Meneladani Kepahlawanan Teuku Umar

Foto | Teuku Umar (ist)

Oleh : Bang Iwan Bule

"Pemimpin yang baik bukanlah ia yang terlihat ramah, jujur, dan baik hati, tetapi seseorang yang meski kadang penuh tipu daya mampu mempertahankan dan memakmurkan rakyatnya."
Niccolò Machiavelli

Kini kita mengenang Teuku Umar sebagai salah seorang Pahlawan Nasional, sosok yang membuat pasukan Belanda yang berupaya menaklukkan Aceh pada akhir abad ke-19 hidup dalam bayang-bayang ketakutan. 

Namun perjalanan hidupnya tidak selalu dipenuhi pujian. Ada masa ketika Teuku Umar dituduh berkhianat, dimusuhi, bahkan dicurigai oleh rakyatnya sendiri. Cut Nyak Dhien, istrinya yang dikenal teguh dan tajam, pun sempat meragukan keputusan-keputusan politik yang diambil suaminya itu.

Namun demikianlah Teuku Umar: hidupnya tak pernah lurus tanpa intrik. Di usia 19 tahun ketika kebanyakan anak muda masih meminta uang jajan kepada orang tua ia justru sudah turun ke medan perang melawan Belanda. Pada usia sangat belia itu pula ia diberi amanah menjadi keuchik di kampungnya. Ketika berumur 25 tahun, ia bertemu dengan Cut Nyak Dhien, janda Ibrahim Lamnga, seorang pejuang tangguh yang gugur di medan laga. Umar mengagumi keberanian dan kecerdasan Dhien, dan keduanya kemudian menikah.

Awal strategi licik yang mematangkan gerilya

Setelah menikah, nama Teuku Umar semakin diperhitungkan baik oleh pejuang Aceh maupun oleh Belanda. Strategi gerilyanya kerap menyulitkan musuh, membuat pasukan kolonial selalu resah. 

Tiga tahun setelah pernikahan, Umar melancarkan rencana penyusupan pertama dengan berpura-pura bergabung dengan Belanda, sebagaimana banyak dilakukan para uleebalang pada masa itu. Belanda sangat gembira atas “kesetiaan” Umar hingga ia dimasukkan ke dalam dinas militer dan diberi pasukan sendiri.

Setahun kemudian Belanda menugaskannya bernegosiasi dengan Raja Teunom terkait penawanan awak kapal Inggris Nicero. Dalam operasi ini Teuku Umar meminta satu kapal lengkap dengan persenjataan dan amunisi melimpah. 

Foto by Irwan Mahdi

Namun ketika kapal berlayar, ia justru membunuh pasukan Belanda di tengah laut dan mengambil seluruh perlengkapan perang itu untuk melawan mereka. Kapal Nicero beserta hartanya ikut dikuasai. Pengetahuan taktik militer Belanda yang ia dapat selama penyusupan membuat pasukan Aceh semakin sulit ditaklukkan.

Kembali ke Belanda dan kembali mengelabui

Selama tujuh tahun berikutnya, Teuku Umar kembali memimpin perlawanan. Pasukan Belanda makin kelelahan menghadapi akal dan strategi Umar. Pada titik ini, Belanda mulai melunak dan menjanjikan keamanan jika Umar bersedia bergabung kembali. Umar, dengan dalih tidak ingin rakyat terus menderita akibat perang panjang, setuju. Ia bersumpah setia dan diberi gelar kehormatan Teuku Umar Johan Pahlawan.

Namun keputusan ini merusak citra beliau di mata sebagian rakyat Aceh. Banyak yang menentang. Bahkan seorang ulama kharismatik mengeluarkan fatwa bahwa membunuh Teuku Umar setara pahalanya dengan membunuh seratus kafir penjajah. Begitu besar kekecewaan rakyat terhadap manuver Umar.

Akan tetapi Teuku Umar tidak sedang mencari pujian. Ia tengah mempersiapkan pengkhianatan terbesar terhadap Belanda.

Ketika Belanda hendak membentuk pasukan elit untuk membasmi para pejuang Aceh, Umar menuntut perlengkapan militer besar-besaran: 800 senjata, 25.000 butir peluru, mesiu, dan berbagai peralatan perang lainnya

Foto | Irwan Mahdi (Bang Iwan Bule)

Setelah semuanya diberikan, Umar justru membawa seluruh peralatan itu kabur untuk memperkuat perlawanan rakyat Aceh. Sekali lagi ia mempermalukan Belanda di hadapan dunia internasional.

Akhir hayat dan warisan kepemimpinan

Kali ini Belanda benar-benar murka. Biaya perang yang membengkak tidak lagi dipedulikan; mereka habis-habisan mengejar Teuku Umar. Tiga tahun kemudian, ia gugur ditembus peluru emas di Meulaboh sebuah kisah yang hingga kini masih hidup dalam ingatan rakyat Aceh. Bahkan setelah wafat, jasadnya terus dicari Belanda hingga menurut cerita Muhammad Adnan, kuburannya dipindahkan beberapa kali sebelum dimakamkan di tempat yang sekarang.

Warisan kepemimpinan Teuku Umar sangat khas: ia tidak takut dibenci, tidak takut dicap buruk, dan tidak gentar mengambil jalan yang tidak populer selama hal itu demi kemenangan bangsa. Ia tidak takut miskin, tidak takut masa depan anaknya tidak terjamin, dan tidak takut akan hari tua yang tidak pasti. Yang ia takutkan hanyalah menyerah.

Semoga para pemimpin kita hari ini dapat meneladani keberanian dan kecerdasan strategis Teuku Umar. Semoga mereka tidak lupa akan TUJUAN: menjadikan masyarakat Aceh sebagai masyarakat yang cerdas, bermartabat, dan makmur meskipun jalan perjuangan setiap orang tak selalu sama.[]

0 Komentar