Keuchik Diminta Jadi Ujung Tombak Deteksi Dini Gangguan Kamtibmas di Banda Aceh

Foto | Wakil Wali Kota Banda Aceh Afdhal Khalilullah membuka Sosialisasi dan Deklarasi Komitmen Para Keuchik dalam Mewujudkan Kamtibmas yang Aman, Tertib, dan Kondusif di Balai Keurukon, Senin (28/9/2026).(dok.AGN)

Banda Aceh.AGN – Pemerintah Kota Banda Aceh meminta para keuchik lebih aktif membaca persoalan sosial yang berkembang di lingkungan gampong masing-masing. Kedekatan aparatur gampong dengan masyarakat dinilai menjadi modal penting untuk mendeteksi potensi gangguan keamanan dan ketertiban sejak awal.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Banda Aceh, Afdhal Khalilullah, saat membuka Sosialisasi dan Deklarasi Komitmen Para Keuchik dalam Mewujudkan Kamtibmas yang Aman, Tertib, dan Kondusif di Kota Banda Aceh, Senin (28/9/2026).

Menurut Afdhal, berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat tidak dapat ditangani hanya mengandalkan pemerintah maupun aparat keamanan. Informasi dari tingkat gampong diperlukan agar setiap persoalan dapat diketahui dan ditindaklanjuti sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Ia meminta keuchik bersama aparatur gampong membangun komunikasi aktif dengan warga serta memperkuat koordinasi dengan unsur keamanan. Setiap perkembangan yang berpotensi mengganggu ketenteraman masyarakat diharapkan segera disampaikan kepada pihak terkait.

“Tidak mungkin kami mampu menyelesaikan permasalahan sendiri tanpa bantuan bapak dan ibu sekalian,” ujar Afdhal.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam menjaga kamtibmas di Banda Aceh adalah peredaran narkoba. Afdhal menyebut berdasarkan informasi dari Polresta Banda Aceh, hingga Mei 2026 tercatat 38 kasus narkoba dengan 57 tersangka di wilayah kota tersebut.

Data itu, kata dia, menunjukkan bahwa persoalan narkoba masih membutuhkan perhatian lintas sektor. Terlebih, dampaknya juga berpotensi menyasar generasi muda sehingga langkah pencegahan tidak cukup dilakukan setelah kasus terjadi.

“Penting bagi kita mencari solusi bersama. Kita perlu memperkuat sinergi antara seluruh unsur yang ada di setiap gampong,” katanya.

Afdhal menilai keuchik memiliki posisi yang cukup strategis dalam upaya tersebut karena berinteraksi langsung dengan masyarakat. Kondisi sosial, persoalan keluarga, maupun perubahan yang terjadi di lingkungan gampong dapat lebih cepat diketahui melalui komunikasi yang terbangun antara aparatur dan warga.

Karena itu, ia mendorong para keuchik tidak menutup diri ketika menemukan persoalan di wilayahnya. Pelaporan dan komunikasi sejak dini dinilai dapat membantu pemerintah menentukan langkah penanganan secara lebih cepat dan sesuai dengan kondisi yang dihadapi.

Meski demikian, Afdhal mengingatkan agar penanganan persoalan masyarakat tetap mengedepankan cara-cara yang humanis. Komunikasi dan pembinaan perlu menjadi bagian dari pendekatan sebelum mengambil langkah penanganan lebih lanjut.

“Pemerintah kota akan terus turun ke lapangan untuk mendengar langsung persoalan yang dihadapi masyarakat. Dari sana kita bisa melihat masalahnya bersama-sama dan mencari solusi yang terbaik,” ujarnya.

Sebagai ibu kota Provinsi Aceh, Banda Aceh memiliki posisi yang strategis dan perkembangan situasi di kota ini ikut menjadi perhatian. Karena itu, menurut Afdhal, suasana yang aman dan tertib harus dibangun melalui keterlibatan pemerintah, aparat keamanan, aparatur gampong serta masyarakat.

Ia berharap deklarasi yang dilakukan para keuchik tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Komitmen tersebut diharapkan diterapkan dalam bentuk koordinasi yang lebih aktif, kepedulian terhadap kondisi warga dan respons terhadap berbagai persoalan yang muncul di tingkat gampong.

“Tanpa bantuan para keuchik dan seluruh perangkat gampong yang ada, kami tidak yakin berbagai permasalahan di Kota Banda Aceh dapat kami selesaikan dengan baik,” ungkapnya.

Kegiatan di Balai Keurukon itu turut dihadiri Kabinda Aceh, Dandim 0101/Kota Banda Aceh, Kapolresta Banda Aceh, Kepala Kejaksaan Negeri Banda Aceh, para asisten, staf ahli, kepala OPD, camat serta para keuchik se-Kota Banda Aceh.

Melalui penguatan komunikasi dari tingkat gampong, Pemko Banda Aceh berharap berbagai potensi gangguan kamtibmas dapat dikenali lebih awal. Dengan demikian, upaya menjaga keamanan kota tidak hanya bertumpu pada aparat, tetapi menjadi kerja bersama seluruh unsur masyarakat.[CSA]

0 Komentar