HET KERKOF

 

Foto | Irwan Mahdi FB

Oleh : Bang Iwan Bule

PULANG mengisi bensin pagi ini, saya tak mampu menahan godaan untuk berhenti sejenak ketika semburat emas matahari menembus celah-celah pohon beringin di kawasan Kerkof. Cahaya itu jatuh lembut di antara nisan-nisan tua seakan membangunkan kembali jejak sejarah yang diam selama puluhan tahun.

Foto | Irwan Mahdi FB

Het Kerkof adalah pekuburan Eropa, tempat peristirahatan terakhir warga Belanda dan masyarakat Eropa lain yang hidup di Sabang sejak akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20. Di sinilah sisa-sisa mereka yang pernah menjadi bagian dari geliat industri dan aktivitas kolonial Sabang disemayamkan.

Ketika seluruh jalur perdagangan Aceh diblokade oleh Belanda pada akhir abad ke-19, Sabang dipilih sebagai pusat pengisian batubara dan air bersih bagi kapal uap yang melintas di Selat Malaka. Dari keputusan strategis itu, pembangunan Sabang pun dimulai. Gudang batubara didirikan, pelabuhan diperluas, rumah sakit dibangun, begitu pula pabrik dan perkantoran.

Foto | Irwan Mahdi FB

Para pekerja Belanda yang hidup di Sabang kala itu sebagian besar bekerja di pelabuhan dan pabrik. Dokter hadir untuk merawat yang sakit, sekolah dibangun untuk anak-anak mereka, bahkan café dan kolam renang pun tersedia menciptakan sebuah lingkungan kecil ala Eropa di ujung barat Nusantara.

Foto | Irwan Mahdi FB

Selama lebih dari setengah abad keberadaan mereka di Sabang, orang-orang yang meninggal dikuburkan di tempat ini. Kini, Het Kerkof tak hanya menjadi situs sejarah, tetapi juga ruang perenungan yang mengingatkan kita bahwa Sabang pernah menjadi simpul penting percaturan kolonial di kawasan ini dan pagi tadi, sejenak saya berhenti untuk mendengarkan kisah-kisah sunyi yang ditinggalkannya.[]

0 Komentar