Pimpinan Ponpes Bantah Santri Bakar Pesantren di Aceh akibat "Bullying"

 

Foto | Petugas saat memadamkan api yang membakar pesantren Babul Maghfirah, Aceh Besar. (Dok Pemadam Kebakaran Aceh Besar)

Aceh Besar.AGN - Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Babul Maghfirah, Ustaz Masrul Aidi, membantah dan mengaku kecewa atas pernyataan polisi yang menyebut pembakaran pesantren oleh santrinya diduga akibat pengaruh bullying. 

Masrul menilai, Polresta Banda Aceh terlalu dini menyimpulkan motif di balik peristiwa yang terjadi, sehingga telah menimbulkan dampak negatif bagi citra dayah atau pesantren secara umum. 

“Kesimpulan yang disampaikan terlalu prematur dan itu dijadikan serangan oleh pihak-pihak yang tidak senang kepada dayah. Seolah-olah dayah itu adalah ruang tempat pembulian kepada anak-anak dan seolah-olah itu legal diizinkan di dayah,” katanya saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (8/11/2025).

Masrul menegaskan, di lingkungan Ponpes Babul Mahgfirah sangat tegas dan tidak mentoleransi aksi bullying. Bahkan, pihaknya memiliki tim pencegehan dan penanganan kekerasan (TPPK).

"Kita sudah ada tim pencegahan dan penanganan kekerasan di sekolah, sebagai bukti bahwa tidak ada toleransi untuk kasus perundungan," ujarnya.

Masrul turut menjelaskan beberapa poin yang menurutnya janggal jika motif pembakaran oleh santri kelas 12 tersebut karena faktor perundungan. Pertama, santri tersebut merupakan murid kelas 12 (kelas 3). 

Secara tingkatan dia adalah murid paling senior. Tidak mungkin yang bersangkutan di-bully oleh adik-adik kelasnya sendiri. "Siapa yang mem-bully? Dia adalah murid kelas 3 SMA. Artinya enggak ada lagi senior di atasnya, dia yang paling senior," katanya.

Kemudian, sebut Masrul, sebagai catatan sang anak (pelaku pembakaran) juga memiliki saudara kembar berada di kelas yang sama sehingga dia tidak sendiri. "Bagaimana mungkin dia berdua dengan abangnya bisa di-bully oleh orang lain dan dibiarkan," ucapnya.  

Selain itu, selama tiga tahun berada di pesantren, santri itu tidak pernah melapor adanya bullying, baik kepada abangnya sendiri, orangtua, dan ustaz (wali kamar).

"Sudah 3 tahun menjadi murid di pesantren Babul Maghfirah, kenapa dia tidak melapor? Atau kepada guru-gurunya yang lain yang dia berinteraksi, atau kenapa dia tidak melapor kepada ibunya selama 3 tahun tersebut," tanya Masrul.  

Oleh sebab itu, Masrul menilai aneh dan tidak masuk akal pernyataan polisi yang menyebut tindakan bullying yang menyebabkan santri itu merasa tertekan secara mental sehingga timbul niat untuk membakar gedung asrama.  

"Pertanyaannya, apakah itu terlalu berat sehingga memberikan kekuatan baginya untuk melakukan kriminal sampai membakar pesantren. Rasanya tidak masuk akal hanya gara-gara disebut bodoh dan tolol menggerakkan dia untuk melakukan kejahatan separah itu," tuturnya.

Pelaku adalah anak berprestasi

Masrul mengungkapkan, santri pelaku pembakaran pesantren tersebut merupakan murid yang berprestasi. Dia kerap mendapatkan penghargaan dan mewakili pesantren setiap ada perlombaan cerdas-cermat. 

Masrul menilai, korban bullying menyebabkan keterbelakangan (ketertinggalan) dan tidak bersosialisasi. Sedangkan sang anak adalah siswa berprestasi dan juara kelas. "Bagaimana anak yang cerdas begini dianggap sebagai anak korban bully. Yang biasanya kita tahu orang yang di-bully itu tidak berkembang intelektualitasnya, tidak berkembang kemampuan akademiknya," kata Masrul.

Atas dasar itu, Masrul mengaku kecewa terhadap kesimpulan sepihak dari Polresta tanpa konfirmasi lagi kepada pesantren terkait dugaan motif di balik tindakan kriminal tersebut. "Makanya saya kecewa kepada pihak Polresta yang terlalu prematur mengambil kesimpulan, dan menyebabkan sekarang kami justru pihak pesantren ini yang di-bully," katanya. 

Diberitakan sebelumnya, seorang santri Pondok Pesantren Babul Maghfirah di Kabupaten Aceh Besar diduga membakar gedung asrama putra pada Jumat (31/10/2025). Kobaran api merambat ke bangunan kantin dan rumah salah satu pembina yayasan.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Joko Heri Purwono, mengatakan, pelaku melakukan tindakan itu karena mengalami tekanan psikologis akibat perundungan. 

"Tindakan bullying yang dialami anak pelaku di antaranya sering dikatakan idiot ataupun tolol, hal tersebut menyebabkan ia merasa tertekan secara mental sehingga timbul niat untuk membakar gedung asrama, dengan tujuan agar semua barang-barang milik teman-temannya yang selama ini sering melakukan bullying terhadap dirinya agar habis terbakar," kata Joko.

 

Dilansir dari laman : KOMPAS.com

0 Komentar