
Foto | Sejumlah mobil travel menunggu wisatawan di kawasan Pelabuhan Balohan, Sabang.(dok.AGN)
Sabang.AGN – Bagi wisatawan yang baru tiba di Pelabuhan Balohan, perjalanan menikmati Pulau Weh biasanya dimulai dari sebuah kendaraan travel. Setelah turun dari kapal, mereka akan disambut deretan mobil yang telah menunggu untuk mengantar menuju berbagai destinasi di Kota Sabang.
Di balik kemudi kendaraan itu, ada sopir yang hampir setiap hari menyusuri jalanan Pulau Weh. Mereka membawa wisatawan menuju Iboih, Tugu Kilometer Nol Indonesia, Anoi Itam, hingga sejumlah lokasi lain yang menjadi tujuan liburan.
Bagi wisatawan, jasa tersebut mungkin hanya digunakan selama satu atau dua hari. Namun bagi sopir travel, mengantar tamu menjadi pekerjaan yang dijalani berulang-ulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menjadi bagian dari aktivitas pariwisata Sabang.
Salah seorang pemilik mobil rental di Sabang, Zulfikar, mengatakan aktivitas biasanya sudah dimulai sebelum kapal pertama dari Banda Aceh tiba. Kendaraan harus dipastikan dalam kondisi siap, mulai dari kebersihan kabin hingga bahan bakar dan kondisi ban, Senin (21/9/2026).
Persiapan tersebut menjadi bagian penting karena kendaraan menjadi salah satu hal yang pertama kali dirasakan wisatawan setelah tiba di Sabang. Kenyamanan selama perjalanan juga menjadi perhatian, mengingat sebagian besar tamu akan menghabiskan waktu berjam-jam berkeliling Pulau Weh.
Pekerjaan sopir travel pun tidak berhenti pada urusan mengemudikan kendaraan. Selama perjalanan, mereka kerap menjadi tempat wisatawan bertanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan Sabang.
Informasi mengenai lokasi kuliner, tempat menikmati pemandangan, waktu yang tepat berkunjung ke sebuah objek wisata hingga kondisi jalan sering ditanyakan penumpang. Pengalaman selama bertahun-tahun membuat sebagian sopir cukup mengenal karakter setiap kawasan yang mereka lewati.
Ada wisatawan yang ingin langsung menuju tempat tujuan. Ada pula yang meminta berhenti di sejumlah lokasi untuk mengambil gambar. Sebagian lainnya lebih senang berbincang dan mendengar cerita mengenai Sabang. Perbedaan karakter tersebut membuat sopir harus mampu menyesuaikan pelayanan dengan kebutuhan penumpang.
Kondisi jalan dan cuaca juga menjadi bagian dari tantangan pekerjaan. Sejumlah ruas jalan di Pulau Weh berada di kawasan perbukitan dan memiliki tikungan. Ketika hujan turun, sopir harus mengurangi kecepatan dan meningkatkan kewaspadaan karena kondisi jalan serta jarak pandang dapat berubah.
Di sisi lain, aktivitas mereka sangat bergantung pada kunjungan wisatawan. Saat musim liburan, kendaraan travel bisa lebih banyak digunakan. Namun ketika kunjungan sepi atau cuaca mengganggu perjalanan laut, sopir harus menghadapi kondisi berbeda karena jumlah penumpang ikut berkurang.
Situasi tersebut membuat pekerjaan sebagai sopir travel membutuhkan kesabaran. Mereka terkadang harus menunggu cukup lama di sekitar pelabuhan hingga mendapatkan penumpang berikutnya.
Meski begitu, ada kepuasan tersendiri ketika wisatawan merasa nyaman selama berada di Sabang. Cerita dari penumpang yang mengaku menikmati perjalanan atau berencana kembali bersama keluarga menjadi salah satu pengalaman yang membuat pekerjaan tersebut tetap dijalani, unkap Zilfikar.
Bagi para sopir travel, setiap perjalanan juga menjadi kesempatan memperkenalkan Sabang dengan cara sederhana. Bukan melalui promosi resmi, melainkan lewat keramahan, informasi yang diberikan dan pelayanan selama membawa wisatawan berkeliling Pulau Weh.
Karena itu, ketika sebuah mobil travel bergerak meninggalkan Pelabuhan Balohan, yang dibawa bukan hanya wisatawan dan barang bawaan mereka. Ada pula harapan agar perjalanan tersebut meninggalkan kesan baik tentang Sabang, sehingga tamu yang datang hari ini memiliki alasan untuk kembali di kemudian hari.[DIKK]
0 Komentar