambing khas India.
Dari permintaan demi permintaan itu, Wak Ali mulai mencatat, mempelajari, dan memahami cara mereka meracik bumbu. Ia tidak hanya menjual, tetapi mengamati. Tidak hanya melihat, tetapi belajar. Sampai akhirnya ia mencoba membuat racikan sendiri dan menjualnya kepada warga.
Hasilnya luar biasa resep itu digemari hampir semua orang.
Itulah titik awal lahirnya Wak Ali sebagai peracik bumbu masakan Aceh. Dari pengamatan sederhana, dari pertemuan internasional antara rempah Sabang dan lidah India, lahirlah racikan yang hari ini menjadi bagian dari identitas kuliner Sabang.
Kini, siapa yang tidak mengenal Wak Ali? Lebih dari 30 tahun ia berjualan bumbu masak di pasar sayur kawasan Tangga Tujuh. Hampir setiap acara kenduri, camping, akikah, hingga pesta kecil di rumah mengandalkan bumbu racikannya. Bahan dasar masakan Aceh seperti kunyit, camplie kleeng, dan ue lheu memang sama seperti tempat lain. Tetapi yang membuat bumbu Wak Ali berbeda adalah satu elemen misterius: resep rahasia “aweuh lheu”, yang tak dimiliki peracik lainnya.
Ingin belajar memasak masakan Aceh? Datanglah ke pasar sayur di atas Tangga Tujuh. Selain menjual bumbu, Wak Ali yang dikenal super ramah ini tak segan mengajari langkah demi langkah memasak agar hasilnya maksimal dan membuat kita TEU LOM-LOM!

0 Komentar