
Foto | Boat wisata di kawasan Iboih saat sedang menunggu wisatawan untuk nyebrang ke Pulau Rubiah atau sekedar mengelilingi pulau tersebut.(dok AGN)
Sabang.AGN — Pergerakan wisatawan di kawasan Iboih dan Pulau Rubiah menjadi gambaran bagaimana sektor pariwisata tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat Kota Sabang.
Sejak pagi, perahu wisata mulai membawa pengunjung menuju Pulau Rubiah. Sebagian wisatawan memilih menikmati laut, sementara lainnya bersiap melakukan snorkeling dan berbagai aktivitas bahari.
Di balik aktivitas tersebut, terdapat banyak masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor wisata. Pengemudi perahu, pemandu, pengelola penginapan, pedagang, pelaku kuliner hingga penyedia jasa perjalanan ikut merasakan perputaran ekonomi dari kunjungan wisatawan.
Kondisi itu menjadi salah satu alasan Pemerintah Kota Sabang terus mendorong pengembangan sektor pariwisata. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Zulkifli H. Adam, pariwisata diarahkan tidak semata-mata untuk meningkatkan jumlah wisatawan, tetapi juga memberi dampak terhadap perekonomian masyarakat.
Komitmen tersebut mendapat apresiasi melalui SMSI Aceh Awards 2026. Dalam malam penganugerahan yang berlangsung di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Sabtu (5/9/2026), Zulkifli H. Adam menerima penghargaan sebagai Kepala Daerah Penggerak Pariwisata dan Ekonomi Aceh.
Penghargaan tersebut menjadi dorongan bagi Pemerintah Kota Sabang untuk melanjutkan berbagai program pengembangan pariwisata. Apalagi, data kunjungan menunjukkan sektor tersebut memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.
Sepanjang 2025, jumlah kunjungan wisatawan ke Sabang tercatat mencapai 270.971 orang. Sementara hingga Juni 2026, angka kunjungan telah mencapai 134.074 wisatawan.
Foto | Wali Kota Sabang Zulkifli H. Adam meraih SMSI Aceh Awards 2026 kategori Kepala Daerah Penggerak Pariwisata dan Ekonomi Aceh.(dok AGN)
Jumlah tersebut sekaligus memperlihatkan besarnya aktivitas ekonomi yang berpotensi tercipta dari sektor pariwisata. Namun, pertumbuhan kunjungan juga diikuti kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, keamanan, kebersihan, informasi serta kenyamanan wisatawan.
Digitalisasi Mulai Disiapkan
Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susethia, mengatakan pengembangan sektor pariwisata harus menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan wisatawan.
Salah satu inovasi yang tengah disiapkan pada 2026 adalah JAKLOM, sebuah platform informasi pariwisata Kota Sabang. Nama tersebut berasal dari kosakata bahasa Aceh yang bermakna “pergi lagi”.
Konsep itu sekaligus menggambarkan harapan agar wisatawan tidak hanya datang sekali, tetapi memiliki alasan untuk kembali menikmati berbagai potensi yang dimiliki Sabang.
Harry menyebutkan, pengembangan JAKLOM masih dalam tahap pembahasan dan penyempurnaan. Platform tersebut merupakan bagian dari penelitian terapan Universitas Muhammadiyah Aceh yang diarahkan pada pengembangan ekosistem digital Muslim-Friendly Tourism sekaligus optimalisasi pendapatan asli daerah.
Kehadiran platform informasi dinilai dapat menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan ekosistem pariwisata. Wisatawan kini membutuhkan informasi yang mudah diakses sebelum menentukan perjalanan, mulai dari destinasi, aktivitas wisata, penginapan, kuliner hingga transportasi.
Informasi yang terintegrasi juga berpeluang mempertemukan wisatawan dengan pelaku usaha lokal. Dengan demikian, perjalanan wisatawan tidak berhenti pada kunjungan ke satu destinasi, tetapi dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi yang lebih luas.
Iboih dan Pulau Rubiah Tetap Jadi Andalan
Di antara sejumlah destinasi yang dimiliki Sabang, kawasan Iboih dan Pulau Rubiah masih menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan.
Keindahan bawah laut, kejernihan air serta kekayaan biota laut menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin melakukan snorkeling maupun diving.
Tingginya minat wisatawan terlihat pada sejumlah periode liburan. Saat libur Idulfitri 2026, misalnya, kawasan Iboih dan Pulau Rubiah dipadati pengunjung dari berbagai daerah.
![]() |
| Foto | Antrian calon penumpang kapal di loket pembelian tiket di Pelabuhan Ulee-lheue Banda Aceh saat libur Idulfitri 2026.(dok.AGN) |
Ketua Kelompok Sadar Wisata Gampong Iboih, Tarmizi, sebelumnya menyebut kunjungan pada periode tersebut rata-rata mencapai sekitar 300 orang per hari dan dapat meningkat hingga sekitar 400 orang apabila dihitung bersama wisatawan yang menginap.
