Jurnalisme di Era AI, Insan Media Terus Beradaptasi

Foto | Ketua Panitia Pelaksana Pelatihan Artificial Intelligence dan Jurnalisme, Muhammad Saman, menyampaikan sambutan dalam kegiatan pelatihan di Banda Aceh.(dok.AGN)

Banda Aceh.AGN – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai membawa perubahan besar terhadap pola kerja insan pers. 

Perubahan tersebut menuntut jurnalis dan pengelola media untuk terus belajar agar mampu memanfaatkan teknologi secara tepat tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik.

Hal itu disampaikan Ketua Panitia Pelaksana Pelatihan Artificial Intelligence dan Jurnalisme, Muhammad Saman, dalam kegiatan pelatihan yang diikuti sekitar 60 peserta, Sabtu (5/9/2026).

Muhammad Saman mengatakan, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para peserta untuk memperoleh pengetahuan mengenai perkembangan teknologi, khususnya pemanfaatan AI dalam mendukung kerja-kerja media dan jurnalistik di era digital.

Menurutnya, dunia jurnalistik saat ini telah mengalami transformasi dibandingkan pola kerja media pada masa sebelumnya. Perubahan itu terlihat dari perangkat dan teknologi yang digunakan jurnalis dalam menjalankan tugas sehari-hari.

"Kalau dulu kita bekerja menggunakan laptop, sekarang dengan handphone kita sudah bisa melakukan banyak pekerjaan dengan cepat," kata Muhammad Saman dalam sambutannya.

Ia menyebut perkembangan tersebut menjadi bagian dari perubahan besar dalam ekosistem media. Karena itu, insan pers tidak cukup hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga perlu memahami bagaimana teknologi tersebut digunakan secara bijak dan sesuai kebutuhan jurnalistik.

Muhammad Saman menuturkan, pelatihan yang digelar tersebut diharapkan dapat menjadi tambahan ilmu bagi para peserta dalam menghadapi tantangan kerja media ke depan. Terlebih, penggunaan AI kini semakin berkembang dan mulai menyentuh berbagai tahapan dalam produksi informasi.

"Ini menjadi suatu ilmu yang nantinya bisa kita gunakan, bagaimana kerja-kerja media dan jurnalisme ke depan. Kita perlu terus belajar seiring dengan pemanfaatan kecerdasan buatan ini," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kemudahan teknologi harus diikuti dengan kemampuan untuk memahami pemanfaatannya. Menurutnya, kehadiran AI tidak semestinya dipandang hanya sebagai alat untuk mempercepat pekerjaan, tetapi juga perlu dipahami dari sisi fungsi, manfaat dan batas penggunaannya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta terdiri dari unsur pemilik media, serta ketua dan pengurus SMSI kabupaten/kota. Kehadiran para peserta dari berbagai daerah itu diharapkan dapat memperkuat semangat bersama untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalitas pengelola media di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat.

Muhammad Saman berharap pelatihan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi benar-benar memberikan bekal yang dapat diterapkan dalam aktivitas jurnalistik. Dengan pemahaman yang baik, teknologi AI diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kerja media sekaligus meningkatkan kualitas informasi yang disampaikan kepada masyarakat.[DIKK]

0 Komentar