Peringatan Maulid Nabi Bentuk Rasa Cinta Kita kepada Rasulullah

Foto | Tgk. Yusri Puteh ceramah peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1447 Hijriah/2025 Masehi  di halaman Mesjid Agung Babussalam Kota Sabang, kamis (4/9) malam.

BULAN Rabiul Awal kembali menyapa umat Islam di seluruh dunia. Di dalam kalender hijriah, bulan ini memiliki kedudukan istimewa karena menjadi momentum kelahiran Rasulullah Muhammad SAW, manusia pilihan yang membawa rahmat bagi semesta. 

Bagi masyarakat Aceh, peringatan Maulid Nabi bukan sekadar agenda seremonial keagamaan, tetapi sudah menjadi identitas budaya yang mengakar kuat, diwariskan turun temurun, dan membentuk karakter sosial masyarakat hingga hari ini.

Tahun ini, 12 Rabiul Awal 1447 Hijriah kembali dirayakan dengan penuh suka cita. Di berbagai daerah di Aceh, termasuk Kota Sabang, gema selawat, lantunan kitab barzanji, serta aktivitas sosial menyertai peringatan maulid yang telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. Tradisi ini bukan hanya menjadi wujud kecintaan kepada Rasulullah, tetapi juga simbol kuatnya kebersamaan dan solidaritas dalam masyarakat Aceh.

sejak memasuki awal bulan Rabiul Awal, masyarakat Aceh telah memulai berbagai persiapan. Tidak hanya persiapan batin, tradisi maulid juga memerlukan kerja kolektif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. 

Persiapan bahan pokok untuk hidangan, musyawarah gampong untuk menentukan hari pelaksanaan, pembagian tugas, hingga penggalangan dana melalui mekanisme ripee (kumpul duit), menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari tradisi ini.

Pelaksanaan maulid di Aceh bahkan disebut sebagai salah satu tradisi terbesar yang mampu menggerakkan masyarakat dari tingkat gampong hingga ke lingkup institusi formal. Serangkaian kegiatan dilakukan secara gotong royong, menggambarkan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial yang menjadi ciri khas masyarakat Aceh.

Di banyak tempat, persiapan maulid dilakukan jauh-jauh hari. Perangkat gampong, tokoh masyarakat, pemuda, hingga ibu-ibu rumah tangga mengambil peran dalam proses ini. 

Foto | Wali Kota Sabang Zulkifli H. Adam menghadiri Ceramah peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1447 Hijriah/2025 Masehi oleh Tgk. Yusri Puteh di halaman Mesjid Agung Babussalam Kota Sabang.

Sebagian menyiapkan logistik dan bahan makanan, sebagian lain menata tempat acara, sementara para santri dan pemuda mempersiapkan pembacaan selawat atau perlombaan bernuansa islami.

Maka tidak mengherankan jika peringatan maulid di Aceh tidak hanya sekadar acara keagamaan, tetapi menjadi perekat sosial yang memperkuat hubungan antarmasyarakat. Maulid telah menciptakan ruang silaturahmi dalam skala besar dan menjadi wadah transfer nilai-nilai keagamaan, pendidikan, hingga adat istiadat.

Wali Kota Sabang, Zulkifli H Adam, mengatakan bahwa peringatan Maulid Nabi di Aceh memiliki karakter unik. Tradisi ini tidak hanya dilakukan di tingkat gampong atau masjid saja. 

Di Aceh, peringatan maulid dapat dijumpai hampir di setiap lapisan masyarakat, mulai dari dayah-dayah (pesantren), balee buet (balai pengajian), sekolah-sekolah, organisasi masyarakat, hingga kantor pemerintahan dan lembaga nonpemerintah.

Menurut Zulkifli H Adam, keberagaman lokasi pelaksanaan maulid menunjukkan besarnya kecintaan masyarakat Aceh kepada Rasulullah. Bahkan di Sabang, tidak sedikit masyarakat yang menyelenggarakan maulid di rumah masing-masing secara mandiri. Tradisi ini berlangsung dengan penuh kekhusukan dan menjadi ajang mempererat ukhuwah.

“Meneladani akhlak mulia Rasulullah, mengamalkan sunnah, dan menerapkannya dalam seluruh aspek kehidupan menjadi pesan penting yang ingin disampaikan melalui perayaan maulid,” ujar Wali Kota Sabang.

Kegiatan peringatan maulid dilakukan tidak hanya untuk bersyukur atas kelahiran Rasulullah, tetapi juga untuk menyebarkan nilai-nilai keteladanan. Dari sifat sabar, jujur, ramah, hingga kepedulian sosial, seluruh pesan tersebut menjadi inti dari ceramah dan pengajian yang digelar di berbagai tempat.

