
Foto | Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Sabang di Jalan Aneuk Laot - Paya Seunara, Aneuk Laot, Sukakarya, Kota Sabang
SEBUAH rumah produksi kecil di kawasan Gampong Aneuk Laot Sabang,
aroma manis cokelat menyeruak sejak pagi. Di sana, tangan-tangan terampil para
ibu rumah tangga sibuk mengolah biji kakao menjadi batangan cokelat siap saji
dengan label Cokbang (Sabang Chocolate).
Dari dapur sederhana itu, lahir cita rasa khas Sabang yang kini mulai dilirik banyak pihak, termasuk Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Sabang.
Melalui Pokja III, TP PKK mendorong penuh agar Cokbang tidak berhenti sebagai produk lokal, tetapi terus berkembang hingga dikenal di pasar nasional bahkan internasional. Langkah ini menjadi bagian dari upaya besar PKK dalam memperkuat ekonomi keluarga melalui pengembangan UMKM berbasis potensi daerah.
Ketua TP PKK Kota Sabang, Ny. Nuri Zulkifli H. Adam menyampaikan bahwa, cokelat bukan hanya produk olahan biasa, tetapi juga simbol kreativitas dan ketekunan masyarakat Sabang dalam mengolah potensi lokal.
“UMKM harus terus kita dukung, terutama produk cokelat Sabang yang memiliki keunikan dan kualitas. Dengan sinergi semua pihak, kita optimistis produk ini bisa menjadi ikon Sabang yang dikenal hingga tingkat internasional,” ujarnya saat ditemui di sela-sela kegiatan pendampingan UMKM, Kamis (11/9/2025).
![]() |
| Foto | Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Sabang saat mengunjungi Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Sabang |
Sebenarnya Sabang memiliki modal besar untuk menjadi daerah
penghasil produk cokelat unggulan. Meskipun bukan penghasil kakao utama,
kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan baku menjadi produk bernilai tinggi
merupakan kekuatan tersendiri.
Hal ini sejalan dengan visi PKK untuk mendorong ekonomi keluarga dari akar rumput, khususnya melalui pelatihan dan pemberdayaan perempuan.
Perjalanan Cokbang dimulai dari ide sederhana dengan menghadirkan oleh-oleh khas Sabang yang berbeda dari produk lainnya. Dengan bahan baku kakao yang dipasok dari beberapa daerah di Aceh dan Sumatera Utara, Cokbang berhasil memadukan cita rasa lokal dengan sentuhan modern. Hasilnya, produk ini kini hadir dalam berbagai varian mulai dari cokelat susu, dark chocolate, hingga cokelat isi kacang dan kopi.
“Awalnya kami hanya memproduksi dalam jumlah terbatas, untuk dijual di acara-acara pameran. Tapi ternyata responnya luar biasa. Sekarang kami sudah rutin memproduksi untuk dijual ke toko oleh-oleh dan kafe,” ujar Melan salah satu pelaku UMKM Cokbang.
Melani menuturkan, dukungan dari TP PKK sangat terasa, terutama dalam hal pelatihan pengemasan, promosi digital hingga pendampingan administrasi usaha. “PKK membantu kami bukan hanya dalam bentuk motivasi, tapi juga membuka akses jaringan dengan dinas terkait dan pelaku usaha lainnya. Itu sangat berarti,” tambahnya.
Ungkapan senada juga dikatakan Ketua Pokja III TP PKK Sabang, Widia, bahwa keberhasilan UMKM tidak hanya bergantung pada kreativitas, tetapi juga pada kolaborasi. Karena itu, pihaknya aktif mendorong sinergi lintas sektor antara pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi dan komunitas.
![]() |
| Foto : Wisatawan Mancanegara saat berada di Sabang menyempatkan diri ke Cokbang |
“UMKM tidak bisa tumbuh sendiri. Harus ada dukungan dari semua pihak. Kami di PKK fokus mendampingi dari sisi manajemen rumah tangga, inovasi produk, dan motivasi perempuan agar percaya diri menjadi pelaku ekonomi,” ujarnya.
Dalam beberapa kesempatan, TP PKK juga menggandeng Dinas
Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kota Sabang serta Dinas Pariwisata untuk
membantu memperluas jangkauan pasar Cokbang.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi contoh nyata bagaimana pemberdayaan perempuan dan UMKM bisa berjalan beriringan dengan sektor pariwisata.
Salah satu tantangan utama produk lokal adalah kemasan. Dimana, tampilan produk menjadi faktor penting dalam menarik minat pembeli, terutama dari para wisatawan. Karena itu, TP PKK berupaya membantu pelaku UMKM dalam meningkatkan kualitas desain dan kemasan agar setara dengan produk industri besar.
“Orang mungkin akan pertama kali tertarik karena kemasannya, lalu baru mencicipi rasanya. Kami dorong agar Cokbang memiliki identitas visual yang kuat, misalnya menampilkan ikon Sabang seperti Tugu Nol Kilometer atau tampilan keindahan panorama laut pulau rubiah,” sebutnya.
