NATO Kembali Waspada Usai Rusia Rampungkan Rudal Jelajah Bertenaga Nuklir

 

Foto | Fregat Admiral Gorshkov bernomor lambung 454 menembakkan rudal jelajah hipersonik Tsirkon atan Zircon 1.000 km dari Laut Barents ke sasaran laut di Laut Putih. (Kementerian Pertahanan Federasi Rusia via TASS)

Moskwa.AGN - NATO meningkatkan kewaspadaan setelah Rusia menyelesaikan pengembangan rudal jelajah Burevestnik bertenaga nuklir.

Diketahui, rudal itu jadi sistem persenjataan yang disebut NATO sebagai ancaman besar karena jangkauan dan kemampuan manuvernya yang ekstrem. Rudal tersebut, dikenal NATO sebagai SSC-X-9 Skyfall, dapat melaju lebih dari 900 kilometer per jam dan diluncurkan dari platform bergerak.

Informasi itu tertuang dalam dokumen intelijen NATO yang dikutip media Jerman Die Welt. Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan keberhasilan uji coba rudal itu tiga pekan lalu.

Kemampuan Burevestnik

NATO menilai reaktor nuklir pada Burevestnik memungkinkan rudal tersebut memiliki jangkauan hampir tak terbatas. Sistem ini secara teoritis dapat menempuh puluhan ribu kilometer tanpa pengisian bahan bakar, tetap mengudara dalam waktu lama, berganti arah, serta menyerang target dari berbagai penjuru.

Dokumen itu menyebut tantangan yang muncul akan kian besar akibat kemampuan manuver rudal tersebut. Burevestnik dinilai mampu mengambil rute tidak langsung dan menghindari pertahanan udara NATO, termasuk di wilayah selatan dan kutub yang minim pengawasan.

NATO memperingatkan bahwa jika Burevestnik dikerahkan, Eropa akan menghadapi ancaman yang sangat sulit ditangani. Sejumlah ahli mencatat kelemahan rudal tersebut karena tidak mencapai kecepatan hipersonik. Durasi terbang yang panjang juga membuatnya semakin rentan, sebagaimana diberitakan Euronews pada Minggu (16/11/2025).

Rudal Oreshnik dan ancaman baru

Selain Burevestnik, NATO juga memantau rudal jarak menengah baru Rusia, SS-X-28 Oreshnik, yang pertama diuji coba di Ukraina pada November 2024. Jangkauannya diperkirakan mencapai 5.500 kilometer dengan kemungkinan membawa berbagai jenis hulu ledak, termasuk nuklir.

“Kemampuan untuk menyerang target di mana pun di Eropa, dikombinasikan dengan mobilitas peluncurnya, memastikan tingkat keberlangsungan yang tinggi,” demikian penilaian dalam dokumen tersebut.

Belarus dijadwalkan mengerahkan rudal Oreshnik pada Desember 2025. Informasi itu disampaikan juru bicara Presiden Belarus Aliaksandr Lukashenka, Natalia Eismont, kepada media pemerintah Rusia. Lukashenka menyebut langkah tersebut sebagai respons terhadap eskalasi dari Barat.

Poseidon dan keterbatasan NATO

Dokumen NATO juga menyoroti pesawat nirawak bawah laut Poseidon bertenaga nuklir yang diperkirakan beroperasi pada 2030. Sistem itu dinilai berpotensi menyerang pangkalan angkatan laut, pelabuhan, dan kota pesisir di Pasifik, pantai timur AS, Inggris, dan Prancis.

NATO menyebut kapal selam pengangkut Poseidon akan sulit dideteksi. Aliansi itu juga mengakui kekurangan kemampuan antikapal selam karena tidak memiliki torpedo dengan kecepatan dan jangkauan yang memadai untuk menanggulangi Poseidon.

Dokumen tersebut menegaskan bahwa NATO menghadapi kekurangan signifikan dalam kemampuan jarak menengah dan jauh, terutama yang terkait senjata nuklir.

Pandangan para pakar

Tidak semua pakar meyakini keunggulan Burevestnik. Fabian Hoffmann, peneliti Proyek Nuklir Oslo di Universitas Oslo, menyebut rudal itu sebagai sistem senjata yang tidak berguna dan berlebihan. Pada 2019, lima ilmuwan Rusia dilaporkan tewas dalam uji coba Burevestnik.

Peningkatan radiasi sempat terdeteksi di area sekitar lokasi kejadian, tetapi penyebab kematian para ilmuwan itu belum dipastikan. Amerika Serikat pernah menolak konsep senjata serupa pada 1950-an karena tingginya risiko yang ditimbulkan.

William Alberque, peneliti di Forum Pasifik dan mantan Direktur Pengendalian Senjata NATO, menilai bahaya terbesar justru muncul saat peluncuran. Jika rudal terkena serangan, material radioaktif dari reaktor dapat tersebar luas. “Seperti Chernobyl mini di langit,” ujarnya.

Namun, pakar nuklir independen Pavel Podvig menilai risiko tersebut perlu dilihat secara proporsional.

“Saya akan berhati-hati mengklaim bahwa ini adalah Chernobyl terbang. Jika ada pelepasan radiasi, hal itu pasti terdeteksi. Kecelakaan saat lepas landas atau di udara kemungkinan lebih berbahaya,” katanya.

 

Dilansir dari laman : KOMPAS.com

0 Komentar