![]() |
| Foto | Bawaslu Kota Sabang memberikan edukasi demokrasi kepada pelajar melalui program Bawaslu Goes to School.(dok.AGN) |
Sabang.AGN – Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS di lingkungan sekolah mulai dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran demokrasi bagi pelajar di Kota Sabang. Melalui program Bawaslu Kota Sabang Goes to School, siswa diajak mengenal proses menentukan pilihan secara langsung sebelum nantinya menjadi pemilih pada Pemilu 2029.
Ketua Bawaslu Kota Sabang, Kurdinar, mengatakan pengalaman berdemokrasi tidak harus menunggu seseorang memasuki usia pemilih. Sekolah justru dapat menjadi tempat awal bagi generasi muda untuk memahami bagaimana sebuah pilihan ditentukan dan bagaimana perbedaan sikap diterima.
Menurutnya, pemilihan OSIS memiliki kedekatan langsung dengan kehidupan siswa. Dalam proses tersebut, pelajar dapat belajar menggunakan hak pilih sekaligus memahami bahwa setiap orang memiliki kebebasan menentukan pilihannya masing-masing.
“Pemilihan Ketua OSIS merupakan salah satu bentuk pembelajaran demokrasi yang sangat dekat dengan kehidupan siswa. Dari sini, mereka dapat belajar bagaimana menggunakan hak pilih, menghargai perbedaan pilihan, dan menerima hasil pemilihan secara demokratis,” ujar Kurdinar, Kamis (1/10/2026).
Bawaslu Kota Sabang juga mendorong siswa agar tidak menentukan pilihan hanya berdasarkan hubungan pertemanan. Pelajar diperkenalkan pada pentingnya melihat visi dan misi, rekam jejak, integritas serta kemampuan calon sebelum memberikan suara.
Pembelajaran tersebut dinilai penting karena sebagian pelajar yang saat ini masih berada di bangku sekolah akan memasuki usia sebagai pemilih pada Pemilu 2029. Karena itu, pemahaman mengenai hak dan tanggung jawab sebagai pemilih perlu dibangun lebih awal.
Kurdinar mengatakan calon pemilih pemula juga menghadapi tantangan lain di tengah perkembangan teknologi informasi. Banyaknya informasi yang beredar melalui media sosial membuat pelajar perlu memiliki kemampuan untuk membedakan informasi yang dapat dipercaya dan informasi yang belum terverifikasi.
Kemampuan tersebut diperlukan agar pemilih muda tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru. Terlebih, perkembangan teknologi termasuk kecerdasan buatan turut menghadirkan tantangan berupa disinformasi, hoaks maupun konten manipulatif di ruang digital.
“Dari sekolah, demokrasi diperkenalkan. Dari pemilih pemula, masa depan demokrasi dipersiapkan,” kata Kurdinar.
Melalui program Goes to School, Bawaslu juga mengenalkan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga proses demokrasi. Pelajar tidak hanya ditempatkan sebagai orang yang memberikan suara, tetapi juga diperkenalkan pada sikap menghormati pilihan orang lain serta menerima hasil yang telah ditetapkan melalui mekanisme yang disepakati.
Pemilihan OSIS dengan demikian menjadi salah satu bentuk praktik demokrasi yang dapat dirasakan langsung siswa. Dari kegiatan sederhana di sekolah, mereka dapat belajar mengenai kebebasan memilih, perbedaan pilihan, proses pemilihan hingga menerima hasilnya.
Bagi Bawaslu Kota Sabang, pembekalan sejak lingkungan sekolah memberi kesempatan lebih panjang bagi calon pemilih pemula untuk memahami demokrasi sebelum menggunakan hak pilih dalam pemilu. Kebiasaan memeriksa informasi dan menentukan pilihan secara sadar juga diharapkan terbawa ketika mereka memasuki ruang demokrasi yang lebih luas.
Program tersebut diarahkan bukan sekadar untuk mengenalkan teknis pencoblosan atau pemungutan suara. Edukasi juga mencakup bagaimana pelajar menilai calon, menyikapi perbedaan, menyaring informasi dan ikut menjaga proses demokrasi.
Dengan pendekatan tersebut, pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS tidak hanya menjadi agenda organisasi siswa. Bagi Bawaslu Kota Sabang, kegiatan itu dapat menjadi pengalaman awal bagi generasi muda untuk mengenal praktik demokrasi sebelum mereka menjadi pemilih pada Pemilu 2029.[PIM]

0 Komentar