Saat ini, Cokbang sudah memiliki desain kemasan baru dengan warna cokelat keemasan dan tulisan “Sabang Chocolate” berlogo peta Pulau Weh. Kemasan ini tidak hanya lebih menarik, tetapi juga tahan lama untuk pengiriman jarak jauh membuka peluang Cokbang dipasarkan secara online.
![]() |
| Foto : Owner Cokbang mempromosikan Coklat berbahan baku Kakau asli Sabang |
Sabang selama ini dikenal dengan wisata baharinya. Namun, kehadiran Cokbang membuka peluang baru: wisata kuliner khas Sabang. Para wisatawan kini tak hanya membawa pulang foto indah Pantai Iboih atau Gua Sarang, tetapi juga cokelat buatan tangan masyarakat Sabang sebagai buah tangan.
“Cokbang bisa menjadi oleh-oleh khas Sabang yang mendunia. Kalau Bali punya Pie Susu, Yogyakarta punya Bakpia, maka Sabang bisa dikenal lewat cokelatnya,” ujar Widia penuh semangat.
PKK menilai, inovasi produk lokal seperti Cokbang sejalan dengan arah kebijakan Pemerintah Kota Sabang yang sedang mendorong diversifikasi ekonomi berbasis potensi daerah yang tidak hanya bergantung pada sektor pariwisata alam semata.
Meski optimisme tinggi, TP PKK juga menyadari sejumlah
tantangan yang masih dihadapi pelaku UMKM cokelat Sabang. Salah satunya adalah
ketersediaan bahan baku kakao yang belum stabil serta keterbatasan alat
produksi.
Namun, upaya peningkatan kualitas terus dilakukan, termasuk membuka kemungkinan kerja sama dengan pelaku usaha dari luar daerah.
“Kami ingin Cokbang naik kelas, tapi tetap mempertahankan karakter lokal. Untuk itu perlu dukungan investasi kecil menengah, serta pelatihan berkelanjutan dalam pengolahan dan manajemen usaha,” jelas Widia.
Selain dari sisi produksi, PKK juga berkomitmen membantu memperluas jaringan pemasaran. Dalam waktu dekat, TP PKK bersama Dinas Perdagangan akan mengikutsertakan Cokbang dalam beberapa pameran produk unggulan daerah di Banda Aceh dan Medan.
Bagi TP PKK, keberhasilan Cokbang tidak hanya dilihat dari nilai jual produknya, tetapi juga dari dampak sosial yang dihasilkan. Melalui pelibatan ibu rumah tangga dalam proses produksi, PKK ingin menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan keluarga.
“Semakin banyak ibu rumah tangga yang terlibat, semakin kuat ekonomi keluarga. Inilah semangat utama PKK, yaitu memberdayakan keluarga dari dalam,” ungkap Widia.
![]() |
| Foto | Salah satu pengelola Cokbang foto bersama Wali Kota Sabang Zulkifli H Adam saat berada di pusat pengolahan Cokbang |
Pendekatan ini sejalan dengan misi PKK dalam mengembangkan ekonomi kreatif berbasis keluarga dan kearifan lokal, di mana setiap produk bukan sekadar komoditas, tetapi juga cerita tentang kerja keras, cinta terhadap daerah, dan semangat kemandirian.
Pemerintah Kota Sabang turut mendukung upaya TP PKK ini. Wali Kota Sabang, Zulkifli H. Adam, menyambut baik inisiatif PKK dalam memperkuat sektor UMKM. Ia menilai, produk seperti Cokbang berperan penting dalam membentuk citra positif Sabang sebagai kota wisata yang mandiri dan kreatif.
“Kita ingin Sabang dikenal bukan hanya karena alamnya yang indah, tetapi juga karena produknya yang bernilai ekonomi tinggi. Pemerintah siap mendukung, baik dari sisi promosi maupun pelatihan,” ujar Wali Kota dalam kesempatan terpisah.
Dukungan ini diwujudkan melalui sinergi lintas OPD untuk memperkuat rantai pasok dan promosi UMKM lokal. Pemerintah juga membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memanfaatkan event pariwisata Sabang sebagai etalase produk lokal.
Kini, aroma cokelat Cokbang tidak hanya menjadi bagian dari dapur kecil di Cot Abeuk, tetapi juga simbol kebangkitan ekonomi lokal Sabang. Produk ini menjadi bukti bahwa kreativitas masyarakat, jika didukung dengan baik, bisa menembus batas pulau dan membawa nama Sabang ke panggung nasional.
Bagi TP PKK Kota Sabang, Cokbang bukan sekadar cokelat melainkan representasi dari semangat perempuan Sabang dalam berkarya, berdaya dan membangun kemandirian ekonomi keluarga.
“Harapan kami, Cokbang menjadi inspirasi bagi UMKM lainnya
untuk terus berinovasi dan percaya diri membawa nama Sabang ke tingkat nasional
bahkan internasional,” tutup Widia.[ADV]
.jpeg)



0 Komentar