Hasil Produksi Perikanan Laut Sabang Tergolong Tinggi

 

Foto | Aktivitas perikanan tangkap menjadi bagian penting dari perekonomian masyarakat pesisir Kota Sabang. Data pendapatan bersih diperlukan untuk menggambarkan kondisi ekonomi nelayan.(dok.Ilustrasi AI AGN)

Sabang.AGN – Nilai produksi perikanan tangkap laut di Kota Sabang tercatat mencapai Rp292,656 miliar dalam laporan statistik perikanan. 

Meski menunjukkan besarnya aktivitas ekonomi sektor perikanan, angka tersebut belum menggambarkan secara langsung pendapatan bersih yang diperoleh nelayan setelah dikurangi biaya operasional melaut.

Data produksi menurut jenis ikan memperlihatkan sejumlah komoditas bernilai ekonomi tinggi. Tuna menempati posisi menonjol dengan nilai produksi sekitar Rp79,10 miliar, disusul kuwe sebesar Rp42,11 miliar dan cakalang sekitar Rp40,33 miliar.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Sabang, Zulfan, S.Pi., menjelaskan bahwa hasil tangkapan nelayan setempat banyak berasal dari kelompok ikan pelagis, seperti tuna, tongkol, cakalang, dan layang. Jenis ikan yang mendominasi hasil tangkapan tersebut berkaitan dengan pola penangkapan serta peralatan yang digunakan nelayan.

Salah satu alat tangkap yang digunakan adalah purse seine atau pukat cincin. Penggunaan alat tangkap turut memengaruhi jenis dan volume ikan yang diperoleh, sehingga berpengaruh terhadap komposisi produksi perikanan di daerah tersebut.

Namun, besarnya nilai produksi belum cukup untuk mengukur tingkat kesejahteraan nelayan. Hasil penjualan ikan masih harus diperhitungkan bersama berbagai pengeluaran, mulai dari bahan bakar, es, perbekalan selama melaut, hingga perawatan kapal dan mesin.

Pembagian hasil dengan awak kapal serta harga jual ikan di tingkat nelayan juga menjadi faktor yang menentukan jumlah pendapatan yang benar-benar diterima. Karena itu, nilai produksi daerah tidak bisa langsung dianggap sebagai keuntungan yang dinikmati oleh nelayan maupun keluarganya.

Hingga bahan data yang tersedia disusun, belum terdapat angka rata-rata pendapatan bersih nelayan per perjalanan melaut ataupun per bulan. Rincian biaya operasional berdasarkan ukuran kapal dan jenis alat tangkap juga belum tersedia, sehingga besarnya pendapatan nelayan di Sabang belum dapat dihitung secara menyeluruh.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap, data nilai produksi perlu dilengkapi informasi mengenai biaya operasional, harga jual hasil tangkapan, dan pembagian pendapatan. Survei rumah tangga nelayan atau wawancara dengan pelaku usaha perikanan dari berbagai skala dapat membantu menunjukkan perbedaan kondisi ekonomi masing-masing kelompok.

Selain persoalan pendapatan, periode pencatatan statistik juga perlu dipastikan. Laporan berjudul Statistik Perikanan Tangkap Kota Sabang Tahun 2025 memuat tabel yang mencantumkan tahun 2024, sedangkan tabel produksi menurut komoditas menggunakan keterangan tahun 2025. Perbedaan penandaan tahun tersebut perlu dikonfirmasi kepada penyusun laporan agar data yang dipublikasikan tidak menimbulkan kekeliruan.

Nilai produksi Rp292,656 miliar tetap menjadi indikator penting bagi aktivitas ekonomi perikanan Sabang. Namun, gambaran mengenai kondisi nelayan akan lebih utuh apabila angka tersebut disandingkan dengan data pendapatan bersih, biaya melaut, serta harga jual ikan. Dengan demikian, kontribusi sektor perikanan terhadap perekonomian daerah dapat dilihat bersama manfaat ekonomi yang diterima para pelakunya.[DIKK]

0 Komentar