Moskwa.AGN - NATO meningkatkan kewaspadaan setelah Rusia
menyelesaikan pengembangan rudal jelajah Burevestnik bertenaga nuklir.
Diketahui, rudal itu jadi sistem persenjataan yang disebut
NATO sebagai ancaman besar karena jangkauan dan kemampuan manuvernya yang
ekstrem. Rudal tersebut, dikenal NATO sebagai SSC-X-9 Skyfall, dapat melaju
lebih dari 900 kilometer per jam dan diluncurkan dari platform bergerak.
Informasi itu tertuang dalam dokumen intelijen NATO yang
dikutip media Jerman Die Welt. Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan
keberhasilan uji coba rudal itu tiga pekan lalu.
Kemampuan Burevestnik
NATO menilai reaktor nuklir pada Burevestnik memungkinkan
rudal tersebut memiliki jangkauan hampir tak terbatas. Sistem ini secara
teoritis dapat menempuh puluhan ribu kilometer tanpa pengisian bahan bakar,
tetap mengudara dalam waktu lama, berganti arah, serta menyerang target dari
berbagai penjuru.
Dokumen itu menyebut tantangan yang muncul akan kian besar
akibat kemampuan manuver rudal tersebut. Burevestnik dinilai mampu mengambil
rute tidak langsung dan menghindari pertahanan udara NATO, termasuk di wilayah
selatan dan kutub yang minim pengawasan.
NATO memperingatkan bahwa jika Burevestnik dikerahkan, Eropa
akan menghadapi ancaman yang sangat sulit ditangani. Sejumlah ahli mencatat
kelemahan rudal tersebut karena tidak mencapai kecepatan hipersonik. Durasi
terbang yang panjang juga membuatnya semakin rentan, sebagaimana diberitakan
Euronews pada Minggu (16/11/2025).
Rudal Oreshnik dan ancaman baru
Selain Burevestnik, NATO juga memantau rudal jarak menengah
baru Rusia, SS-X-28 Oreshnik, yang pertama diuji coba di Ukraina pada November
2024. Jangkauannya diperkirakan mencapai 5.500 kilometer dengan kemungkinan
membawa berbagai jenis hulu ledak, termasuk nuklir.
“Kemampuan untuk menyerang target di mana pun di Eropa,
dikombinasikan dengan mobilitas peluncurnya, memastikan tingkat keberlangsungan
yang tinggi,” demikian penilaian dalam dokumen tersebut.
Belarus dijadwalkan mengerahkan rudal Oreshnik pada Desember
2025. Informasi itu disampaikan juru bicara Presiden Belarus Aliaksandr
Lukashenka, Natalia Eismont, kepada media pemerintah Rusia. Lukashenka menyebut
langkah tersebut sebagai respons terhadap eskalasi dari Barat.
Poseidon dan keterbatasan NATO
Dokumen NATO juga menyoroti pesawat nirawak bawah laut
Poseidon bertenaga nuklir yang diperkirakan beroperasi pada 2030. Sistem itu
dinilai berpotensi menyerang pangkalan angkatan laut, pelabuhan, dan kota
pesisir di Pasifik, pantai timur AS, Inggris, dan Prancis.
NATO menyebut kapal selam pengangkut Poseidon akan sulit
dideteksi. Aliansi itu juga mengakui kekurangan kemampuan antikapal selam
karena tidak memiliki torpedo dengan kecepatan dan jangkauan yang memadai untuk
menanggulangi Poseidon.
Dokumen tersebut menegaskan bahwa NATO menghadapi kekurangan
signifikan dalam kemampuan jarak menengah dan jauh, terutama yang terkait
senjata nuklir.
Pandangan para pakar
Tidak semua pakar meyakini keunggulan Burevestnik. Fabian
Hoffmann, peneliti Proyek Nuklir Oslo di Universitas Oslo, menyebut rudal itu
sebagai sistem senjata yang tidak berguna dan berlebihan. Pada 2019, lima
ilmuwan Rusia dilaporkan tewas dalam uji coba Burevestnik.
Peningkatan radiasi sempat terdeteksi di area sekitar lokasi
kejadian, tetapi penyebab kematian para ilmuwan itu belum dipastikan. Amerika
Serikat pernah menolak konsep senjata serupa pada 1950-an karena tingginya
risiko yang ditimbulkan.
William Alberque, peneliti di Forum Pasifik dan mantan
Direktur Pengendalian Senjata NATO, menilai bahaya terbesar justru muncul saat
peluncuran. Jika rudal terkena serangan, material radioaktif dari reaktor dapat
tersebar luas. “Seperti Chernobyl mini di langit,” ujarnya.
Namun, pakar nuklir independen Pavel Podvig menilai risiko
tersebut perlu dilihat secara proporsional.
“Saya akan berhati-hati mengklaim bahwa ini adalah Chernobyl
terbang. Jika ada pelepasan radiasi, hal itu pasti terdeteksi. Kecelakaan saat
lepas landas atau di udara kemungkinan lebih berbahaya,” katanya.
Dilansir dari laman : KOMPAS.com

0 Komentar