Sehari Bisa Bertemu Delapan Kali, Adnan NS Kenang Keakraban Warga Sabang

Foto | Adnan NS, mantan Ketua PWI Aceh dan mantan anggota DPD RI periode 2004–2009, mengenang kehidupan masyarakat Sabang.(dok.kreasi AI AGN)

Sabang.AGN – Waktu boleh berlalu, usia terus bertambah, dan kehidupan membawa seseorang ke berbagai tempat. Namun, ada kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi. 

Bagi Adnan NS, diusia memasuki 72 tahun menyimpan cerita tentang keluarga, persahabatan, pekerjaan dan kehangatan masyarakat yang masih melekat dalam ingatannya hingga kini di Kota Sabang.

Mantan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh itu kembali mengenang masa-masa ketika dirinya pernah menetap dan menjalani kehidupan sebagai wartawan di pulau paling barat Indonesia tersebut.

Bukan semata keindahan alam atau suasana kota yang membuat Sabang begitu berkesan baginya. Adnan justru mengingat sesuatu yang sederhana, yakni hubungan kekeluargaan antarmasyarakat yang terjalin begitu dekat.

Kenangan itu diungkapkan Adnan saat bertandang ke kantor acehglobalnews.id di jalan Malahayati Sabang, untuk bertemu anggota PWI Sabang, Rabu (28/10/2026) malam.

Di kota yang wilayah perkotaannya relatif kecil itu, menurut Adnan, orang-orang dapat berjumpa berkali-kali dalam sehari. Pertemuan yang mungkin terasa biasa bagi warga setempat, justru menjadi gambaran kuat tentang kehidupan sosial masyarakat Sabang.

“Kalau orang Sabang ini kekeluargaannya sangat besar, bagaimana tidak, kita di sini sehari bisa ketemu sampai delapan kali, karena kota ini jalannya di situ-situ saja,” ujar Adnan sambil mengenang pengalamannya.

Ada kesan akrab dalam cerita tersebut. Sabang yang tidak terlalu luas membuat orang mudah saling berpapasan. Wajah yang ditemui pada pagi hari bukan tidak mungkin kembali terlihat saat siang, sore, bahkan malam.

Bagi Adnan, kebiasaan itu menjadi bagian dari filosofi kekeluargaan masyarakat Sabang. Kedekatan tidak selalu harus dibangun melalui pertemuan yang direncanakan. Terkadang, hubungan sosial tumbuh dari keseharian yang sederhana, ketika orang-orang berulang kali bertemu dan saling mengenal.

Namun, kenangan Adnan terhadap Sabang tidak hanya berkaitan dengan masyarakatnya. Pulau Weh juga menyimpan bagian dari perjalanan hidup keluarganya, dari masa ketika anak-anaknya masih berada dalam tanggung jawabnya hingga kini mereka telah memiliki kehidupan dan keluarga sendiri.

Perjalanan waktu itulah yang membuat kunjungannya kembali ke Sabang terasa berbeda.

“Dulu saya bawa istri dan anak, sekarang anak dan cucu bawa saya ke pulau ini untuk mengenang kisah kami,” tuturnya.

Foto | Adnan NS berbagi kisah mengenai keakraban masyarakat Kota Sabang, tempat ia pernah menetap dan menjalani profesi sebagai wartawan bersama anggota PWI Sabang.

Kalimat sederhana tersebut menyimpan cerita tentang pergantian generasi. Dahulu, Adnan menjadi sosok yang membawa keluarganya mengenal Sabang. Kini, keadaan berbalik. Anak dan cucunya yang mengantarkan dirinya kembali menelusuri kenangan di pulau yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.

Sabang seakan menjadi penghubung antara dua masa. Ada kisah ketika Adnan masih aktif menjalani pekerjaan dan membesarkan keluarga, serta ada masa sekarang ketika kenangan tersebut dapat diingat kembali bersama generasi berikutnya.

Dalam perjalanan kariernya, Adnan dikenal sebagai salah satu tokoh pers Aceh. Ia pernah memimpin PWI Aceh dan menjalani profesi sebagai wartawan, termasuk menulis untuk Harian Waspada ketika tinggal di Sabang.

Kiprahnya kemudian berlanjut ke dunia politik setelah dipercaya menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI periode 2004–2009.

Meski pernah mengemban berbagai peran dalam kehidupan profesionalnya, cerita Adnan tentang Sabang justru kembali pada hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: keluarga, pertemuan antartetangga, dan hubungan sosial yang tumbuh dalam lingkungan kota kecil.

Dari pengalamannya, Sabang tidak sekadar menjadi sebuah tempat yang pernah ditinggali. Kota ini juga menjadi ruang tempat kenangan keluarga tersimpan dan hubungan antarmanusia meninggalkan kesan yang panjang.

Kisah Adnan menunjukkan bahwa daya tarik sebuah daerah tidak selalu diukur dari keindahan pantai, bangunan, atau tempat wisata yang dimilikinya. Ada pula nilai yang hidup dalam masyarakat dan terus diingat oleh mereka yang pernah menjadi bagian dari kehidupan di sana.

Bagi Adnan, salah satu nilai itu adalah kekeluargaan masyarakat Sabang. Sesuatu yang mungkin terlihat sederhana, tetapi tetap memiliki tempat tersendiri dalam ingatannya.

Dahulu ia datang bersama istri dan anak-anaknya. Kini, anak dan cucunya membawanya kembali. Generasi boleh berganti, tetapi Sabang tetap menjadi bagian dari cerita keluarga yang ingin dikenang.[DIKK]

0 Komentar