
Foto | Akademisi, tenaga ahli, konsultan, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan membahas studi kelayakan pembangunan Pelabuhan Penyeberangan Pulo Breuh.(dok.Dishub Aceh untuk AGN)
Aceh Besar.AGN – Penentuan lokasi pembangunan pelabuhan penyeberangan di Pulo Breuh, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, masih membutuhkan kajian lintas disiplin.
Dinas Perhubungan Aceh melibatkan akademisi, tenaga ahli, konsultan, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan dalam pembahasan tiga alternatif lokasi agar keputusan yang diambil memiliki dasar pertimbangan yang menyeluruh.
Tiga lokasi yang sedang ditelaah berada di Lapeng, Rinon, dan Ujong Peuneung, Gampong Meulingge. Pembahasan berlangsung melalui Focus Group Discussion (FGD) Studi Kelayakan Pembangunan Pelabuhan Penyeberangan Pulo Breuh di Banda Aceh, Senin (19/10/2026).
Forum tersebut menjadi wadah untuk membahas hasil survei awal sekaligus menghimpun masukan dari berbagai pihak. Penilaian tidak hanya menyangkut kemungkinan pembangunan secara teknis, tetapi juga kondisi lingkungan, akses menuju lokasi, keselamatan, dan keberlanjutan operasional pelabuhan.
Team Leader konsultan PT Hidroteknik Andalan, Muhajir, memaparkan hasil survei terhadap ketiga alternatif lokasi yang dilaksanakan pada 13–15 September 2026. Dari survei tersebut, tim menemukan keberadaan lamun di kawasan Lapeng, sedangkan di Ujong Peuneung dan Rinon tidak ditemukan lamun.
Survei bawah laut juga mengidentifikasi terumbu karang dengan tingkat tutupan yang relatif rendah pada ketiga lokasi. Meski demikian, keberadaan karang beserta komunitas ikan yang hidup di sekitarnya tetap perlu menjadi pertimbangan dalam perencanaan, terutama untuk memperhatikan kelestarian ekosistem laut.
Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) sekaligus pakar rekayasa pantai (coastal engineering), Prof. Syamsidik, mengingatkan bahwa kelayakan pembangunan tidak cukup dinilai dari aspek teknis semata. Risiko yang dapat memengaruhi keselamatan maupun keberlangsungan operasi pelabuhan juga perlu diperhitungkan sejak tahap perencanaan.
Selain aspek kelautan, kajian turut mencakup kondisi akses jalan menuju masing-masing lokasi. Keterhubungan dengan pasar, sekolah, fasilitas kesehatan, kawasan perikanan, pertanian, serta pariwisata menjadi bagian dari penilaian untuk melihat kemudahan masyarakat menjangkau pelabuhan.
Karakteristik kapal yang akan dilayani juga menjadi pertimbangan. Pelabuhan tersebut direncanakan dapat mengakomodasi kapal jenis roll-on/roll-off (Ro-Ro), yang memungkinkan kendaraan masuk dan keluar kapal melalui jalur khusus. Karena itu, kondisi perairan dan kesesuaian fasilitas pendukung perlu diperhitungkan agar operasional penyeberangan dapat berjalan dengan baik.
Pelibatan akademisi dan tenaga ahli dalam pembahasan diharapkan dapat memperkaya analisis sebelum pemerintah menentukan lokasi terpilih. Masukan dari tokoh masyarakat Pulo Aceh juga menjadi bagian penting untuk memastikan rencana pembangunan mempertimbangkan kondisi serta kebutuhan warga setempat.
Hasil FGD selanjutnya diharapkan menjadi bahan penyempurnaan studi kelayakan. Dengan mempertimbangkan aspek teknis, lingkungan, aksesibilitas, dan keselamatan secara bersamaan, penetapan lokasi pelabuhan diharapkan memiliki landasan yang lebih komprehensif dan mendukung pemanfaatan infrastruktur dalam jangka panjang.[DIKK]
0 Komentar