Foto | Wali Kota Sabang Zulkifli H Adam bersama Jama'ah lainnya bersama memanjatkan do'a pada  peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1447 Hijriah/2025 Masehi

peringatan maulid di Aceh umumnya dikemas dalam berjemaah membaca kitab barzanji, sebuah karya sastra Islam yang menceritakan perjalanan hidup dan kemuliaan Rasulullah. Pembacaan barzanji menjadi bagian inti dari rangkaian acara, disertai dengan selawat kepada Nabi Muhammad SAW serta pembacaan doa bersama.

Setelah rangkaian ibadah tersebut, masyarakat kemudian melanjutkan dengan makan bersama. Hidangan maulid, seperti nasi kenduri, daging kuah besar, serta berbagai makanan khas Aceh, disajikan di atas hidang panjang yang dinikmati secara bersama-sama. 

Agenda ini merupakan simbol kebersamaan, sekaligus bentuk rasa syukur masyarakat atas nikmat dan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT.

Makan bersama dalam peringatan maulid tidak hanya dilakukan oleh warga yang hadir dalam acara, tetapi juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berbagi. Fakir miskin, anak yatim, dan tamu undangan khusus sering menjadi prioritas. Pembagian hidangan maulid ke rumah-rumah warga yang tidak dapat hadir juga lazim dilakukan sebagai bentuk kepedulian sosial.

Selain itu, pada malam harinya biasanya digelar ceramah agama. Penceramah mengisahkan sejarah kelahiran Rasulullah, perjuangan beliau dalam menyebarkan Islam, serta keteladanan akhlak yang patut diikuti oleh umat saat ini. Ceramah tersebut menjadi sarana edukasi bagi generasi muda dan anak-anak agar mereka mengenal lebih dekat profil Nabi Muhammad dan meneladani kepribadiannya.

Salah satu keunikan pelaksanaan maulid di Aceh adalah keterlibatan aktif para santri dan generasi muda. Di banyak dayah, maulid bahkan menjadi momentum untuk menyelenggarakan berbagai perlombaan bernuansa islami. 

Lomba pidato, cerdas cermat sirah nabawiyah, baca kitab kuning, hingga lomba bercerita tentang Nabi Muhammad, menjadi kegiatan rutin yang digelar setiap tahun.

Foto | Antusias masyarakat menghadiri peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1447 Hijriah/2025 Masehi di halaman Mesjid Agung Babussalam Sabang

Perlombaan tersebut tidak sekadar kegiatan seremonial, tetapi memiliki nilai pendidikan yang tinggi. Generasi muda diperkenalkan pada sejarah, ajaran, dan keteladanan Rasulullah melalui pendekatan kompetitif yang sehat. Dalam jangka panjang, hal ini membantu memperkuat identitas keislaman dan budaya Aceh di tengah arus modernisasi.

Kegiatan seperti ini juga menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya kecintaan kepada Rasulullah. Anak-anak yang sejak dini memahami sejarah kehidupan Nabi cenderung tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat, berakhlak baik, dan memiliki pengetahuan agama yang memadai.

Pemerintah Kota Sabang turut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan maulid setiap tahun. Selain memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyelenggarakan acara secara mandiri, pemerintah juga ikut serta melalui institusi-institusi resmi, baik sekolah maupun kantor pemerintahan.

Wali Kota Sabang menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi tidak hanya menjadi tradisi keagamaan, tetapi juga media untuk memperkuat nilai-nilai sosial dan kebudayaan. Menurutnya, tradisi maulid harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Tradisi Maulid Nabi telah hidup ratusan tahun di masyarakat Aceh. Ini adalah kekayaan budaya dan sekaligus media dakwah yang sangat efektif. Pemerintah tentu mendukung pelaksanaannya sepanjang berjalan dengan tertib dan sesuai syariat,” ujar Zulkifli.

Ia menambahkan bahwa peringatan maulid merupakan momentum yang tepat untuk mempererat persaudaraan, memperkuat keimanan, dan menyegarkan kembali semangat kebersamaan. Nilai-nilai tersebut sangat relevan dalam kehidupan masyarakat kontemporer yang menghadapi berbagai tantangan sosial.

Peringatan Maulid Nabi di Aceh, termasuk di Kota Sabang, adalah tradisi yang tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang. Di tengah derasnya arus globalisasi, tradisi ini menjadi titik pijak untuk menjaga identitas masyarakat. Semangat kebersamaan, gotong royong, serta kecintaan kepada Rasulullah menjadi nilai yang terus ditanamkan melalui perayaan maulid.

Tradisi ini mengajarkan bahwa keberagamaan tidak hanya terletak pada ritual ibadah, tetapi juga pada bagaimana masyarakat menerapkan nilai-nilai akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Kedermawanan, kepedulian sosial, kesederhanaan, hingga saling menghormati, menjadi spirit utama yang ingin diwariskan dari setiap perayaan maulid.

Ketika masyarakat berkumpu, berselawat, mendengarkan ceramah, dan berbagi hidangan, maka sesungguhnya mereka sedang memperkuat fondasi sosial yang sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan bermasyarakat.[ADV]

0 Komentar