Lonjakan kunjungan juga terjadi pada masa libur Iduladha. Wisatawan yang datang ke Iboih dan Pulau Rubiah mencapai sekitar 300 hingga 400 orang per hari, dengan sebagian besar berasal dari Sumatera Utara dan sejumlah wilayah di Aceh.
Bagi masyarakat yang terlibat dalam sektor wisata, tingginya kunjungan merupakan peluang ekonomi. Namun, kondisi tersebut sekaligus menuntut kesiapan destinasi agar mampu memberikan pelayanan yang semakin baik.
Penginapan, transportasi laut, kuliner, pemandu wisata hingga pengelolaan lingkungan harus berjalan beriringan. Dengan begitu, peningkatan jumlah wisatawan tidak hanya terlihat pada angka, tetapi juga menghasilkan pengalaman yang baik bagi pengunjung dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Masyarakat Didorong Jadi Pelaku Utama
Pengembangan pariwisata Sabang juga diarahkan agar masyarakat lokal tidak sekadar menjadi penonton. Kelompok sadar wisata, masyarakat gampong dan pelaku usaha lokal memiliki posisi penting dalam membangun destinasi.
Rantai ekonomi pariwisata yang panjang membuat satu kunjungan wisatawan dapat memberi manfaat kepada berbagai sektor. Saat wisatawan menuju Iboih, misalnya, mereka membutuhkan transportasi, perahu menuju Pulau Rubiah, penginapan, makanan, perlengkapan wisata maupun jasa pemandu.
Semakin banyak kebutuhan wisatawan yang dapat dipenuhi oleh pelaku usaha lokal, semakin besar pula potensi perputaran ekonomi di tengah masyarakat.
Gampong Iboih sendiri mencatat capaian pada 2026 dengan terpilih sebagai satu-satunya desa wisata asal Aceh yang mengikuti Showcase Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026.
Iboih menjadi salah satu dari enam desa wisata di Indonesia yang lolos proses kurasi Bank Indonesia bersama Kementerian Pariwisata.
Bagi masyarakat setempat, capaian tersebut menjadi kebanggaan sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata berbasis masyarakat dapat membuka peluang promosi hingga tingkat nasional.
Tarmizi menyebut keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja bersama dalam mendorong pengembangan Desa Wisata Iboih.
Daya Tarik Baru Terus Dikembangkan
Pengembangan destinasi wisata tidak selalu harus melalui pembangunan fisik berskala besar. Kreativitas dalam menghadirkan pengalaman baru juga dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat daya tarik destinasi.
Pada 2026, kawasan Pulau Rubiah memiliki spot wisata bawah laut baru berupa instalasi bertema biota laut. Fasilitas tersebut dapat dinikmati wisatawan yang melakukan snorkeling maupun penyelam pemula.
Program tersebut merupakan hasil kerja sama Lembaga Wisata Gampong Iboih dengan Wildlife Conservation Society (WCS). Pengembangannya diarahkan untuk memperkaya pengalaman wisata sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Konsep seperti ini memperlihatkan bahwa pengembangan pariwisata dapat berjalan bersama upaya konservasi. Potensi alam tetap menjadi kekuatan utama, sementara aktivitas baru diciptakan untuk memberikan pengalaman berbeda kepada wisatawan.
Snorkeling, diving, wisata bahari, dolphin trip, wisata pantai hingga kegiatan berbasis masyarakat dapat dikembangkan sebagai rangkaian pengalaman yang membuat wisatawan memiliki lebih banyak pilihan selama berada di Sabang.
Tantangan Tidak Berhenti pada Promosi
Besarnya potensi kunjungan juga menghadirkan tantangan tersendiri. Destinasi yang semakin ramai membutuhkan pengelolaan yang semakin baik.
Kebersihan, keamanan, transportasi, informasi serta kualitas pelayanan menjadi sejumlah aspek yang harus mendapat perhatian. Dinas Pariwisata Kota Sabang pada 2026 juga melakukan pemantauan di sejumlah destinasi untuk melihat kesiapan kawasan wisata menghadapi periode kunjungan tinggi.
![]() |
| Foto | Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Sabang berlangsung semarak dengan digelarnya lomba paddleboard di Pantai Teupin Layee, Gampong Iboih.(dok.AGN) |
Selain kesiapan destinasi, kepercayaan wisatawan juga menjadi bagian penting. Pada Maret 2026, Dinas Pariwisata mengingatkan masyarakat dan calon wisatawan agar mewaspadai penipuan yang mengatasnamakan penginapan maupun perjalanan wisata.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa membangun industri pariwisata tidak cukup hanya melalui promosi. Ekosistem wisata yang sehat membutuhkan kepastian informasi, pelayanan yang baik serta rasa aman bagi pengunjung.
