![]() |
| Foto | Ilustrasi petani melakukan aktivitas di lahan pertanian. Pemanfaatan teknologi pintar dinilai dapat membantu menghadapi perubahan kondisi cuaca.(dok.kreasi AI AGN) |
Banda Aceh.AGN – Perubahan kondisi cuaca yang semakin sulit diperkirakan membuat sektor pertanian menghadapi tantangan yang tidak ringan. Petani harus beradaptasi dengan kekeringan, ketersediaan air yang terbatas hingga pergeseran waktu tanam yang berpotensi memengaruhi produksi.
Pemanfaatan teknologi pertanian pintar atau smart farming menjadi salah satu pendekatan yang dinilai dapat membantu petani menghadapi kondisi tersebut. Melalui teknologi, petani bisa memperoleh informasi mengenai kondisi lahan sebelum menentukan langkah di lapangan.
Dosen dan peneliti University of Newcastle (UON) Australia, Dr Teuku Geumpana, mengatakan pemanfaatan teknologi bukan dimaksudkan untuk mengambil alih peran petani. Sebaliknya, teknologi dapat digunakan sebagai pendukung agar keputusan yang dibuat petani lebih berdasarkan kondisi aktual.
“Petani memang tidak bisa mengendalikan cuaca, tetapi mereka bisa lebih siap dengan menggunakan informasi yang tepat untuk mendukung keputusan sehari-hari,” kata Teuku dalam siaran pers, Selasa (15/9/2026).
Ia sebelumnya menjadi salah satu narasumber dalam program Harvesting the Future 2026: Smart Farming for Climate Resilience yang digelar di Sulawesi Selatan. Program tersebut merupakan kolaborasi University of Newcastle Australia dengan Universitas Hasanuddin (Unhas) pada 3-10 Agustus 2026.
Kegiatan itu juga mendapat dukungan hibah Australia-Indonesia Institute (AII) di bawah Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia. Salah satu agenda yang dilakukan yakni workshop bersama petani di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) yang diikuti sekitar 300 peserta.
Dalam kegiatan tersebut, petani menyampaikan sejumlah persoalan yang selama ini dihadapi, mulai dari kekeringan dan terbatasnya air, perubahan musim tanam, serangan hama serta penyakit tanaman hingga meningkatnya ongkos produksi.
Teknologi berbasis Internet of Things (IoT) kemudian diperkenalkan sebagai salah satu sarana untuk memperoleh informasi kondisi lahan. Sensor tanah multi-parameter, misalnya, dapat digunakan untuk melihat kondisi tanah dan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
Tim peneliti Unhas juga mengembangkan Rice Smart Sentinel, sebuah sistem berbasis IoT yang dirancang untuk memantau kondisi tanaman padi sekaligus mendeteksi gangguan sejak lebih awal. Sistem tersebut ditargetkan dapat dikembangkan untuk mendukung sekitar 300 petani di Sidrap.
Namun, penerapan teknologi di sektor pertanian masih menghadapi sejumlah persoalan. Ketersediaan jaringan internet, harga perangkat sensor, kemampuan teknis pengguna serta tingkat kemudahan pengoperasian menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Teuku menilai teknologi pertanian pada akhirnya harus menjawab persoalan nyata yang dihadapi petani. Artinya, inovasi tidak cukup hanya mengandalkan kecanggihan, tetapi harus mudah diterapkan dan mampu memberikan informasi yang benar-benar berguna dalam menentukan keputusan di lahan.[ZAK]

0 Komentar