Foto | Bungker peninggalan Belanda di area kawasan taman Kota Sabang
Sabang.AGN – Di balik pesona alamnya yang memikat, Kota Sabang juga menyimpan kekayaan sejarah yang tak kalah menarik. Kawasan kota tua yang berada di jantung kota menjadi saksi bisu perkembangan Sabang dari masa kolonial hingga kini. Bangunan-bangunan peninggalan Belanda, pelabuhan tua, dan jejak sistem pertahanan Jepang masih dapat dijumpai dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menyelami sisi historis dari kota paling barat Indonesia ini.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Syamsurizal, mengatakan bahwa pengembangan wisata kota tua merupakan bagian dari strategi pelestarian sejarah dan penguatan identitas lokal di tengah arus modernisasi yang terus berkembang.
“Kota tua Sabang tidak hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga menjadi ruang edukatif bagi generasi muda dan wisatawan untuk memahami perjalanan panjang kota ini,” ujar Syamsurizal saat ditemui di sela kunjungan ke kawasan eks Pelabuhan Sabang Lama, Sabtu (1/2/2025).
Menurutnya, revitalisasi kawasan kota tua saat ini tengah dirancang secara bertahap, dengan memperhatikan nilai-nilai historis yang melekat pada setiap bangunan dan struktur lama. Ia menegaskan, modernisasi bukan berarti menghapus jejak masa lalu, melainkan menghadirkannya kembali dalam bentuk yang relevan dan fungsional.
“Beberapa bangunan peninggalan kolonial akan difungsikan sebagai galeri sejarah, pusat informasi wisata, dan ruang kreatif masyarakat. Kami ingin kota tua ini hidup kembali tanpa kehilangan jiwanya,” kata dia.
Kawasan kota tua Sabang mencakup sejumlah titik penting, seperti Gedung Eks Kantor Pos dan Telegraf, Benteng Jepang di atas bukit Kota Atas, hingga area dermaga tua yang dahulu menjadi pintu utama pergerakan logistik dan militer pada masa penjajahan. Saat ini, kawasan tersebut masih menjadi jalur utama aktivitas masyarakat, namun pesonanya belum tergarap maksimal.
Pemerintah Kota Sabang juga membuka ruang kolaborasi dengan komunitas sejarah dan pegiat budaya untuk menggali narasi-narasi lokal yang dapat memperkaya pengalaman wisata sejarah. “Wisata kota tua bukan sekadar melihat bangunan tua. Ini tentang mengenal identitas kita sendiri dan belajar dari masa lalu,” ujar Syamsurizal.
Seiring dengan meningkatnya minat wisatawan
terhadap wisata tematik dan edukatif, kawasan kota tua diharapkan menjadi
magnet baru yang memperkaya portofolio destinasi di Sabang, sekaligus mendorong
pertumbuhan ekonomi lokal yang berbasis pada pelestarian budaya.[REDAKSI]
0 Komentar