Napak Tilas Wisata Religi Kampung Haji dan Pulau Rubiah

Foto | Mesjid Kampung Haji Sabang yang terletak di Gampong Kuta Timu Kecamatan Sukakarya

SABANG menyimpan warisan sejarah penting yang berkaitan erat dengan perjalanan spiritual umat Islam di nusantara. 

Dua di antaranya adalah Kampung Haji dan Pulau Rubiah yang hingga kini masih menjadi saksi sejarah perjalanan panjang jamaah haji pada masa  lalu.

Kedua lokasi ini bukan hanya merekam kisah masa lalu, tetapi juga membuka kesempatan bagi wisatawan untuk memahami dimensi lain dari Sabang, yakni perpaduan antara keindahan alam, sejarah, dan nilai keislaman yang mendalam

Di Gampong Kuta Timu, Kecamatan Sukakarya, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang telah berusia lebih dari se abad yakni,

Masjid Kampung Haji. Masjid ini dibangun secara permanen pada tahun 1914 oleh Sabang Maatschappij, sebuah perusahaan Belanda yang kala itu mengelola pelabuhan bebas Sabang. 

Keberadaannya tak bisa dilepaskan dari peran Sabang sebagai pintu gerbang utama perjalanan haji nusantara di masa kolonial.

Disebut “Kampung Haji” karena kawasan ini dulunya menjadi titik awal keberangkatan jamaah haji dari seluruh nusantara diberbagai penjuru Indonesia. 

Para calon haji singgah di masjid ini untuk beribadah dan mempersiapkan diri sebelum menjalani karantina di Pulau Rubiah, lalu melanjutkan perjalanan panjang dengan kapal laut menuju Tanah Suci. 

Perjalanan tersebut kala itu memakan waktu berbulan-bulan, berbeda jauh dengan kondisi saat ini yang hanya membutuhkan beberapa jam menggunakan pesawat terbang.

Foto | Bagian teras Mesjid yang biasa dilakukan untuk aktifitas keagamaan seperti penajian dan lain-lain

Masjid Kampung Haji menjadi simbol penting sejarah keislaman di Sabang

Di sinilah jamaah dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga wilayah timur Nusantara memulai langkah spiritual mereka menuju Mekah. Tidak berlebihan jika menyebut masjid ini sebagai salah satu embarkasi haji pertama di Indonesia.

Meski telah melewati perjalanan panjang lebih dari ratusan tahun, bangunan Masjid Kampung Haji masih berdiri kokoh. 

Bagian dalamnya masih mempertahankan desain asli sejak awal pembangunan, meski beberapa bagian luar seperti atap dan teras telah mengalami renovasi karena faktor usia. 

Upaya perawatan yang dilakukan masyarakat setempat membuat masjid ini tetap berfungsi sebagai rumah ibadah hingga hari ini.

Di depan pintu masuk masjid, terdapat sebuah prasasti yang menuliskan ringkas sejarah Masjid Kampung Haji. 

Prasasti ini menjadi pengingat akan jejak panjang perjalanan spiritual umat Islam nusantara, sekaligus bukti nyata peran Sabang dalam sejarah perjalanan haji pertama Indonesia. 

Bagi wisatawan yang datang, keberadaan prasasti tersebut tenru memberi pengalaman berbeda, tidak hanya menikmati keindahan Sabang, tetapi juga menyentuh sisi religius dan historisnya.

Tak jauh dari daratan utama Sabang, sekitar 150 meter dari dermaga Pulau Rubiah, terdapat sebuah kawasan yang dahulu berfungsi sebagai pusat karantina haji. 

Foto | Prasasti Mesjid Kampung Haji Sabang

Pulau ini dipilih Pemerintah Kolonial Belanda pada awal abad ke-20 karena letaknya yang strategis sekaligus terisolasi. Sehingga dianggap ideal sebagai tempat pemeriksaan kesehatan calon jamaah haji.

Pada tahun 1920-an, beberapa gedung dibangun di atas lahan seluas sekitar 10 hektar di Pulau Rubiah. Fasilitas yang tersedia kala itu cukup lengkap untuk ukuran masanya, mulai dari asrama tempat tinggal sementara, ruang ibadah, klinik kesehatan, hingga area khusus untuk memisahkan calon jamaah yang sakit atau terindikasi penyakit menular. 

Calon jamaah diwajibkan menjalani karantina beberapa hari, menjalani pemeriksaan fisik, hingga memastikan bebas dari penyakit seperti kolera atau cacar sebelum melanjutkan perjalanan.

Karantina di Pulau Rubiah merupakan langkah preventif yang penting. Selain menjaga kesehatan para jamaah, keberadaan fasilitas ini juga melindungi masyarakat di Makkah dari potensi wabah yang bisa terbawa dari luar. Dengan demikian, Pulau Rubiah bukan hanya sekadar tempat singgah, tetapi juga bagian dari sistem kesehatan internasional yang terhubung dengan ibadah haji.

Meskipun pusat karantina haji di Pulau Rubiah sudah lama tidak berfungsi, sisa-sisa bangunannya masih dapat dijumpai hingga kini. 

Beberapa struktur memang telah terbengkalai, namun keberadaannya tetap menjadi saksi bisu peran Pulau Rubiah dalam sejarah haji Indonesia. 

Bagi wisatawan, mengunjungi pulau ini memberikan pengalaman unik: menikmati keindahan bawah laut sekaligus menyusuri peninggalan bersejarah yang jarang ditemui di tempat lain.

Pulau Rubiah kini lebih dikenal sebagai destinasi wisata bahari kelas dunia

Air lautnya yang jernih, terumbu karang berwarna-warni, dan keanekaragaman hayati laut menjadikannya salah satu spot snorkeling dan diving terbaik di Indonesia. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa di balik pesona alamnya, Pulau Rubiah menyimpan kisah spiritual yang begitu dalam.

Perpaduan antara Masjid Kampung Haji dan Pulau Rubiah memperlihatkan bahwa Sabang tidak hanya indah dari sisi alam, tetapi juga kaya dengan jejak sejarah. 

Foto | Asrama haji Pulau Rubiah Sabang
Bagi wisatawan, mengunjungi dua lokasi ini seperti menapaktilasi perjalanan spiritual para pendahulu, sekaligus merasakan kedamaian yang terpancar dari nuansa religius dan alam Sabang.

Pemerintah Kota Sabang bersama masyarakat setempat terus berupaya menjaga dan merawat kedua lokasi ini agar tetap lestari. 

Upaya revitalisasi dilakukan tanpa menghilangkan nilai sejarahnya, sehingga generasi mendatang dapat terus belajar dan mengenang peran Sabang dalam perjalanan haji Nusantara.

Di era pariwisata modern, Masjid Kampung Haji dan Pulau Rubiah berpotensi besar dikembangkan sebagai destinasi wisata religi sekaligus sejarah. Wisatawan yang datang ke Sabang tidak hanya disuguhi panorama alam, tetapi juga diajak memahami peran kota ini dalam perjalanan spiritual umat Islam Indonesia.

Paket wisata yang menggabungkan snorkeling di Pulau Rubiah dengan kunjungan ke Masjid Kampung Haji, misalnya, dapat menjadi daya tarik tersendiri. Perpaduan antara pengalaman spiritual, sejarah, dan rekreasi bahari akan menghadirkan nilai tambah bagi pariwisata Sabang. Selain itu, kehadiran narasi sejarah akan membuat pengalaman wisata lebih mendalam, tidak sekadar hiburan.(ADV)

0 Komentar