KIA Soroti Inovasi BBPOM Aceh, SANGER Ureueng Aceh Jadi Perhatian

Foto | Tim Komisi Informasi Aceh melakukan visitasi Monitoring dan Evaluasi Keterbukaan Informasi Publik di BBPOM Aceh, Senin (21/9/2026).(dok.Komisi Informasi Aceh (KIA) untuk AGN)

Banda Aceh.AGN – Warung kopi tidak hanya menjadi tempat masyarakat Aceh berkumpul dan berbincang. Ruang interaksi tersebut dimanfaatkan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Aceh sebagai media menyampaikan edukasi mengenai keamanan pangan melalui program SANGER Ureueng Aceh.

Inovasi tersebut menjadi salah satu yang mendapat perhatian Komisi Informasi Aceh (KIA) saat melakukan visitasi Monitoring dan Evaluasi Keterbukaan Informasi Publik dan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) di BBPOM Aceh, Senin (21/9/2026).

Program SANGER Ureueng Aceh yang mulai dikembangkan sejak 2022 itu disebut telah menjangkau sekitar 1.540 warung kopi di seluruh Aceh. Dalam pelaksanaannya, BBPOM Aceh turut melibatkan Pramuka SAKA POM untuk membantu kegiatan edukasi dan pengawasan pangan aman.

Kepala BBPOM Aceh Riyanto mengatakan keterbukaan informasi di instansinya tidak hanya dipahami sebagai kewajiban badan publik. Informasi yang disediakan juga diupayakan mudah ditemukan, dipahami dan digunakan masyarakat.

“Karena itu, kami terus memperkuat pelayanan PPID melalui digitalisasi, inovasi, kolaborasi, serta penyampaian informasi yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Riyanto.

Selain SANGER Ureueng Aceh, BBPOM Aceh memaparkan sejumlah inovasi lainnya kepada tim KIA. Di antaranya KORPORASI, JANET, ATM BPOM, SIGARANG, MALAHAYATI, E-JAMEE, AKU BPOM, BERSAMA UMKM dan KUIS PINTAR.

Untuk mendukung akses informasi secara digital, BBPOM Aceh juga menyediakan subsite aceh.pom.go.id serta aplikasi PPID BPOM Mobile. Informasi publik disampaikan melalui berbagai mekanisme, termasuk informasi berkala, informasi serta-merta dan daftar informasi publik.

Wakil Ketua KIA Sabri memberikan apresiasi terhadap upaya BBPOM Aceh dalam mengembangkan keterbukaan informasi melalui inovasi pelayanan dan berbagai saluran komunikasi. Ia menilai komitmen tersebut perlu terus dipertahankan.

Komisioner KIA Vicky Bastianda juga berharap inovasi yang telah berjalan dapat dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi badan publik lainnya, termasuk satuan kerja perangkat Aceh maupun instansi vertikal.

Sementara Tenaga Ahli Monev KIP 2026 Nasir Nurdin menilai penggunaan unsur lokal dalam sejumlah program BBPOM Aceh menjadi nilai tersendiri dalam membangun komunikasi dengan masyarakat.

Ia mencontohkan penggunaan nama MALAHAYATI, E-JAMEE, SANGER Ureueng Aceh dan SIGARANG yang dinilai menunjukkan kreativitas dalam mengemas informasi agar lebih dekat dengan masyarakat.

“Tim kreatif BBPOM Aceh sangat inovatif. Ini menjadi sesuatu yang menarik dalam membangun komunikasi dengan masyarakat,” kata Nasir Nurdin.

Dalam visitasi tersebut, KIA juga menilai hubungan BBPOM Aceh dengan media turut membantu memperluas jangkauan informasi kepada publik. Penyebaran informasi melalui berbagai kanal dinilai penting agar pesan terkait obat dan makanan dapat diterima masyarakat secara lebih luas.

Komisioner KIA M. Nasir mengatakan keterbukaan informasi pada dasarnya berkaitan dengan dua hal, yakni hak masyarakat untuk memperoleh informasi dan kewajiban badan publik dalam menyediakan informasi yang dapat diakses sesuai ketentuan.

Ia juga mendorong BBPOM Aceh meningkatkan penyampaian informasi secara proaktif, antara lain dengan mengembangkan sistem pemberitahuan untuk informasi berkala maupun informasi serta-merta. Penyusunan buku saku mengenai informasi yang dikecualikan juga menjadi salah satu masukan.

Riyanto mengatakan masukan dari KIA akan menjadi bahan evaluasi bagi BBPOM Aceh. Penguatan kapasitas SDM PPID, digitalisasi pelayanan, penyediaan fasilitas yang inklusif serta pengembangan kolaborasi dan inovasi menjadi bagian dari strategi yang akan terus dikembangkan.

“Kami berharap masukan dari Komisi Informasi Aceh dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus penguatan bagi BBPOM Aceh untuk menghadirkan keterbukaan informasi yang semakin transparan, inklusif, responsif dan mudah diakses,” ujarnya.[CSA]

0 Komentar