Jika wisatawan memperoleh pengalaman sesuai harapan, peluang mereka untuk kembali tentu semakin besar. Pada titik itu, promosi tidak lagi menjadi satu-satunya cara menarik kunjungan.
Membuat Wisatawan Ingin Kembali
Semangat tersebut sejalan dengan konsep JAKLOM yang berarti “pergi lagi”. Gagasan tersebut menggambarkan target agar Sabang menjadi destinasi yang membuat wisatawan memiliki alasan untuk kembali.
Alasan tersebut dapat berasal dari banyak hal, mulai dari keindahan alam, pengalaman bahari, kuliner, kegiatan masyarakat hingga berbagai agenda wisata yang disiapkan daerah.
Promosi memang dapat menjadi pintu masuk bagi wisatawan untuk mengenal Sabang. Namun, pengalaman selama berada di destinasi akan menentukan apakah mereka ingin kembali atau tidak.
Karena itu, kualitas sumber daya manusia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan pariwisata. Pelaku usaha perlu memahami kebutuhan wisatawan, menjaga kualitas layanan, menguasai informasi destinasi serta memanfaatkan teknologi untuk memperluas pemasaran.
Pemerintah dapat menyediakan kebijakan dan ruang pengembangan, tetapi masyarakat dan pelaku usaha merupakan pihak yang berinteraksi langsung dengan wisatawan setiap hari.
Dari Kunjungan Menjadi Manfaat Ekonomi
Pada akhirnya, pembangunan pariwisata Sabang tidak hanya berorientasi pada bertambahnya jumlah wisatawan. Lebih jauh, sektor ini diharapkan mampu membuka dan memperluas peluang ekonomi masyarakat.
Wisatawan yang tinggal lebih lama akan membutuhkan lebih banyak layanan. Mereka menggunakan transportasi, menikmati kuliner, menginap, menggunakan jasa pemandu, membeli produk lokal dan mengikuti berbagai aktivitas wisata.
| Foto | Salah satu pengusaha jasa sewa pelampung untuk disewakan kepada wisatawan dikawasan Iboih sedang menawarkan peralatannya kepada wisatawan.(dok.AGN) |
Semua aktivitas tersebut menciptakan rantai ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat.
Karena itu, Sabang membutuhkan bukan hanya wisatawan dalam jumlah besar, tetapi juga kunjungan yang berkualitas. Wisatawan diharapkan memperoleh pengalaman yang baik, menggunakan jasa masyarakat lokal dan kemudian membawa cerita positif tentang Sabang ke daerah asal mereka.
Potensi tersebut menjadi pekerjaan bersama Pemerintah Kota Sabang, Dinas Pariwisata, kelompok sadar wisata serta seluruh pelaku usaha yang bergerak di sektor pariwisata.
Sabang telah memiliki modal alam yang kuat. Laut, Pulau Rubiah, Iboih, kawasan Kilometer Nol, sejarah dan budaya menjadi kekayaan yang dapat terus dikembangkan.
Tantangannya adalah memastikan seluruh potensi tersebut dikelola tanpa menghilangkan karakter alam dan identitas daerah.
Penghargaan yang diterima Wali Kota Zulkifli H. Adam sebagai kepala daerah penggerak pariwisata dan ekonomi menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap arah pembangunan tersebut. Namun, penghargaan sekaligus menjadi dorongan agar pengembangan pariwisata terus menghasilkan dampak nyata.
Sementara itu, capaian Desa Wisata Iboih di tingkat nasional dan rencana pengembangan JAKLOM menunjukkan adanya upaya untuk memperkuat pariwisata dari dua sisi, yakni potensi masyarakat di tingkat destinasi dan pemanfaatan teknologi.
Dengan jumlah kunjungan yang terus bergerak, tantangan berikutnya adalah bagaimana membuat wisatawan datang, mendapatkan pengalaman yang baik, kemudian memilih untuk kembali.
Sebab, keberhasilan pariwisata pada akhirnya bukan hanya ketika wisatawan memenuhi destinasi, tetapi ketika kehadiran mereka mampu menggerakkan ekonomi, membuka peluang usaha, menjaga lingkungan dan membuat masyarakat lokal ikut merasakan manfaatnya.
Sabang memiliki potensi untuk menuju ke arah tersebut. Tinggal bagaimana seluruh unsur yang terlibat terus menjaga kualitas, memperkuat pelayanan dan mengembangkan potensi yang sudah dimiliki secara berkelanjutan.[ADV]



0 Komentar