![]() |
| Foto | Suasana Pasar Induk Sabang hari ini Senin (01/12). |
Sabang.AGN – Lonjakan harga kebutuhan pokok kembali dikeluhkan warga Kota Sabang. Ketidakstabilan harga yang terjadi sejak beberapa hari terakhir dinilai memberatkan masyarakat, terutama mereka yang bergantung pada pendapatan harian dan usaha kecil.
Kenaikan harga ini terjadi setelah bencana banjir yang melanda Aceh dan Sumatera Utara. Jalur lintas darat masih terganggu sampai saat ini, membuat distribusi barang kebutuhan pokok terhambat. Sabang yang sangat bergantung pada pasokan dari daratan Aceh ikut terdampak, menyebabkan sejumlah komoditas naik drastis.
Salah satu konsumen, Zuriah (48), mengatakan terdapat perbedaan harga yang mencolok antara saat tim pengawas pangan melakukan sidak dengan harga setelah tim tersebut meninggalkan pasar.
“Tadi kami lihat ada tim pangan turun ke pasar. Waktu ditanya, pedagang mengaku harga cabai merah Rp100 ribu per kilo. Tapi setelah tim pergi, kami datang mau beli, harganya kembali naik jadi Rp140 ribu per kilo. Saat kami tanya kenapa berbeda, pedagang bilang harga dari pemasok memang tinggi,” ujar Zuriah.
Ia menambahkan, masyarakat memahami kondisi pasokan sedang tidak stabil, namun pemerintah diminta hadir dan mengambil langkah cepat untuk menekan gejolak harga.
“Kami harap pemerintah bisa ambil sikap. Jangan dibiarkan begini terus, karena kami yang paling merasakan dampaknya,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan oleh Muzakir (47), warga lainnya yang ditemui di lokasi yang sama. Ia mengatakan kenaikan harga tidak hanya terjadi pada cabai, namun juga komoditas penting lain seperti telur, bahkan beberapa di antaranya tidak tersedia.
“Bukan hanya cabai, tapi telur juga naik dan barangnya tidak ada. Belum lagi informasi bahwa akan ada kelangkaan gas elpiji. Bagaimana kami makan di rumah,” ujarnya.
Muzakir mengaku memiliki usaha kecil di depan rumahnya. Namun sejak harga kebutuhan pokok dan gas melonjak, usahanya terpaksa tutup karena tidak sanggup menanggung biaya bahan baku.
“Kami buka usaha kecil-kecilan buat hidup. Tapi sekarang terpaksa tutup, karena barang langka dan kalaupun ada, harganya terlalu tinggi. Kalau dijual kembali, harganya tidak mungkin masuk akal bagi pembeli,” tuturnya.
Warga menilai kondisi ini dapat memukul usaha kecil dan UMKM di Sabang. Banyak pelaku usaha yang bergantung pada bahan makanan harian untuk menjalankan usaha kuliner dan kebutuhan rumah tangga.
“Kalau kondisi ini dibiarkan, akan semakin berat bagi kami para pelaku UMKM. Masyarakat Sabang ini kebanyakan hanya bisa usaha kecil-kecilan,” tambah Muzakir.
Masyarakat berharap pemerintah kota segera turun tangan
melakukan pengawasan harga, mempercepat normalisasi distribusi barang, dan
memastikan ketersediaan stok kebutuhan pokok di pasaran.[]
.jpeg)
0 Komentar