![]() |
| Foto | Guru Besar USK Prof. Ahmad Humam Hamid bersama Wali Kota Sabang Zulkifli H. Adam dalam pertemuan di Sabang.(dok.Instagram milik Prof. Ahmad Humam Hamid ) |
Banda Aceh.AGN – Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Ahmad Humam Hamid, memuji karakter masyarakat Sabang yang dinilainya memiliki kekayaan nonbendawi berupa kebersihan, kejujuran, rasa aman dan keramahan.
Pujian tersebut disampaikan Prof. Humam setelah makan siang bersama Wali Kota Sabang Zulkifli H. Adam. Dalam unggahan media sosialnya, ia menceritakan perbincangannya dengan wali kota terkait sejumlah capaian Kota Sabang.
Menurut Prof. Humam, hal yang menarik dari Zulkifli H. Adam adalah sikapnya ketika membicarakan prestasi daerah. Wali Kota Sabang disebut tidak sibuk menonjolkan dirinya, tetapi justru lebih banyak menunjukkan kebanggaan terhadap masyarakat.
Salah satu capaian yang dibicarakan adalah penghargaan nasional dari Kementerian Dalam Negeri sebagai Juara I Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Asri Regional Sumatera 2026.
Prof. Humam menyebut kondisi kebersihan Sabang dapat terlihat dari hampir seluruh garis pantai Pulau Weh yang relatif bersih dari plastik dan sampah. Jika sampah kiriman terbawa arus laut dan muncul di kawasan tertentu, termasuk sekitar Tugu Merah Putih, petugas pemerintah bersama masyarakat langsung bergerak melakukan pembersihan.
“Bukan main,” tulis Prof. Humam dalam unggahannya.
Namun, menurutnya, kekayaan Sabang tidak berhenti pada persoalan kebersihan. Ia juga menyoroti kejujuran masyarakat yang dinilainya menjadi modal penting bagi daerah tujuan wisata.
Prof. Humam menceritakan sejumlah pengalaman wisatawan yang kehilangan barang berharga, mulai dari dompet hingga emas, uang dan jam tangan. Barang-barang tersebut kemudian ditemukan warga dan dikembalikan kepada pemiliknya dalam keadaan utuh.
Ia mempertanyakan apakah perilaku tersebut lahir karena perintah wali kota atau diatur melalui peraturan wali kota. Jawabannya, menurut Prof. Humam, bukan. Sikap tersebut merupakan bagian dari perilaku masyarakat.
“Di situlah modal nonbendawi Sabang. Tidak tercatat dalam neraca pemerintah, tetapi nilainya mahal: kebersihan, kejujuran, rasa aman, keramahan, dan kebiasaan menjaga ruang bersama,” tulisnya.
Selama ini, Sabang lebih banyak dikenal melalui Pulau Rubiah, Kilometer Nol Indonesia, Iboih, aktivitas snorkeling dan diving, laut biru serta terumbu karang. Prof. Humam menilai ada kekayaan lain yang tidak kalah penting, tetapi tidak mudah diabadikan melalui kamera, yakni perilaku masyarakatnya.
Menurut dia, wisatawan yang datang dapat merasakan rasa aman, barang yang tertinggal dikembalikan, pantai dijaga bersama dan tamu diperlakukan dengan baik.
Ia juga mengaitkan karakter tersebut dengan nilai agama yang hidup di tengah masyarakat. Menurutnya, nilai tersebut tidak selalu harus disampaikan melalui banyak spanduk, karena kebersihan, kejujuran dan sikap memuliakan tamu sudah dapat menjadi cerminan dalam kehidupan sehari-hari.
Prof. Humam bahkan menyebut daerah lain di Aceh dapat datang ke Sabang untuk belajar mengenai hal tersebut, bukan hanya tentang snorkeling dan pengelolaan destinasi wisata.
Di akhir unggahannya, Prof. Humam menyampaikan selamat kepada Wali Kota Sabang dan jajaran Pemerintah Kota Sabang atas penghargaan yang diraih. Ia menilai penghargaan tersebut memang diterima oleh wali kota, tetapi prestasinya merupakan milik Sabang dan kehormatannya menjadi milik seluruh masyarakat.
“Pialanya diterima Wali Kota. Prestasinya milik Sabang. Kehormatannya milik masyarakatnya,” tulis Prof. Humam.[DIKK]

0 Komentar