
Foto | Flayer Mi Goreng Tanpa Air Abu Rp10 Ribu.(dok.AGN)
Sabang.AGN – Tak ada rencana besar ketika Riandi Armi pertama kali membuat sarapan untuk anaknya. Dari dapur rumah, ia hanya menyiapkan makanan untuk bekal sang anak. Namun, rasa penasaran teman-teman anaknya justru membuka jalan bagi Riandi untuk merintis usaha kuliner.
Riandi yang sehari-hari aktif sebagai wartawan di Kota Sabang kemudian mulai menerima pesanan makanan rumahan. Menu yang ditawarkan sederhana, yakni nasi goreng dan mi goreng, tetapi proses pembuatannya dilakukan dengan perhatian pada bahan yang digunakan.
Cerita usaha itu bermula saat anak Riandi yang kini duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) membawa makanan buatan ayahnya. Teman-temannya tertarik dan meminta agar makanan serupa dibuat lebih banyak.
Permintaan tersebut kemudian dimanfaatkan Riandi sebagai peluang. Dari yang awalnya sekadar menyiapkan sarapan untuk anak, ia mulai mencoba menjual makanan tersebut kepada orang lain.
“Kami berdagang sambil bersedekah,” ujar Riandi Armi.
Salah satu menu yang kini menjadi andalannya adalah mi goreng. Riandi tidak menggunakan mi instan, melainkan membuat sendiri adonan mi dari tepung terigu protein tinggi dan telur.
Untuk setiap satu kilogram tepung, ia menggunakan empat butir telur. Adonan tersebut kemudian diproses menjadi mi yang digunakan untuk menu pesanannya.
Ada satu hal lain yang sengaja dipertahankan Riandi dalam proses tersebut. Ia mengaku tidak menggunakan air abu dalam pembuatan mi.
Menurut dia, pemilihan bahan bukan sekadar soal rasa. Ia ingin mengetahui sendiri bahan yang digunakan dalam makanan yang dijual, terlebih konsumennya juga berasal dari kalangan anak-anak.
Bukan hanya mi, sejumlah bahan pelengkap juga dibuat sendiri. Bakso yang digunakan dalam menu dibuat dari ikan tuna atau ikan pisang-pisang yang dicampur dengan tepung tapioka dan bahan penyedap.
Begitu pula dengan sambalnya. Cabai diracik sendiri dan sebagian bahan bahkan berasal dari tanaman yang tumbuh di sekitar rumah.
Untuk satu porsi mi goreng, Riandi mematok harga Rp10 ribu. Penjualan dilakukan dengan sistem cash on delivery (COD), sehingga pelanggan dapat memesan terlebih dahulu sebelum makanan diantar.
Harga murah menjadi salah satu daya tarik usaha rumahan tersebut. Riandi berusaha mempertahankan harga tetap terjangkau meski sejumlah bahan makanan diolah sendiri.
Salah seorang pelanggan, Irzam, mengaku cukup sering membeli mi goreng buatan Riandi. Selain rasanya, harga menjadi alasan dirinya memilih makanan tersebut.
“Saya sering membeli. Rasanya enak dan harganya juga terjangkau,” kata Irzam.
Menurut Irzam, proses pembuatan mi tanpa menggunakan air abu juga menjadi nilai tambah. Ia merasa lebih nyaman mengonsumsi makanan yang proses pembuatannya diketahui.
“Saya suka karena tidak menggunakan air abu,” ujarnya.
Usaha tersebut kini tidak hanya melayani pembelian satuan. Riandi juga menerima pesanan dalam jumlah lebih banyak untuk kebutuhan keluarga, kegiatan rumahan hingga konsumsi perkantoran.
Pelanggan yang ingin memesan dapat menghubungi Riandi melalui nomor 0821-6033-9999. Pesanan dapat disesuaikan dengan jumlah dan kebutuhan pelanggan.
Perhatian Riandi tidak berhenti pada bahan makanan. Kemasan pun ikut dipertimbangkan. Ia memilih menggunakan wadah berbahan karton serta sumpit bambu sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan plastik.
Bagi Riandi, usaha yang tumbuh dari dapur rumah itu bukan hanya tentang menjual makanan. Ada pengalaman pribadi, kreativitas mengolah bahan dan semangat berbagi yang ingin ia pertahankan.
Kisah tersebut menunjukkan bagaimana sebuah peluang usaha terkadang muncul dari aktivitas paling sederhana. Dari menyiapkan sarapan untuk anak, Riandi kini memiliki usaha kuliner kecil yang terus dijalankan di sela aktivitasnya sebagai wartawan di Kota Sabang.
Dengan harga Rp10 ribu seporsi, bahan yang diolah sendiri dan konsep usaha yang berangkat dari semangat berbagi, mi goreng rumahan Riandi menjadi contoh usaha kecil yang tumbuh dari lingkungan keluarga sebelum menjangkau pelanggan yang lebih luas.[PIM]
0 Komentar