
Foto | Siswa mengikuti Workshop Game Edukasi Puzzle 3D Rumah Tradisional Aceh yang diselenggarakan dosen Universitas Syiah Kuala bersama DLHK Kota Sabang sebagai mitra kegiatan.(dok.AGN)
Sabang.AGN – Bangunan tradisional Rumah Aceh tidak hanya menyimpan nilai sejarah dan budaya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana masyarakat terdahulu mengembangkan tempat tinggal dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan.
Pengetahuan tersebut kini diperkenalkan kepada siswa di Kota Sabang melalui pendekatan pembelajaran kreatif menggunakan permainan puzzle tiga dimensi.
Melalui Workshop Game Edukasi Puzzle 3D Rumah Tradisional Aceh, para peserta diajak memahami bentuk dan karakteristik rumah tradisional dengan cara menyusun bagian-bagian bangunan menjadi sebuah model yang utuh.
Amatan wartawan dilapangan, kegiatan ini merupakan kolaborasi dosen Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (USK), dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) USK, serta mahasiswa, dengan melibatkan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Sabang sebagai mitra.
Berdasarkan informasi kegiatan yang diterima redaksi AcehGlobalNews.id, Sabtu (31/10/2026), metode permainan tersebut digunakan untuk memperkenalkan pengetahuan arsitektur tradisional dengan cara yang lebih mudah dipahami oleh anak-anak.
Melalui penyusunan puzzle tiga dimensi, peserta tidak hanya mengenali tampilan luar Rumah Aceh, tetapi juga mempelajari hubungan antara bagian-bagian bangunan, mulai dari bentuk dasar, susunan konstruksi, hingga pengaturan ruang yang menjadi ciri khas arsitektur tradisional tersebut.
Pendekatan ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda dibandingkan dengan penyampaian materi secara teori. Anak-anak dapat mengamati bentuk bangunan melalui model sekaligus memahami bagaimana setiap bagian saling terhubung hingga membentuk sebuah rumah.
Salah satu nilai penting yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah hubungan antara bentuk arsitektur Rumah Aceh dan kondisi alam di sekitarnya.
Rumah Aceh dikenal dengan konstruksi bangunan panggung yang menjadi salah satu karakteristik arsitektur tradisional masyarakat Aceh. Bentuk bangunan, pemanfaatan material, serta susunan ruang mencerminkan pengetahuan yang berkembang melalui pengalaman masyarakat dalam membangun tempat tinggal.
Konsep tersebut menjadi bahan pembelajaran untuk memperlihatkan bahwa rancangan bangunan tidak semata-mata mempertimbangkan keindahan, tetapi juga berkaitan dengan kenyamanan penghuni dan penyesuaian terhadap kondisi lingkungan.
Pengetahuan arsitektur tradisional semacam ini dinilai relevan untuk diperkenalkan kepada generasi muda, terutama dalam membangun pemahaman mengenai pentingnya menciptakan hunian yang memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan lingkungan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Sabang mengatakan, Selain mengenalkan prinsip arsitektur, permainan puzzle 3D juga menjadi sarana melatih kreativitas, ketelitian, dan kemampuan peserta dalam memahami bentuk ruang.
Ketika menyusun setiap bagian bangunan, siswa belajar menghubungkan bentuk-bentuk yang berbeda menjadi satu kesatuan. Aktivitas tersebut sekaligus melatih kemampuan mengamati, menyusun, dan memahami hubungan antarkomponen dalam sebuah konstruksi.
Lanjutnya, keterlibatan DLHK Kota Sabang sebagai mitra dalam kegiatan ini memperlihatkan adanya pendekatan edukasi lingkungan yang tidak hanya berfokus pada persoalan kebersihan maupun penghijauan, tetapi juga dapat dikembangkan melalui pengenalan pengetahuan lokal yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Arsitektur Rumah Aceh menjadi salah satu contoh bahwa nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan telah menjadi bagian dari pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
Melalui pendekatan tersebut, siswa diharapkan dapat memahami bahwa pelestarian lingkungan memiliki keterkaitan dengan cara masyarakat membangun, menggunakan sumber daya, serta menyesuaikan aktivitas kehidupannya dengan kondisi alam.
Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkenalkan kembali identitas budaya Aceh kepada generasi muda. Pengenalan rumah tradisional sejak usia sekolah dinilai penting agar pengetahuan mengenai warisan arsitektur daerah tidak hanya dikenal melalui gambar maupun cerita.
Pembelajaran yang dikemas dalam bentuk permainan diharapkan mampu menumbuhkan ketertarikan siswa untuk mengenal lebih jauh kekayaan budaya daerah sekaligus memahami nilai-nilai lingkungan yang terkandung di dalamnya.
Kolaborasi perguruan tinggi dengan DLHK Kota Sabang tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan ilmu pengetahuan dan kreativitas dalam kegiatan edukasi masyarakat.
Melalui penggabungan unsur pendidikan, teknologi permainan, dan kearifan lokal, Rumah Aceh diperkenalkan bukan sekadar sebagai peninggalan arsitektur tradisional, melainkan juga sebagai sumber pengetahuan mengenai hubungan antara manusia, bangunan, dan lingkungan.
Kegiatan semacam ini diharapkan dapat memperluas kesempatan belajar bagi siswa sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian budaya dan lingkungan sejak dini.[DIKK]
0 Komentar